![]() |
Gunung Lokon. |
Tidak banyak yang mengetahui kalau Kakaskasen (sekarang empat
kelurahan di kecamatan Tomohon Utara) baru bergabung dengan Tomohon awal abad
ke-20. Tepatnya mulai tanggal 8 Oktober 1909.
Sebelumnya Kakaskasen bersama Kinilow (kini dua kelurahan),
Tinoor (dua kelurahan), Kayawu, dan Wailan masuk wilayah pemerintahan Distrik
Kakaskasen yang beribukotakan Lotta (di Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa sekarang).
Kepala distrik terakhirnya adalah Hukum Besar Robert Johan Pelenkahu berkedudukan
di Lotta, dan Hukum Kedua berkantor di Kakaskasen Lodewijk Wenas (ayah
Ds.A.Z.R.Wenas).
Kakaskasen sendiri merupakan ibukota awal distrik tersebut,
dan menjadi asal mula dari para pionir pendiri negeri-negeri yang saat ini
menjadi Kecamatan Pineleng, Mandolang, bahkan negeri-negeri awal di Kota Manado.
Tidak heran, meski kemudian ibukota berpindah di Kali dan Lotta, nama distrik
tetap memakai Kakaskasen.
Negeri-negeri lain bekas Distrik Kakaskasen ketika itu,
Tateli, Kali, Koha, Koka, dan Warembungan digabung ke Distrik Manado dan Tombariri.
Nama Kakaskasen sudah dikenal dan dipakai sejak dulu kala. Catatan
tertua tentang Kakaskasen adalah dari laporan padri Fransiskan (Ordo Fratrum Minorum,
OFM) asal Spanyol, Pater Blas Palomino. Pada bulan April tahun 1619 ia datang
berkunjung di Kakaskasen, bersama Kapten Francisco Melendeo dan Juan de Baras.
Negeri Kakaskasen dicatatnya sebagai Cascasse.
Sementara Gubernur Maluku dari Kompeni Belanda (VOC) Dr.Robertus Padtbrugge mencatatnya di tahun 1682 sebagai Cascas atau Cascasse, sebuah negeri Tombulu yang berpenduduk 100 awu atau sekitar 500 jiwa.
Sementara Gubernur Maluku dari Kompeni Belanda (VOC) Dr.Robertus Padtbrugge mencatatnya di tahun 1682 sebagai Cascas atau Cascasse, sebuah negeri Tombulu yang berpenduduk 100 awu atau sekitar 500 jiwa.
Kakaskasen tidak terpisahkan dari konsentrasi, tumbuh kembang
dan penyebaran suku Tombulu di Tomohon, Sarongsong, Tombariri, Manado bahkan di
Tonsea. Legenda dan tradisi Tombulu banyak mengaitkan asal mula dan
keberadaan leluhur pertama Minahasa dari kawasan Kakaskasen.
Tidak berlebihan Zendeling dan penulis Belanda masyur
Nicolaas Graafland berpendapat kalau penghuni Tombulu yang pertama datang ke
Minahasa. Pendapatnya ini didasarkan kalau ‘’agama’’ Tombulu lebih sempurna dan
lebih tersusun baik dari pada suku-suku lain. Seperti memiliki foso-foso
beragam yang tidak dimiliki suku lain, atau paling tidak tak selengkap dan
sekaya milik Tombulu. Berikut, simpulnya, legenda berasal Tombulu sangat
melimpah dan banyak menghubungkan dengan tempat yang ada di wilayahnya. Begitu
pun nyanyian Tombulu lebih banyak serta lebih indah, dan juga bahasanya lebih
berkembang dan lebih asli dari suku lain.
Dalam kisah-kisah tua Tomohon dan Tombulu, disebutkan manusia
pertama Karema dan Lumimuut (serta Toar) telah bermukim di Tuur in Tana’
di antara 3 gunung: Lokon, Kasehe dan Tatawiran [1].
Tuur in Tana ini, menurut sejarawan Tomohon Ibrahim Palit
berada di atas hulu sungai Makalesung yang bermuara di Tanawangko, yakni di
tempat yang banyak ditumbuhi pohon mahwatu.
Napak tilas leluhur Minahasa di Kakaskasen diawali di mata air Wailan, lalu di
dataran dekat mata air Kelong di kaki gunung Mahawu, mata air Lembuyan, batu Pasuwengan
dan dekat sebatang pohon Kinilow.
Jejak-jejak leluhur Minahasa di kawasan yang sekarang masuk
Kota Tomohon ini, dicatat pula oleh penulis barat lain Dr.Johan Gerhard Friedrich
Riedel. Putra-putra Toar-Lumimuut dari kalangan Makatelu-Pitu banyak berdiam di
bagian Kakaskasen, Tomohon dan Sarongsong sebelum pembagian Minahasa di Watu
Pinawetengan. Antara lain Penghulu Pinontoan bersama istrinya Ambilingan dan
enam anaknya di puncak Gunung Lokon, serta Rumengan beserta istrinya Katiwiei dan
enam anaknya di Gunung Rumengan.
Nama Kinaskas, yang menjadi asal nama Kakaskasen, diperkirakan
telah muncul sejak awal. Salah satu legenda mengisahkan ketika Pinontoan, yang
dikenal sebagai penguasa Lokon berselisih paham dengan kakaknya Rumengan
penguasa Mahawu. Kediamannya telah dirusakkan, seperti dicakari oleh Rumengan.
![]() |
Patung Pinontoan, penguasa Lokon di Kayawu. |
Selain
cerita dicakar Rumengan, legenda lain berangkat dari masa pemerintahan Makiohlor,
ketika Makiohlor mengapak kayu dengan kapak emasnya yang lepas dan dicarinya.
Padahal terlempar ke lokasi yang sekarang disebut Pinati (berarti kapak)
di Kamasi Tomohon.
Versi
hampir bersamaan, mata kapak yang lepas hilang di semak ilalang dan daun tebal
dan tembus ke dalam tanah. Si penebang (di sini tanpa nama) mengorek-ngorek
daun tersebut dengan menggaruknya, sampai timbul mata air sehingga dinamai
Kinaskas.
Graafland
sendiri memberi sebuah versi bahwa seorang Walian tua dari negeri Wanua Wangko
(dimaksudnya Tomohon) menyuruh budaknya pergi ke Gunung Lokon untuk menebang
kayu untuk rumahnya. Sementara mereka melakukannya, terlepaslah kapak dari
tangannya lalu menghilang ke arah tenggara Gunung Lokon, yang kemudian menjadi
sungai besar dan dinamai Kakaskasen (dicakar). Baru kemudian didirikan sebuah
negeri di tepi sungai yang diberi nama sama.
Masih ada versi lain. Karena mata air ini telah dicakari
oleh bebek angsa. Sementara diceritakan juga, nama Kakaskasen diambil dari
arti cakaran ayam, yang telah para pendirinya lepaskan di tempat itu untuk
melihat ayam itu akan memberi tanda, dimana negeri akan didirikan, setelah sebelumnya
tempat itu telah ditentukan.
Keluarga besar Tombulu setelah pembagian di Watu Pinawetengan
(ada memperkirakan terjadi abad ke-8 Masehi, bahkan abad ke-13), dipimpin oleh
Tonaas Mapumpun, Belu yang disebut juga Welum (Belung), Kakakanan atau
Kekekeman (Kakemang) membangun pemukiman di lokasi bernama Meiesu (bermakna
balik kembali atau pulang).
Meiesu menjadi salah satu dari tiga pemukiman besar Minahasa, disamping Niaranan dari Tonsea dan Tumaratas dari Tontemboan. Meiesu banyak dikaitkan dengan Tuur in Tana’ sendiri dan disebut berada di Wawa un Lokon atau di dekat pohon Kinilow yang telah dirintis leluhur awal Minahasa. Identitas Kakaskasen kemungkinan kuat telah digunakan sejak masa itu.
Meiesu menjadi salah satu dari tiga pemukiman besar Minahasa, disamping Niaranan dari Tonsea dan Tumaratas dari Tontemboan. Meiesu banyak dikaitkan dengan Tuur in Tana’ sendiri dan disebut berada di Wawa un Lokon atau di dekat pohon Kinilow yang telah dirintis leluhur awal Minahasa. Identitas Kakaskasen kemungkinan kuat telah digunakan sejak masa itu.
Orang Tombulu di Meiesu tidak lepas dari ‘amarah’ Gunung
Lokon, berjangkitnya wabah penyakit seperti sampar, kolera dan cacar, serta konflik
dan kemudian peperangan.
PARA
KOLANO
Menurut Riedel, di masa pemerintahan tokoh bernama Pukul [2], penduduk Tombulu di Meiesu
pindah di lokasi yang kemudian bernama Kinilow tua. Kejadian mana menurut
pendapat lain baru berlangsung di masa cucunya bernama Lumoindong (Sumoindong
atau disebut juga Lumongdong, ada tradisi mencatatnya sebagai anak Pukul). Saat
itu terjadi letusan hebat Gunung Lokon, membinasakan negerinya, berakibat
penduduk pindah di Kinilow tua, lokasi yang sekarang bernama Nimawanua.
Masa pemerintahan Lumoindong ini suku Tombulu mulai bercerai
berai. Saudaranya Tumbelwoto mendirikan Sarongsong di Tulau. Kaawoan saudara
lainnya mendirikan Tombariri dan Mokoagow mendirikan Tomohon di Saru.
Versi lain, pecahnya Tombulu di Meiesu baru terjadi di masa
pemerintahan Makiohlor atau Makiohloz atau Makiolos atau juga Makiolol atau
disebut pula Ohlor atau Oolor [3].
Pada periode pemerintahannya, berlangsung peperangan dengan
Tompaso dan dengan Kamasi. Perang dengan Kamasi terjadi gara-gara wanita cantik
bernama Ringking Bulawan dilarikan pemuda Kainde. Riedel menyebut sumber
peperangan itu disebabkan Makiohlor sendiri yang melarikan Ringking ke Kinilow
berakibat tunangannya Kainde yang menjadi sobat Makiohlor dibunuh pengikut
Makiohlor [4].
Dari legenda, suatu hari ketika Makiohlor sedang berburu, negeri
diserang musuh, dan dibakar, sehingga Kinilow tua tinggal puing-puing bara.
Makiohlor memimpin sisa pengikutnya membangun pemukiman baru di lokasi Kinilow
sekarang [5].
Anak cucu Makiohlor yakni Sirang, Mumek, Impal, Mawoho dan
Kokali, keluar dan mendirikan Kali. Dari Kali, Lolong (Ruruares) mendirikan
Ares di Manado.
Sebagian lagi dengan dipimpin oleh Tonaas Ruru yang datang
dari Kali, mendirikan
pemukiman Kakaskasen di tempat yang dinamai Nawalei. Lokasi
diduga Nimawanua pertama Kakaskasen yang menyambung dengan Nimawale (Nimawanua)
Kinilow, dimana lokasi waruganya sekarang berada (masuk Kakaskasen Satu) [6].
Meski demikian ada versi, kalau pendirian Kakaskasen oleh
Ruru ini sudah terjadi di lokasi yang sekarang berada di selatan Biara Karmel
dan Seminari Menengah Kakaskasen (Tiga) yang juga disebut Nimawanua atau
Nimawale. Riedel sendiri berpendapat hal ini baru terjadi ketika pemerintahan
Tikonuwu dan Tuera.
![]() |
Nimawanua dan satu waruga tertimbun. |
Masa Ruru di Kakaskasen, Riedel juga mencatat terjadi perang Sinalahan. Istri Ruru yakni Rihim putri kepala Sinalahan bernama Narai lari kembali ke rumah ibu-bapanya. Narai marah dan menantang perang yang kemudian berlangsung di sebelah utara Danau Tondano. Teterusan Kakasasen bernama Longkai ditangkap dan dibuang ke jurang air terjun Tonsea Lama. Perang yang berlarut ini baru berakhir ketika Tampih dan Remuh, anak-anak Ruru mendamaikan.
Para kepala Tombulu di negeri-negeri pecahan di bagian utara
mengakui kepemimpinan kepala di Kakaskasen, nama yang resmi digunakan untuk
pakasaan (kemudian menjadi Balak dan terakhir Distrik) sejak tercerai-berainya
Tombulu di Meiesu. Sebab di masa berikutnya hanya nama Kakaskasen yang kelak
tercatatkan di berbagai laporan serta dokumen, meski ibukota sudah di Lotta. Sebutan
pemimpin di Kakaskasen umumnya adalah Kolano atau Kalawwiti atau Akha
um Wanua.
Ibukota Kakaskasen telah berpindah di Kali di masa
kepemimpinan Bungkar (Wungkar atau Wongkar) yang ditemui Padri Blas Palomino
tahun 1619 dan disebutnya sebagai ‘raja’ yang masih beragama alifuru, sedang
Kali merupakan ibukota provinsi yang besar dan makmur [7]. Dimana-mana Palomino diterima dengan ramah,
tapi ajarannya dilarang oleh para kepala, terutama walian-walian.
Usaha Spanyol menseranikan penduduk Kakaskasen mulai
berhasil ketika tahun 1639 Bruder Fransisko de Alkala (bawahan Padri Tomohon Yuan
Yranzo) berdiam di Kali. Ia digantikan padri Fransiskan asal Navarre Spanyol
bernama Lorenzo Garralda yang berhasil membaptis banyak penduduk namun
kemudian menjadi martir.
Riedel mencatat wanita Lingkanbene yang diperistri pemimpin
Spanyol, dan putranya bernama Mainalo diusul ibunya dan Spanyol menjadi Kolano
seluruh orang Minahasa. Tentu saja tidak diterima [8].
Perang pengusiran Spanyol terjadi tanggal 10 Agustus 1644.
Balas dendam yang dilakukan armada di bawah Bartolomeo de Soisa menyebabkan
Kali hancur. Maka ibukota Pakasaan Kakaskasen kembali pulang di Kakaskasen.
Sejumlah
pahlawan Kakaskasen terkenal dalam perang pengusiran terhadap Spanyol dan
kemudian dalam perang dengan Bolaang yang dipimpin Raja Loloda Mokoagow.
Pahlawan-pahlawan tersebut adalah Tonaas Tombokan, Rumondor, Wongkar Sayow
dan Worung atau Worang.
Kepala Kakaskasan berikutnya adalah Lontaan,yang dianggap
menjadi Kepala Balak Kakaskasen pertama. Lontaan bersama dengan Supit, Lontoh
dan Paat menjadi duta-duta Minahasa untuk mengundang Kompeni Belanda (VOC) di
Ternate membantu mengusir Spanyol di tahun 1654. Ia diduga yang meneken kontrak
politik tanggal 10 Januari 1679 (ada versi telah dijabat Kalalo) [9] dengan Gubernur Robertus
Padtbrugge. Mengatasnamakan Balak Kakaskasen [10].
![]() |
Waruga Kalalo. |
Ibukota Kakaskasen ketika itu sudah berada di Nimawanua Kakaskasen (Tiga sekarang), seperti tergambarkan pada peta masa itu.
Lihat peta masa Padtbrugge di tulisan Woloan Ibukota AwalTombariri.
Menurut budayawan Kakaskasen Paulus Abednedju Lenzun, negeri
Kakaskasen di Nimawanua ini sangat strategis karena dilindungi bambu runcing
ditanam, yang disebut Sura, dalam perbentengan parit-parit selebar 3
meter dan dalam 10 meter. Pemukimannya berada di bagian, utara, barat dan
sebagian timur, karena pemakaman waruga sebagian ada di tempat ini.
Kepala Balak Kakaskasen terkenal berikut adalah Hukum Majoor Tikonuwu.
Nama Tikonuwu tercatat yang bertanda atas nama Kakaskasen tanggal 10 September
1699 dalam Kontrak Minahasa-Belanda dimana
Belanda diwakili Kapitein Paulus de Brievings dan Onderkoopman Samuel Hattingh. Namanya dicatat Tikoeneeboe.
Kepala Kakaskasen masih di Nimawanua
berikutnya adalah Sulu (1700-1730) dan Hukum Majoor Pangkerego (ditulis
Panterejo) tahun 1728.
Penggantinya Parengkuan sejak tahun
1740 memindahkan ibukota Kakaskasen di Lotta berdekatan kota Manado [11]. Anaknya Mainalo Sangian Parengkuan memerintah 1760-1790, lalu
diganti Pangemanan. Kemudian Mainalo Sahiri Parengkuan yang beroleh gelar
Majoor memerintah sejak tahun 1800 hingga 1834.
Majoor Mainalo Sahiri Parengkuan ini
menjadi Kepala Kakaskasen yang telah meneken Kontrak 14 September 1810 dengan
Residen Inggris Thomas Nelson. Ia pun sempat bertemu di Manado dengan Predikant
Ambon Ds.Joseph Kam tahun 1817.
Penggantinya berturut sebagai kepala
distrik adalah anak-anaknya Alfrets Parengkuan (1834-1842), H.Parengkuan
(1842-1856), F.Parengkuan (1856-1862), serta W.L.Parengkuan (1862-1872). Dinasti
Parengkuan terakhir adalah Hukum Besar Paul Frederik Parengkuan (1872-1886)
dengan Hukum Kedua N.W.Wakkary berkedudukan di Kakaskasen.
Distrik Kakaskasen kemudian diperintah Hukum Besar Nicolaas Willem Wakkary (22 Desember 1886-Januari 1896)
dengan Hukum Kedua W.Walangitang. Hukum Besar Willem Walangitang (18 Januari
1896-Juli 1901) dengan Hukum Kedua H.J.Lumanauw. Hukum Besar Willem Albert
Ticoalu (4 Agustus 1901-November 1903), dan Hukum Besar Frederik Andries (11
November 1903-April 1905) dengan Hukum Kedua R.J.Pelenkahu. Paling akhir
Hukum Besar Robert Johan Pelenkahu hingga Distrik Kakaskasen dihapus Oktober
1909. ***
---
[1].Lokon menurut
Graafland berarti tempat kediaman para dewa, kasendukan. Lokon
bersama-sama puncak-puncak yang mengarah ke pantai, Tatawiran dan Kesehe
disebut Se Lokon Telu, ketiga Lokon itu, tempat yang bermakna sakral
dan sangat dihormati.
[2].Pukul menurut
Ibrahim Palit adalah turunan (cicit) Muntuuntu, cucu Pinontoan, dan anak dari
Akhaimbanua dengan Kareghehan (Karegesan). Ia peristri Suanen dan peroleh
putra Raroseempung (kawini Raumpatola), serta jadi kakek dari Lumongdong
(mengawini Rumesak).
[3].Dalam silsilah
sejumlah keluarga tua Tomohon, Makiohloz disebut mengawini Salea, putri Untu
dan Rekesan (cucu Tambariri dan Arus), dan memperoleh anak dari Salea bernama
Wowor yang mengawini Resina.
[4].Paulus Lenzun mengklaim
peristiwa Makiohlor dan perpindahan dari Kinilow tua ke Kinaskas Nimawanua
baru terjadi belasan tahun kemudian sesudah letusan gunung Lokon tahun 1771, di
akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Sejarah Kinilow pernah mengambil tolok
ukur dari Makiohlor versi ini.
[5].Legenda Makiohlor
menyebut kadera goyang ni kolano miliknya yang terbuat dari emas
menghilang sepeninggalnya. Sebuah kisah menyebut kematiannya cukup tragis. Ia
konon gusar dengan akrabnya Sarongsong dan Tombariri, juga karena putri
pemimpin Sarongsong bernama Raumanen dijadikan istri Teterusan Tontemboan
bernama Makaindeeng. Ia serang Sarongsong dan larikan Raumanen ke Kinilow
dijadikan istrinya. Sarongsong dibantu Tontemboan serang dan bakar Kinilow.
Makiohlor dibunuh Makaindeeng.
[6].Tonaas Ruru dianggap
sebagai pendiri Nimawanua ini. Nama lainnya adalah Rurughala, disebut sebagai
anak Mangambow dan Re’kes, serta cicit Manarongsong dan Winenean. Ia sering
disalahtafsirkan sebagai identik dengan Dotu Lolong Lasut alias Ruruares.
Waruga Ruru sendiri sekarang dipercayai berada di dekat kantor Kelurahan
Kakaskasen Satu.
[7].Bungkar atau Wungkar
ada mengganggapnya identik dengan Tonaas Worang yang waruganya ada di negeri
tua Kakaskasen (sebelum dipindah), sehingga muncul persepsi kalau dia
sebenarnya berdiam di Kakaskasen, bukan di Kali.
[8].Menurut H.M.Taulu,
Mainalo adalah putra Petor (kepala daerah Spanyol di Minahasa) dengan
Wawu Lingkanbene dari Kakaskasen. Setelah didesak para padri yang terhambat
usaha misinya, Gubernur Spanyol di Manila, tahun 1630 mengusulkan untuk
mengangkat Mainalo sebagai raja Minahasa, sedang istrinya Rinerutan, juga
seorang peranakan sebagai permaisuri.
[9].Kalalo, menurut
Ibrahim Palit, adalah anak Lumi dari istri ketiga bernama Likirzan. Kalalo
mengawini Lenewan, Layawan dan Rusung, memperoleh anak dinamai Sulu
(Sulu’tu’a) yang memperistri Suey. Anak-anak Sulu dan Suey adalah Sulu’ oki
(kawini Sorot), Tolang dan Lingkaywulan (dikawini Tumbelwoto).
[10].Lontaan, menurut
Palit juga, sebagai anak Paat, mengawini Wuo’ dan memperoleh anak bernama
Rumajar.
[11].Lenzun mengisahkan,
pemimpin dari Kinaskas, Kinilow, Lota dan Kali mengadakan pertemuan untuk
membicarakan Pakasaan (Balak) mereka. Lalu untuk mempermudah hubungan dengan
Belanda, rapat menetapkan Parengkuan sebagai Kepala Balak Kakaskasen berkedudukan
di Lotta.
·
Sumber
foto: Jootje Umboh dan Didi Sigar.
·
Sumber
tulisan: buku ‘’Tomohon Kotaku’’ 2006, naskah ‘’Tomohon Dulu dan Kini’’; buku
Dr.J.F.G.Riedel‘’Inilah Pintu Gerbang Pengetahuwan itu’’ 1862, buku Ibrahim
Palit ‘’Sejarah Manusia Pertama Minahasa’’ 1980, buku Nicolaas Graafland
(terjemahan Yoost Kullit), ‘’Minahasa Masa Lalu dan Masa Kini’’ 1987, serta
buku H.M.Taulu’’Sebingkah Sejarah Perang Minahasa-Spanjol’’ 1966.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.