Tampilkan postingan dengan label Woloan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Woloan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Juni 2019

Jemaat dan Sekolah GMIM Woloan





Gereja Protestan Woloan 10 Januari 1929.



Memang, banyak bukti pendiri Jemaat GMIM Woloan dan juga sekolahnya adalah Nicolaas Graafland.

Dari buku induk baptisan, Zendeling-leeraar (guru zendeling) Nicolaas Graafland melakukan pembaptisan pertama terhadap 18 penduduk Woloan tanggal 14 Oktober 1860. Kemudian juga, ia mendirikan sekolah Genootschap (NZG=de Nederlandsh Zendeling Genootschap) Woloan tahun 1861 dengan dipimpin guru N.Rambi, asal Kiawa Kawangkoan, lulusan Kweekschool Tanawangko, sekolah yang dipimpinnya.

Ini pun diperjelas dalam buku-buku tentang karya Zending di Tanah Minahasa. Umpama dalam Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap, elfde jaargang, terbitan M.Wyt&Zonen tahun 1867. Di halaman 176 tentang Jemaat (Gemeenten) dan sekolah dalam pengasuhan Zendeling Nicolaas Graafland disebutkan bahwa Jemaat Woloan berdiri tahun 1860, dengan pendiri adalah Nicolaas Graafland sendiri. Graafland juga dicatat sebagai pendiri Jemaat Senduk tahun 1861, Jemaat Lemoh tahun 1866, dan Jemaat Koha tahun 1865.


Jemaat lain yang ketika itu masuk pelayanan Graafland, seperti Jemaat Taratara didirikan tahun 1851 oleh Rudolf Bossert, Jemaat Lolah didirikan 1848 oleh Pandita Nicolaas Philip Wilken. Wilken pun mendirikan Jemaat Tateli tahun 1848. Sedangkan Jemaat Munte masuk Distrik Sonder, tapi dilayani Graafland, berdiri tahun 1851 oleh Zendeling Karl Traugott Hermann.

SUDAH ADA

Namun, ada yang mengganjal. Empat buku lain yang terkenal justru mengungkap kalau Jemaat Woloan, begitu pun sekolah Genootschap Woloan telah berdiri dan ada di tahun 1840-an.

Buku pertama adalah Reis door den Indischen Archipel, karya Ds.L(eonard) J(ohannes) van Rhijn, Inspektur NZG yang melakukan inspeksi di Minahasa (dan juga di seluruh daerah pelayanan NZG di Indonesia lainnya), yang terbit tahun 1847.


Ds.L.J.van Rhijn.

Di halaman 382 bukunya, Ds.L.J.van Rhijn mengungkap kalau pada pagi hari Sabtu tanggal 10 April 1847 (jadi, lebih 13 tahun sebelum pembaptisan oleh Graafland), dari Tomohon, ia menyempatkan diri berkunjung ke Sekolah dan Jemaat kecil Kristen (kleine Christen-gemeenten) di Woloan dan Tara-Tara (ditulisnya Tarataran).

Tulisannya seperti dibawah ini:


Sehari kemudian, yakni pada hari Minggu tanggal 11 April 1847, di gereja Tomohon, van Rhijn melakukan pembaptisan Kepala Distrik Sarongsong Majooor Waworuntu, yang memakai nama serani Herman Carl Wawo-Roentoe. Herman Carl Wawo-Roentoe, dicatat sebagai tokoh pemerintahan tertinggi di Tomohon sekarang yang pertama bersedia dibaptis Kristen Protestan.

Buku kedua yang makin memperjelas bahwa Jemaat dan Sekolah Genootschap (kini SD GMIM 1) Woloan telah ada sebelumnya, adalah karya Dr.Pieter Bleeker, Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel, eerste deel, yang diterbitkan di Batavia oleh Lange &Co tahun 1856.

Dr.Bleeker saat itu mengikuti rombongan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Mr.A.J.Duymaer van Twist berkunjung di Keresidenan Manado.

Ia mencatat di halaman 119 kondisi Sekolah Genootschap Woloan tahun 1853 dan 1854. Woloan atau menurutnya Doloan berada di Distrik Tombariri.

Tahun 1853 murid sekolahnya sebanyak 95 orang, namun yang muncul (setiap hari) hanya 50 orang.
Lalu di tahun 1854, jumlah murid dicatatnya sebanyak 120 orang, namun yang hadir bersekolah hanya 76 orang.

Sayang, Dr.Bleeker tidak mencatat siapa nama gurunya, atau pun nama Zendeling pengawasnya. Begitu pun, ia tidak mencatat penduduk Woloan (juga umumnya penduduk negeri lain di Distrik Tombariri, baik yang sudah masuk Kristen atau pun masih kafir (heidenan), seperti negeri lainnya di Minahasa. 

Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap (Tijdschrift voor Zendingwetenschap) terbitan tahun 1857 memberi angka berbeda dari statistik Bleeker. Namun dapat dipastikan lebih akurat karena menjadi jurnal resmi NZG yang menjadi pengelola langsung sekolah-sekolah Genootschap di Minahasa.

Statistik Mededeelingen NZG ini mencatat di tahun 1852 total murid sekolah di Woloan 95 orang, tapi yang selalu hadir 60. Tahun 1853 total 111 yang hadir 80. Tahun 1854 total 120 (hadir 76). Tahun 1855 total 140 (hadir 84),  dan tahun 1856 total 138 (hadir 56).
 
Buku keempat adalah de Moluksche Eilanden, Reis van Z.E.der Gouverneur General Charles Ferdinand Pahud door der Molukschen Archipel, karya Petrus van der Crab, terbitan Batavia Lange&Co tahun 1862.

Van der Crab yang kelak menjadi Residen Manado ini mencatat Inlandsche Christen Genootchaapscholen (sekolah Genootschaap) di Woloan pada ultimo Desember 1860, memiliki sebanyak 136 siswa, dengan murid yang muncul sehari-hari 95 orang (banding catatan bahwa sekolah GMIM Woloan baru didirikan Graafland tahun 1861). 



Jadi, boleh dipastikan Jemaat Protestan Woloan pertama (termasuk sekolahnya) sebenarnya sudah ada sebelum tahun 1860.

Namun, anggota jemaat awal ini bukan dibaptis langsung di Woloan, seperti dilakukan Graafland di tanggal 14 Oktober 1860 tersebut. Tapi besar kemungkinan di Tanawangko tempat kedudukan zendeling pekerja wilayahnya, atau pula dari Tomohon yang berdekatan.

GURU RAMBI

Dari arsip yang ditemukan, kondisi Jemaat dan Sekolah NZG Woloan banyak dicatat di masa kepemimpinan N.Rambi (famnya dicatat sebagai Rambij) yang bertindak sebagai guru sekaligus pemimpin Jemaat Woloan pertama, sebab pendeta berkedudukan di Tanawangko. Guru-guru pengganti berikutnya juga bertindak sebagai pemimpin jemaat Woloan, sampai ditempatkan penolong injil lulusan Sekolah Penolong Injil di Tomohon (kelak STOVIL).

Di buku Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap terbitan tahun 1867, diperinci pula kondisi Jemaat dan Sekolah di Tombariri, termasuk Woloan yang dipimpin Zendeling Nicolaas Graafland, sementara nama kepala distriknya ditulis J.Pareijra (nama lengkapnya Johannis Marcus Parera). Penduduk Woloan yang kafir (heidenan) masih lebih banyak dari yang telah masuk Kristen.

Statistik Woloan tahun 1866, mencatat sebagai berikut:
  • Pendiri: N.Graafland.
  • Hulp-zendeling: N.Graafland (yang sedang melayani).
  • Nama meester (guru): N.Rambij.
Kondisi Jemaat
Dibaptis (Gedoopten):
  • Pria: 33.
  • Wanita: 40.
  • Anak-anak: 4.
  • Total: 77.
Penduduk
  • Orang Kristen masih hadir (di gereja) 120.
  • Orang kafir (heidenen) 629.
  • Total penduduk 749 (orang).
Kondisi Sekolah
  • Anak laki-laki (jongens) tertulis 59.
  • Anak gadis (meisjes) tertulis 44.
  • Total 103.
  • Anak sekolah yang datang setiap hari 61.
  • (Sekolah atas nama Genootschap).
Kemudian pula, dari Meddedeelingen van wege het Nederlandsch Zendelinggenootschap, vertiende jaargang, terbitan M.Wyt&Zonen, Rotterdam tahun 1870, jumlah murid sekolah Genootschap Woloan dirincikan sebagai berikut:
  • Nama guru (onderwijzers) N.Rambij.
  • Onderwiens leiding (dibawah kepemimpinan): N.Graafland.
  • Jumlah anak laki-laki: 62.
  • Jumlah anak gadis: 41.
  • Total: 103.
  • Murid yang muncul: 40 orang.
Kondisi akhir Desember 1869.
  • Nama guru (onderwijzers) : N.Rambij.
  • Dibawah kepemimpinan: Zendeling-leeraar Nicolaas Graafland.
  • Jumlah anak laki-laki: 56.
  • Jumlah anak gadis: 29.
  • Total: 85.
  • Murid yang muncul: 20.

GURU LAIN

Bulan Desember 1871 kondisi Sekolah Woloan sebagai berikut:
  • Guru: D.Pangemanan (yang pindah dari Kumu-Arakan).
  • Murid:
  •  Laki-laki 61.
  •  Perempuan 32.
  • Total 93.
  • Yang datang (selalu hadir) 31.
Sepanjang tahun 1878 Woloan di bawah Nicolaas Graafland mencatatkan kemajuan dari evangelisasi yang dilakukan, yakni 37 orang dewasa dibaptis bersama 39 anak-anak. Total 76 orang, sementara yang disidi 1.

Bulan Desember 1879 kondisi sekolah
  • Penilik: Nicolaas Graafland.
  • Guru: E.Wagey (Pangemanan pindah di Kinilow).
  • Murid:
  • Laki-laki: 120.
  • Perempuan: 60.
  • Total: 180.
  • Yang hadir: 36. 

Statistik Jemaat tahun 1879 ini.
Zendeling: Jan Louwerier.
Dibaptis:
  • Orang dewasa: 24.
  • Anak-anak: 36.
  • Total: 60.
  • Sidi: tidak ada.
  • Dikawinkan: 4 pasangan. 
 Kondisi sekolah ultimo Desember 1879
  • Penilik: Jan Louwerier.
  • Guru: E.Wagey.
  • Murid:
  • Laki-laki: 98.
  • Perempuan: 38.
  • Total 136.
  • Hadir: 14.

Bulan Desember 1885, kondisi sekolah NZG Woloan
  • Penilik: Jan ten Hove.
  • Guru: J.Wehantouw.
  • Murid:
  • Laki-laki: 57.
  • Perempuan: 21.
  • Total 78.
Bulan Desember 1891 kondisi sekolah
  • Guru: J.Wehantouw.
  • Penilik: Zendeling Leeraar Nicolaas Graafland.
  • Murid:
  • Laki-laki 77.
  • Perempuan 30.
  • Total 107.
Kondisi Jemaat Desember 1891
  • Predikant (Hulpprediker): Eduard W.G.Graafland (anak Nicolaas Graafland).
  • Dibaptis:
  • Orang dewasa 5.
  • Anak-anak 48.
  • Total 53.
Tahun 1898 bulan Desember
Keadaan sekolah:
  • Guru:J.Wehantouw.
  • Penilik:Hulpprediker E.W.G.Graafland.
  • Murid:
  • Laki-laki 83.
  • Perempuan 53.
  • Total 136.
  • Yang hadir 85.
Tahun 1905 kondisi penduduk Woloan sesuai agamanya adalah:
  • Protestan 901 orang.
  • Katolik Roma 483.
  • Kafir (heidenen) 4.
Penolong Injil:S.Lantang. Lantang ikut melayani jemaat Tara-Tara dan Ranotongkor.
Jadi S.Lantang masih lebih dulu bertugas sebagai Inlandsch Leerar dari Z.Sumendap. Ketika itu pelayanan oleh NZG telah digantikan Indische Kerk, dimana zendeling menjadi Predikant atau Hulpprediker, sementara Penolong Injil menjadi Inlandsch Leeraar, yang digaji pemerintah kolonial.
Kondisi Jemaat Kristen 1905:
  • Dibaptis:
  • Orang dewasa 1.
  • Anak-anak 40.
  • Total 41.
  • Sidi: tidak ada.
  • Dikawinkan 6 pasangan.
Pendeta (Predikant atau Hulppredikker) Tanawangko Eduard W.G.Graafland lama melayani di Woloan (1889-1898). Kemudian digantikan C.J.L.Sluyk, hingga 16 Oktober 1903.

Dengan keputusan Gubernemen (pemerintah) Hindia-Belanda tanggal 6 Oktober 1903 nomor 33, Tara-Tara berstatus satu Resort menggabung bekas Resort Tanawangko hingga tahun 1934. Woloan masuk resot baru ini.

Mengisi kekosongan pendeta dan pelayanan, Woloan dan Ressort Tara-Tara dilayani sementara oleh Pendeta Tomohon, Amurang dan Maumbi, sampai tanggal 26 Desember 1904 bertugas pendeta resort baru J.G.de Haan hingga tahun 1911. Ketika pindah ke Ra­­­­­tahan, Ds.M.de Ko­­ning mengganti. Na­mun tidak lama ia pindah di Ma­um­bi kemudian To­mo­hon, sehingga se­­jak ta­­­hun 1911 ber­­tugas Pendeta Johannes Hendrik Duyverman hingga 1919, lalu Pdt H.G.Thiel. 

Pendeta Resort Tomohon Nicolaas Philip Wilken (1843-1878) dan penggantinya Jan Louwerier (1858-1909) ikut melayani di Woloan. Termasuk pengganti Louwerier Ds.Dr.Samuel Schoch (1910-1912). 

Ds.M.de Koning ketika memimpin Resort Tomohon telah melayani Woloan 1920 lalu Pdt.H.Groothuis 1920-1922 dan Pdt.Gustav Ferdinand  Schroder 1924.
 
Terakhir ditunjuk sebagai Pendeta Resort Tara-Tara yang melayani Woloan D.F. Bunte bertugas 1925-1927. Setelah terjadi kekosongan, pelayanan diisi ulang Pendeta Tomohon hingga tahun 1934 ketika Resort Tara-Tara digabung ke Klasis Tomohon.. ***

Woloan, 4 November 2013

Sumber foto: Bode Talumewo dan repro buku dimaksud.

Woloan, Ibukota Awal Tombariri










Waruga tua di Katingolan.




Woloan bermula bertempat di Katingolan atau disebut juga Katingelan, yang disebut
pula Tombariri. Penyebutan Katingolan atau Katingelan ditafsirkan sebagai celah
sempit yang kemudian melebar, atau tempat yang kecil di tengah. Memang letaknya
(kini Nimawanua), sangat strategis diapit jurang-jurang dalam di utara dan selatannya,
sehingga merupakan perbentengan yang alamiah.

Pintu gerbang masuknya adalah melalui bagian timurnya di celah selebar 5 meter yang
dipasangi jebakan jembatan bambu kimbok dan bambu-bambu runcing ditanam.
Kestrategisannya juga ditambahi oleh 5 sumber mata air penting di bagian utara yang
berjajar dari timur ke barat, yakni mata air Woloan, Sarapun, Manunumbeng, Walean
dan Walanda.

Sebelum di Katingolan, telah berdiri negeri awal yang disebut Tombariri. Pendirinya
adalah Tonaas Kaawoan atau Kauwan, saudara Kepala Kakaskasen bernama
Sumoindong (Lumoindong) serta Tumbelwoto yang mendirikan Tulau sebagai cikal
bakal Sarongsong ¹.

Kaawoan berangkat dari Kinilow tua (Meiesu, Meyesu) dengan rombongannya liwat
Tulau. Ia membangun negeri dinamai Tombariri di tempat yang sekarang dikenal
sebagai perkebunan bernama Tambariri, berdekatan Woloan, masuk kepolisian Lansot
Sarongsong.

Mereka tiba dan bermukim di lokasi mataair yang ditumbuhi rumput wariri. Itulah
sebabnya mereka menyebut diri Touwariri, lalu kemudian Tombariri. Namun, karena
lokasinya dirasa tidak strategis, beberapa waktu kemudian di bawah Lokon Mangundap, 
mereka pindah ke Katingolan, yang juga disebut dengan nama Tombariri, mengenang 
negeri awalnya.

Cerita tentang timbulnya istilah Tombariri bahkan telah ada jauh sebelum Tonaas
Tumbelwoto dan Kaawoan. Konon sebenarnya telah ada pemukiman purba. Pada
suatu hari ketika penduduk sedang mengerjakan Mapalus, datang angin topan, yang
menerbangkan mereka. Yang tertinggal hanya mereka yang sempat memegang rumput
wariri.

Versi lain mengatakan karena dari sinilah Dotu Siow Kurur, tokoh mitos yang jangkung
dan tunawicara ‘diterbangkan’ (meikalaur) ke Sangihe-Talaud (dan juga Mariri Poigar
Bolmong). Konon nama Siau dari namanya, dan Talaud dari peristiwa meikalaur itu.
Namun ada versi lain pula, kalau tokoh perintis pendirian Tombariri adalah Dotu
Tambariri, dengan mengambil namanya, di lokasi perkebunan Tambariri sekarang. 

Dari silsilahnya disebutkan Dotu Tambariri memperistri Arus. Keduanya memperoleh putri
bernama Rekesan yang disebut juga Wangke. Rekesan dari suami pertama bernama
Untu memperoleh anak wanita bernama Salea yang diperistri Tonaas Ohlor alias
Makiohloz, tokoh Kakaskasen terkenal.

Ketika Tonaas Kaawoan meninggal, Tombariri dihikayatkan diperintah oleh Tonaas
Pasiowan, dan dimasa itu pengayauan merajalela, sehingga diundang Tonaas Lokon
Mangundap dari Kakaskasen. Lelaki gagah berani ini bersama Kalelo, Aper, Karundeng, 
Kapalaan dan Posumah, berhasil memberantas para pengayau Zakian dan Zaziha yang
 merajalela di Mandolang (kini Buloh-Tateli Weru, Pineleng) ².

Dikisahkan, mereka mengalahkan para pengayau dengan membuat boneka kayu Wolo
menyaru rupa mereka. Saat malam, ketika ditusuk, senjata penyamun tidak dapat
ditarik kembali. Kemudian dari balik persembunyian mereka balas menyergap, lalu
memenggal kepala-kepala pengayau.

Lokon Mangundap segera menjadi Kepala Pakasaan Tombariri, kira-kira tahun 1500-an
di Katingolan (waruganya berada di negeri tua ini). Tombariri yang semula hanya
meliputi Katingolan dan sebelah selatan sungai Ranowangko hingga pantai barat liwat
pegunungan Manembo-nembo, ditambahinya dengan wilayah yang diambil Lokon
Mangundap dari Bantik (versi lain pemberian dari Kepala Kakaskasen sebagai hadiah),
yakni sebelah utara sungai Ranowangko, meliputi gugusan dari gunung-gunung: Lokon, 
Kasehe, Tatawiren hingga di tepi pantai sebelah barat.

Maka, segera dari Katingolan keluar keluarga-keluarga yang menyebar ke arah barat
dan membangun negeri baru. Begitu pun kawasan Tombariri ramai ditambahi oleh
pemukim Tombulu yang berdatangan dari Sarongsong, selain dari Kakaskasen.

Nama Woloan sebagai negeri Katingolan tercetus dimasa Lokon Mangundap ini. Konon
ketika pulang dari Mandolang, kepala Zakian dan Zaziha dibawa ke Katingolan untuk
dipamerkan. Tapi saat mereka singgah di mataair yang ada di bagian utara negeri dan
membuka daun pisang pembungkus kepala Zakian dan Zaziha, seluruh paras muka
mereka telah dipenuhi oleh mahreput atau kalumpang yang disebut Wolo atau Molon.
Maka, tempat itu dinamai Woloan, termasuk mataairnya ᵌ.

Tombariri-Woloan menjadi negeri maju di Minahasa ketika itu. Bulan April tahun 1619
Pater Blas Palomino dari Ordo Fransiskan bersama penulisnya P.Poega serta sejumlah
tentara Spanyol berkunjung ke Woloan-Katingolan dari arah Sarongsong. Negeri di
Katingolan ini ditulisnya sebagai Tombar.

Masa berikut, dari Tombariri muncul tokoh terkenal Supit. Ia dihadiskan bersama-sama
Lontoh Mandagi dari Sarongsong, Paat Kolano dari Tomohon serta Lontaan dari
Kakaskasen pergi ke Ternate tahun 1654 mengundang Belanda datang ke Minahasa
dan untuk mengusir Spanyol. 


Tiga Serangkai Supit-Lontoh-Paat.

Supit menjadi tokoh penting Minahasa, ikut meneken Kontrak Perjanjian (Verbond
Minahasa-Belanda tanggal 10 Januari 1679. Pihak Kompeni Belanda (VOC) sendiri 
diwakili Gubernur Maluku di Ternate Dr.Robertus Padtbrugge. Dalam kontrak tersebut 
namanya disebut sebagai Kapitein Pacat Supit (selengkapnya gelaran namanya adalah 
Pacat Supit Sahiri Macex). Gelaran Sahiri disandangnya karena ia menjadi saksi 
perjanjian bersejarah tersebut. Disamping itu arti sahiri adalah penengah atau penegak.

Sketsa lain Pacat Supit Sahiri Macex.

Supit kemudian menjadi Kepala Balak (Balk, atau sekarang lazim disebut Walak)
Tombariri dengan menggantikan ayah tirinya bernama Ombeng. Ia pun tahun 1689
memperoleh gelaran sebagai Hoofd Hoecums Majoor atau Kepala Hukum Majoor,
bersama-sama dengan Lontoh dan Paat. Sebagai penengah atau penghubung kepala
Minahasa lain dengan Belanda, sehingga sangat berkuasa dan ditakuti di Minahasa.
Kepala Balak Minahasa lain saat itu hanya bergelaran Hukum Majoor.

Bersama-sama dengan Lontoh dan Paat pula, Supit meneken Perjanjian tanggal 10
September 1699 dengan Residen Belanda di Manado Kapitein Paulus de Brevinghe.
Tombariri di Katingolan-Woloan di masa Supit menjadi negeri besar, kaya dan sangat
maju di Minahasa setelah Manado dan Tomohon. Dalam memori serahterima jabatan
Gubernur Robertus Padtbrugge tahun 1678, Tombariri (mengutip laporan dari
Opperhoofd atau Residen Manado Abraham Meyert), ditulis Tomberie, dan dicatat
berpenduduk sebanyak 400 awu, atau sekitar 2.000 jiwa.

Banding Balak Tomohon (ditulis Tomon) menyatu dengan Kamasi (Cormasje)
berpenduduk 800 awu (4.000 jiwa), ditambah Talete (Tontelette) 80 awu. Sarongsong
(ditulis Zeronson) berpenduduk 70 awu (350 jiwa), Kakaskasen (Cascasse) 100 awu
(500 jiwa).

Banding pula Tonsea baru berpenduduk 70 awu (350 jiwa), Aris (Ares) 100 awu (500
jiwa), Manado 40 awu (200 jiwa), Tombasian 80 awu (400 jiwa), Tondano 700 awu
(3.500 jiwa), Kakas 300 awu (1.500 jiwa), Langowan 250 awu (1.250 jiwa), Tongkimbut
(Kawangkoan dan Sonder) 700 awu (3.500 jiwa), Tompaso 70 awu (350 jiwa), serta
Rumoong 60 awu (300 jiwa).

Dari peta masa Gubernur Padtbrugge juga, tergambarkan negeri Balak Tomohon-
Kakaskasen dan Tombariri merupakan segitiga, yang dihubungkan jalan dari Manado.
Negeri Balak Tombariri dalam peta ini masih terkonsentrasi di Katingolan-Woloan, 
dan sama sekali tidak dilukiskan ada jalan lain ke arah pantai atau pun Tanawangko. Letak
Tombariri di Katingolan sangat dekat dengan Sarongsong yang masih berkedudukan di
negeri tuanya Tulau. Selain jalan ke Sarongsong, ada juga jalan langsung ke Tomohon
yang masih berkedudukan di negeri tua Nimawanua (sekarang Kolongan), serta ke
Kakaskasen, masih di negeri tuanya Nawanua (di Kakaskasen III sekarang).

Negeri-negeri lain di Balak Tombariri tidak disebutkan, mungkin karena tidak dikunjungi, 
tapi, kemungkinan besar pula karena belum berdiri. Nama Tanawangko pun belum (tak) 
ada dalam peta ini.

Peta Masa Padtbrugge.

Supit Sahiri adalah seorang petualang. Dari perkawinannya dengan putri-putri Tondano 
bernama Riri dan Wair, maka dia otomatis juga menjadi Kepala Balak Tondano tahun 
1710-1730. Dari Riri, Supit memperoleh anak bernama Nulu yang dikawini Rambek, dan 
kelak menurunkan kepala-kepala di Tondano, seperti Jacob Supit.

Supit Sahiri pun menjadi menantu Kepala Balak Ares (sekarang masuk Manado).
Menurut kisah, istri Supit dari Ares bernama Suanen, putri Kepala Ares Lolong (versi
lain istri Kepala Balak Ares bernama Rumondor). Supit bila turne ke Manado selalu
singgah di rumah Kepala Ares. Suanen jatuh cinta padanya dan dalam kesempatan
acara panen petik padi baru (konon ajang perkawinan masa itu), ia menyanyi
menyatakan perasaan cintanya. Keduanya menjadi suami-istri, dan memperoleh anak
bernama Tololiu Supit yang kelak menjadi Kepala Balak Ares. Suanen menjadi istri
ketiga Supit, tinggal dan mati di Ares.

Istri pertama Supit Sahiri adalah Laya dari Kamasi Tomohon, yang memberinya anak
bernama Rondonuwu yang kelak menjadi Kepala Balak Tomohon. Sementara istri
keduanya adalah Woki Konda. Woki Konda dikisahkan merupakan putri Kepala Balak
Pasanbangko (Ratahan) Watuseke. Ketika terjadi penghukuman terhadap
Pasanbangko yang masih berupeti kepada Raja Bolaang (Mongondow), meski
wilayahnya telah resmi masuk Minahasa, Supit dikirim Kompeni Belanda untuk
menundukkan dengan kekerasan senjata (versi resmi, ia sekedar mendampingi
Komandan Benteng Amsterdam Manado Sersan Herman Smith pada bulan Februari
1682 menyerang untuk menghukum Ratahan, Pasan, Ponosakan dan Tonsawang).

Dikisahkan, Kepala Balak Pasanbangko sangat takut, dan mengirim putrinya yang
cantik bernama Woki Konda untuk menyambut. Melihatnya, Supit segera jatuh cinta
dan mengawininya. Namun, ketika Laya, istri pertama Supit mendengar kejadian itu, ia
mengancam akan merobek-robek (kesee’en) mulut Woki Konda. Supit yang takut
menyembunyikan Woki Konda di ibukotanya Katingolan.

Dari Woki Konda (waruganya berada di negeri tua Lolah, tapi, dipercayai dan menurut
orang Lolah sebagai putri asal Lolah), Supit memperoleh anak bernama Mongi dan
Tinangon yang kelak menggantikannya menjadi Kepala Balak Tombariri berturut-turut.
Selain itu, dikisahkan Supit mempunyai selir di setiap tempat. Dia adalah tokoh
berkarisma, dan dimana-mana bila berkunjung selalu disambut seperti raja, dihadiahi
budak-budak (ata), dan harta, serta selalu ditandu. Dia pun dituturkan punya penyakit
rematik, yakni supi’, yang dikisah tercetus dari jenis sakit dan namanya sendiri.

Dengan sepak-terjangnya, Supit dilaporkan menjadi mabuk kekuasaan, semena-mena
dan suka memeras kepala Minahasa lain, sehingga kemudian kekuasaannya sebagai
perantara dicopot oleh Kompeni Belanda pada tanggal 12 Januari 1711. Supit tinggal
menjadi Kepala Balak Tombariri dan Tondano biasa, sampai mangkat bulan Maret 1738.

Kuburnya dalam waruga dibangun di Katingolan Woloan (kini berada di Woloan II di
depan gedung gereja GMIM ‘Eben Haezar’, dipindah dari Katingolan tahun 1845).

Penguburannya di tahun 1738 itu menimbulkan kericuhan, disebabkan hampir setiap
negeri yang merasa berkepentingan, seperti Balak Tomohon, Tondano dan Ares
menginginkan agar mayatnya dikubur di negerinya. Menurut kisah, Supit wafat di
Tomohon, dan awalnya dikubur di Kamasi, negeri istri pertamanya Laya, lalu di’curi’
orang Tombariri dimakamkan ulang di Katingolan. Ada versi pula, ia dimakamkan
sementara di Kayawu, sebelum dipindahkan ke Katingolan. Lalu versi lain ia mangkat di
Sonder, baru dibawa ke Katingolan 4.


Waruga Supit sekarang.

Memerintah Balak Tombariri, Pacat Supit Sahiri diganti tahun 1738 oleh anaknya dari
Woki Konda, yakni Mongi yang mendapatkan gelar Hukum Majoor dari Kompeni
Belanda. Masa Majoor Mongi ini, ibukota Balak Tombariri dipindahkannya dari
Katingolan ke Lolah (tua).

Menyusul, Mongi diganti oleh adiknya Tinangon sebagai Hukum Majoor Tombariri. Dari 
negeri Lolah (tua), tahun 1793 Belanda memindahkan ibukota Balak Tombariri ke
Tanawangko, setelah sebelumnya Tinangon melakukan perlawanan gara-gara
permintaannya agar dibuat jalan dari Tomohon tidak dipenuhi.

Tinangon merajuk dengan memerintahkan penduduk mempersenjatai diri dan
memperkuat benteng buluh tui yang mengelilingi Lolah tua (kini masih ada sisa-sisanya).


Waruga Majoor Tinangon.

Tapi, Belanda menyiasati penduduk Lolah dengan menembakkan meriam
yang sengaja telah ditaruh uang ringgit. Tentu saja buluh-buluh tui ditebang penduduk
yang mencari uang ringgit-ringgit itu.

Majoor Tinangon diganti sebagai Kepala Balak Tombariri di Tanawangko oleh
Rengkung, putra Mongi yang bermantukan Majoor Herman Carl Waworuntu, Kepala 
Balak Sarongsong. Di masa berikut terkenal Majoor Jacob Mantilen Supit van Tanawangko 
(dibaptis jadi Kristen tahun 1782 oleh Pdt.Johan Rubens Adams) yang lebih terkenal sebagai 
Kepala Balak Tondano tahun 1810 seusai Perang Minahasa di Tondano. Ia merupakan 
anak Mamenkou dengan Tindin, serta keturunan Supit Sahiri dari istri Tondano bernama Riri .

Kepala Balak Tombariri di masanya adalah Poluakan (ditulis Poelowakan) yang meneken 
kontrak politik tanggal 14 September 1810 dengan Residen Inggris Thomas Nelson. Jacob 
Supit sendiri mewakili Balak Tondano.

Berikutnya Kepala Balak (kemudian Distrik) Tombariri telah berkedudukan di Tanawangko 
adalah Majoor Tumurang Andries (dibaptis Pdt.Josephus Kam tahun 1817). Lalu berturut-
turut diganti dua anaknya, yakni Majoor Poleali Hermanus Andries, Majoor Montoh Marcus 
Andries. Berikutnya Majoor Johannes Andries (1840-1857), Majoor Samuel Andries (1857-
1867), Majoor Johannis Marcus Parera (1867- 1895), Hukum Besar Jan J.Manoppo (1895-
1901), Majoor Willem Walangitang (1901-1909), Hukum Besar A.Dengah (1909-1914), dan 
terakhir Hukum Besar Paul Alexander Ratulangi hingga tahun 1920 ketika Distrik 
Tombariri disatukan ke Distrik Tomohon. ***

——–
1.Tumbelwoto pun disebut sebagai pendiri negeri Lolah serta Ranotongkor di Tombariri.
2.Menurut Dr.J.F.G.Riedel, mereka adalah Lokon Mangundap, Kaleleh, Aper, Karundeng, Kapongoan, Karumboh dan Posumah. Ada versi mereka pindah dari Maiesu, karena tidak 
menyetujui kepemimpinan Tonaas Makiohlos, setelah terjadi kebakaran hebat di Maiesu.
3.Kisah lain Lokon Mangundap dan kawan-kawannya yang terkena penyakit Wolo. Tangan 
dan badan mereka sembuh ketika mandi di mataair Woloan. Asal nama Woloan pun 
dikaitkan dari jenis pohon Wolo yang tumbuh di mataair itu. Wolo pun ada menafsir sebagai 
tempat berkumpul untuk menyusun rencana kembali, dikaitkan kisah penghancuran Wanua 
Wangko (Tanawangko, ada menyebutnya sebagai Tomohon) oleh Laksamana Spanyol 
Bartolomeo de Soisa tahun 1651. Tak ada data pasti kapan nama Woloan mulai dipakai 
untuk menyebut negerinya, namun diduga telah dimulai setelah pemindahan ibukota Tombariri 
ke Lolah.
4.Tulisan dalam bahasa Melayu tua dengan huruf kapital pada waruga Supit Sahiri Macex di 
Woloan berbunyi: ‘’Inilah Coubur:Der:Hocom Majo:r:Soupit:Ter:D:B: M:S:1738.’’
  • Sumber gambar dan foto: Bode Talumewo/Matulandi Supit, Didi Sigar dan Rudy Kojongian.
  • Sumber tulisan:Buku ‘Riwayatmu Tomohon’ 1986 dan ‘Tomohon Kotaku’, 2006.