Tampilkan postingan dengan label Lahendong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lahendong. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Agustus 2019

Tamu-tamu Linow



Danau Linow tahun 1894.




Danau Linow di Kelurahan Lahendong adalah destinasi wisata andal dari Kota Tomohon. Danau seluas 1 Km2 (data lain 35 hektar), dengan titik terpanjang 860 meter dan terlebar diperkirakan 565 meter ini, adalah bekas sebuah kepundan gunung berapi yang telah meletus ribuan tahun silam.

Buktinya pula adalah kawah-kawah di kelilingnya, dengan luas keseluruhan di Lahendong 20 hektar. Belum yang berada di kepolisian Kelurahan Tondangow di dekatnya. Untung, tenaga panas buminya dengan radius mencapai hingga Kasuratan dan Tampusu telah dimanfaatkan untuk sistem pembangkit tenaga listrik.

Danau Linow mempesona karena memiliki keunikan khas yang tiada duanya. Warna airnya yang serba aneka karena aksi vulkanik. Ada tiga warna, yakni putih, biru dan kemerahan (lazuardi), seperti pendapat ahli. Namun, penduduk di Lahendong dan Tondangow, mempercayai warna airnya mencapai sampai 12 jenis.

Kemudian yang hanya ada di danau ini pula adalah jenis ikan air tawar yang tidak akan dijumpai di danau lain. Ikan komo dan sayok. Komo dulu dipanen penduduk Lahendong dan Tondangow empat kali dalam setahun. Sangat enak digoreng perkedel atau di woku. Ikan khas ini nanti bermetamorfosa menjadi capung. Sayok sendiri terdiri dua rupa, sayok potot (karena pendek) dan sayok lambot (panjang).

Selain dua jenis ikan ini, ada pula ikan-ikan khas lumolintik, sombor dan limunes yang sampai tahun 1980-an masih biasa dijala penduduk Tondangow.

Danau Linow pun menjadi habitat dari itik danau, burung belibis dan bangau putih. Pemandangan yang diamati dan dilihat oleh Dr.W.R Baron van Hoevell di tahun 1855.

Selain itu, ada ikan kabos (gabus), yang asal muasalnya di danau dikaitkan dengan legenda danaunya. Konon, danau tersebut mendapatkan namanya dari wanita cantik bernama Makalinow atau disebut pula Kalinowan, istri dari Dotu Telew, yang dalam cerita-cerita rakyat setempat dianggap penguasa Danau Linow.

Makalinow telah hilang di danau, dan menjelma menjadi ikan kabos yang apabila menampakkan diri, konon, dengan panjang dari ujung ke ujung danau. Usai penampakannya, akan muncul hama tikus, kemudian penduduk akan mendapat panen kabos berlimpah.

Hilangnya Makalinow di danau dikaitkan pula dengan ulah Dotu Telew yang suka menimbulkan angin puting-beliung, sehingga menakutkan Makalinow, menyesatkannya dan kemudian tenggelam.

Memang, danau yang uniknya memiliki suhu air normal ini, kadang-kadang memunculkan angin memusing. Dan, itu dikisah karena sang Telew lagi marah besar. 

Zendeling Nicolaas Graafland memberi versi lain, bahwa nama Danau Linow berasal dari kata leno yang berarti jernih atau terang, sesuai dengan kondisinya.

TEMPO DULU
Sampai sekarang Lahendong dengan Danau Linow serta kawah-kawah belerengnya telah menarik banyak pengunjung. Bekas Kaisar Jepang Akihito ketika masih sebagai putera mahkota pernah berkunjung di sini.

Ketika itu, Pemerintah Kabupaten Minahasa, saat Tomohon masih salah satu kecamatannya, sempat berencana membangun resor mandi uap panas yang ditujukan khusus untuk wisatawan Jepang. Tapi, tidak pernah terwujud.

Namun, bukan baru sekarang pesona danau kawah belerang ini menarik pendatang.

Dimulai oleh Graaf Carlo Vidua de Conzano 16 Agustus 1830 yang berujung kematiannya. Hampir semua penulis atau peneliti, bahkan pejabat Belanda termasuk dari bangsa Eropa lain yang datang berkunjung di Manado, selalu menyempatkan diri mendatangi danau unik dan kawahnya.

               BACA: Graaf Carlo Vidua, Korban Kawah Linow.
                            Mengenal Sejarah Lahendong.

Penulis A.F.van Spreuweenberg mengunjunginya awal Agustus 1842. Ia mencatat enam spesies ikan di danau. Kabos, getegete, sayok, lumulontik, komo dan belut. Juga bebek dan burung air lainnya. 

Datang pula Inspektur NZG Ds.L.J.van Rhijn bulan April 1847. Ds.Dr.Steven Adriaan Buddingh awal Juni 1854 dan penulis serta anggota parlemen Belanda Dr.Wolter Robert Baron van Hoevell tahun 1855.

Penulis dan wartawan Inggris William Henry Davenport Adams datang tahun 1879. Tak kalah terkenal naturalis Sarasin bersaudara (Paul dan Fritz) dari Swiss mendokumentasikannya tahun 1894.

Kebanyakan penulis ini bukan sekedar berkunjung biasa. Mereka meninggalkan catatan di saat mendatanginya.

Dari kalangan pejabat Belanda tempo dulu tidak terhitung lagi. Tercatat ada dua orang Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, penguasa tertinggi Belanda di Indonesia, pernah berkunjung. Pertama kali adalah Mr.A.J.Duijmaer van Twist tanggal 16 September 1855. Kemudian Charles Ferdinand Pahud pada 12 Januari 1861.

Tamu terkenal lain adalah Putera Mahkota Belgia bersama istrinya. Tanggal 15 Februari 1929, Pangeran Leopold dengan istrinya Putri Rethy (Putri Astrid dari Swedia) mengunjungi mata air belerang di dekatnya.

Di sini, Pangeran Leopold telah membeli sejumlah kupu-kupu dan serangga seharga 120 gulden Belanda untuk koleksi Museum di Brussel.

Pangeran Leopold telah naik tahta Belgia, dengan nama Raja Leopold III. Dua putra mereka kemudian menggantikan. Raja Baudoin dan Raja Albert II. ***


-----------

·         foto: Sarasin Bersaudara, koleksi Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin.
·         Sumber tulisan: Buku ‘’Riwayatmu Tomohon’’ 1986, buku ‘’Tomohon Kotaku’’ 2006, naskah ‘Tomohon Dulu dan Kini’’; dan Delpher Kranten.

Kamis, 08 Agustus 2019

Graaf Carlo Vidua, Korban Kawah Linow






Kolam tempat peringatan Graaf Vidua jatuh.






Graaf Carlo Vidua de Conzano atau Charles Vidua Comte de Conzano, adalah naturalis besar dunia. Ada penulis terkenal menyamakannya sebagai Alexander von Humboldt yang kedua. Lelaki yang selalu haus akan pengetahuan yang tak terungkapkan, dan untuk memenuhi hasratnya itu telah berkelana di empat benua. Hasratnya itu juga telah membawanya ke tempat yang ketika itu masih dianggap sebagai pelosok terpencil, Lahendong, di Kota Tomohon sekarang.

Di Lahendong ini, hampir seratus delapan puluh sembilan tahun silam, ia celaka. Jatuh masuk kolam mendidih yang mengantarnya ke akhir hidupnya.

Kolam tempat kejadian terletak di tepi sungai Lahendong (Zanorangdang) yang ada di pinggir Danau Linow, hanya berdiameter sekitar 30 kaki (1 kaki=30 sentimeter). Namun, itu adalah kolam belerang menggelegak. Sumber mata air mendidih, dengan asap panas membubung naik. Segala sesuatu di sekitarnya, digambarkan para saksi mata, seakan tampak seperti sedang memasak.

Derajat panas kolamnya, 140 derajat Fahrenheit.

Biografi sarjana yang sangat ingin tahu, berbakat dan memiliki semangat menggelora akan sains ini ditulis oleh penulis terkenal di atas, Ds.Leonard Johannes van Rhijn, Inspektur dari NZG tahun 1847. Juga Cesare Balbo, sahabat Graaf Vidua tahun 1843.

Graaf Carlo Vidua de (atau di) Conzano (banyak penulis Belanda menulis Consana) adalah bangsawan keturunan keluarga tertua dan terkuat di Piedmont Sardinia. Lahir di Casale de Monstseerat tanggal 28 Februari 1785.

Graaf Vidua memulai petualangan keliling dunia tahun 1818. Ia melakukan perjalanan dari Italia, Perancis, dan Inggris. Lalu berbelok ke utara. Ke tempat paling ekstrim Lapland di Finlandia. Dari sana dia pergi ke Rusia. Dari ibukotanya, masih di St.Petersburg, menuju Moskow, ke stepa dari Kalmuk. Kemudian, ke semenanjung Krimea, dan menuju Konstantinopel (sekarang Istanbul di Turki), Asia Kecil serta Mesir.

Di Mesir, ia meneliti dan mengumpulkan banyak koleksi. Museum Mesir yang kaya di kota Turin Italia adalah ciptaannya.

Dari Mesir ia mengunjungi Jerusalem, Palmira dan semua tempat menakjubkan di Tanah Suci. Kemudian pergi ke Junani.

Tahun 1821 ia kembali melintasi Perancis selatan ke tanah kelahirannya.

Namun, apa yang telah dihasilkannya tidak cukup baginya. Ia ingin melihat dan menjelajahi Amerika, sebelum mengikat diri di tanah airnya.

Tahun 1825 Graaf Vidua melakukan perjalanan ke Amerika Serikat. Mengumpulkan banyak buku, dan didorong rasa ingin tahu ia pergi ke Meksiko, dan bersiap pergi ke Peru di Amerika Selatan serta merencanakan pelayaran melintasi Samudera Selatan yang besar ke Hindia Timur.

Rencananya tertunda ketika mendapat kabar penyakit ayahnya gawat, sehingga ia bergegas kembali ke Eropa. Tapi, baru saja mendarat di Bordeaux, ketika diberitahu ayahnya telah pulih.

Segera, Graaf Vidua memutuskan pergi ke Hindia Timur. Tanggal 17 November 1827 ia tiba di Kalkuta, lalu berlayar di sungai Gangga ke kaki Himalaya. Perjalanannya berlanjut ke Singapura lalu Manila.

Bulan Januari 1829 di Kanton Tiongkok, dan 18 Juli 1829 ia melangkahkan kaki di Jakarta (masih Batavia).

Pulau Jawa yang luar biasa serta keramahan orang Belanda yang dialaminya membuatnya tinggal lebih lama dari yang ia rencanakan.

Dengan rekomendasi Letnan Gubernur Jenderal Hendrik Merkus de Kock, ia pergi dengan kapal ke Maluku pada 13 Maret 1830, mengambil bagian dalam ekspedisi ke Papua. Dari Ambon Juli ia berangkat ke Manado dengan kapal perang sekunar Iris, dan tiba di Kema Minahasa tanggal 5 Agustus.

Di Manado ia menjadi tamu terhormat dari Residen Mr.Daniel Francois Willem Pietermaat. Graaf Vidua tinggal selama tiga hari, kemudian pergi ke pedalaman Minahasa tanggal 11. Ia datang ke Tomohon, Tondano, Kakas, Langowan dan tanggal 15 di Sonder.

Terakhir, tanggal 16 Agustus 1830 dari Sonder Graaf Vidua dengan berkuda ditemani dokter Keresidenan Manado H.Straus datang ke Lahendong.

NASIHAT WAWORUNTU
Pemandangan alam danau belerang Linow telah menghipnotisnya. Menurut Prof. G.Lauts, dengan sebuah perahu kecil dari pohon yang dilubangi yang lebih banyak dinavigasikannya sendiri di danau, ia datang ke medan berbukit yang dikelilingi kesegaran menghijau. Tetapi, di tengah sumur lumpur belerang yang mendidih, dengan air di mana-mana melambung setinggi 2 hingga 3 meter, ia tenggelam di dalamnya. Membakar kaki kanannya hingga ke atas lutut.

P.C.Molhuyzen dan P.J.Blok  menggambarkan ia memberanikan diri terlalu dekat dengan tepi salah satu kawah, tenggelam dan kaki kanannya terbakar di atas lutut. Ini menjadi awal dari penderitaan yang mengantarnya ke kematian.

Ds.van Rhijn menyebut tragedi itu karena didorong oleh rasa ingin tahu, sehingga Graaf Vidua ingin mencobai ke dalamnya. Ia segera tenggelam di dalamnya, dan membakar dirinya dengan sangat.

Dr.W.R.Baron van Hoevell menambahkan, ia tidak mengindahkan lagi peringatan mendesak dari pengantarnya Majoor Kepala Distrik Sarongsong (Waworuntu, kelak tahun 1847 dibaptis Kristen bernama Herman Carl Wawo-Roentoe).

Graaf Vidua diberi pertolongan pertama oleh dokter Straus, dan diangkut ke Lahendong. 

Residen Pietermaat dalam laporannya mengisahkan ia menyertai pula Graaf Vidua dalam perjalanan itu. Pada siang hari Graaf Vidua datang ke danau, dan terlepas dari peringatan dokter Straus dan Kepala Distrik (Waworuntu), ia melangkah dan tenggelam di lumpur kolam mendidih. Graaf Vidua dibawa Pietermaat ke Manado dan dirawat dokter Straus sampai akhir bulan.  

Graaf Vidua ingin pergi ke Ternate, dan masih dengan kapal Iris berangkat ke Ternate 30 Agustus.

Di Ternate ia beristirahat 3 bulan di rumah Residen Johan Alexander Neijs. Kendati kondisinya tidak menguntungkan, ia masih bekerja keras membuat catatan.

Kemudian ia ingin ke Ambon, seakan merasa kematiannya akan tiba. Melawan nasihat dokter dan tuan rumahnya, tanggal 12 Desember dengan kapal swasta ia berlayar ke sana.

Catatan terakhirnya dibuat tanggal 24 Desember. Dan, di pagi hari tanggal 25 Desember 1830, tepat hari Natal, dengan usia hampir 45 tahun, ia meninggal di Teluk Ambon.

Graaf Vidua dikuburkan di Ambon. 

Tahun 1832 atas permintaan ayahnya, tulang-tulangnya dibawa ke Turin, dan dimakamkan ulang di kapel kastil keluarganya di St.Moritz.

Kelak, lokasi di tepi sungai kolam mata air mendidih tempat Graaf Vidua jatuh telah dibuat tempat sebagai tanda peringatannya. Ketika Dr.Wolter Robert Baron van Hoevell berkunjung di tahun 1854 dengan diantar Hukum Tua Lahendong, di lokasi itu hanya terdapat sebuah sabuah. Ia pergi ke kolam tersebut dan sangat ngeri membayangkan derita yang dialami Graaf Vidua.


Rasa ngeri Baron van Hoevell semakin jadi setelah ia melakukan eksperimen dengan mengambil kapur dan bongkahan besar belerang dari kolam tersebut menggunakan bambu. ‘’Kami tidak bisa mengendalikan panasnya, dan kami bisa membayangkan apa yang harus dideritanya ketika tenggelam ke dalam lautan api ini,’’ tulis Baron van Hoevell.  

Graaf Vidua membuat buku harian, tapi, sayangnya telah hilang dengan sebagian besar catatannya. Namun, surat-suratnya telah dikumpulkan sahabatnya Cesare Balbo dan diterbitkan di Turin, dalam 3 volume tahun 1834.  ***




----------
·         Lukisan pensil Carl Benjamin Hermann von Rosenberg 1863, koleksi Royal Institute of Linguistics and Anthropology di Leiden.
·         Sumber tulisan: Reis door den Indischen Archipel, 1849 oleh Ds.L.J.van Rhijn. Vie de Charles Vidua Comte de Conzano, 1843 oleh Cesare Balbo. Tijdschrift voor Nederlandsch Indie, 1856 oleh Dr.W.R.van Hoevell. Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, deel 5 oleh P.C.Molhuysen dan P.J.Blok; Geschiedenis der Nederlanders in Indie, 1866 oleh Prof.G.Lauts serta naskah ‘’Tomohon Dulu dan Kini’’.

Jumat, 02 Agustus 2019

Mengenal Sejarah Lahendong




Ruas jalan di Lahendong.





Kelurahan Lahendong di Kecamatan Tomohon Selatan memiliki pesona tersendiri, dengan danau aneka warna Linow serta kawah-kawah belerang. Pesona yang telah mengundang naturalis Italia terkenal Graaf Carlo Vidua de Conzana, beberapa Gubernur Jenderal, putera mahkota kerajaan Eropa, para peneliti bahkan belakangan ini banyak wisatawan.

Tak kalah menarik adalah sejarahnya karena masih banyak misterinya.

Dari legenda-legenda tua, di jaman purba, disebut Siow Kurur sebelum bertempat tinggal di Pinaras pernah bermukim pula di sini. Kemudian dotu Repi, Lumolinding dan Telew bersama istrinya bernama Makalinow yang dikisah menghilang di danau yang kemudian mencetuskan nama Linow untuk danaunya

Dotu Telew (terbang), dinamai pula Sumariei atau Sumaliei atau pula Sumaringsing, dihikayatkan sebagai penguasa Danau Linow dan Bukit Talangkow. Dari penuturan, ia kadangkala menimbulkan angin memusing yang membingungkan di danau atau menyesatkan para pengembara.

Para dotu tersebut bermukim di tempat yang disebut Rano Lahendong, di sekitar sungai kecil Lahendong yang bermuara di Danau Linow. Sungai sepanjang kurang lebih 5,25 kilometer ini disebut pula Ranorangdang (Zanorangdang, atau pula Ranoraindang), karena airnya berwarna merah, menjadi salah satu anak sungai Nimanga.

Ini pun berangkat dari kisah di pertengahan tahun 1600-an ketika terjadi perang pengusiran Spanyol dari Minahasa. Sejarawan Minahasa H.M.Taulu mengungkap di lokasi sungai ini terjadi pembantaian terhadap pelarian Spanyol yang terjebak oleh garis gaib buatan para teterusan Minahasa pimpinan Sela dan Seke. Mereka dibunuh dan mayatnya dibuang ke sungai yang mengakibatkan timbulnya nama Ranorangdang.

Penulis Belanda Dr.J.G.F.Riedel berpendapat leluhur awal Minahasa yang telah datang berdiam di sini adalah Penghulu Repi dengan dua istrinya Matinontong dan Tontongbene disertai lima anaknya. Repi dari kalangan Makatelu Pitu mendirikan pemukiman Rano Lahendong ini.

Berdekatan dengan Rano Lahendong berada negeri Elehaninendoh, didirikan Makarawung dan istrinya Matinenden un Kere dan lima anaknya.

Kemudian dekat pula dengan Rano Lahendong, ada pemukiman Walehlaki yang didirikan Penghulu Pangibatan beserta istrinya Tinoring dan lima anaknya.

Sebutan Lahendong bagi negerinya, dikaitkan dengan pohon besar yang tumbuh di pinggiran mata air yang dinamai Lumahendong atau Lahendong. Pohon tersebut mencolok mata ketika para pionirnya melakukan tumani negeri. Kulit pohon Lahendong biasa ditumbuk, di masa silam dijadikan pakaian yang disebut momo’ (cidako).

Zendeling Tanawangko Nicolaas Graafland menyebut negeri ini berasal dari jenis pohon tersebut.

LEGENDA NEGERI
Demikian pula pendapat Zendeling Tomohon Nicolaas Philip Wilken. Bahkan Pendeta Wilken memerinci bagaimana kisah terbentuknya Lahendong. Dalam tulisan dipublikasi Mededeelingen NZG tahun 1863, Wilken mengaitkan keberadaannya dengan Tompaso.

Konon, di masa silam, jumlah penduduk Tompaso sangat banyak, sehingga mereka memutuskan untuk menyebar. Beberapa ingin pergi ke pantai dan membuat garam. Tetapi, yang lain ingin tinggal di pegunungan untuk bertanam padi.

Ketika itu sebuah pohon Lahendong yang sangat tinggi berdiri di Tompaso. Ayo, mereka berkata satu sama lain, mari kita tumbang pohon ini. Ini akan berguna bagi kita semua. Dari kulit kayu kita bisa berpakaian, dan dari kayu para penanam bisa membuat balok-balok rumah dan untuk perahu nelayan.

Pohon itu ditebang dan tumbang. Puncaknya jatuh ke barat-laut, ke sungai yang namanya tidak diketahui.

Tidak lama kemudian, menurut Wilken, salah satu buah yang tersebar dari pohon ini tumbuh. Karena pohonnya Lahendong, dinamailah tempat termasuk sungainya demikian. Nanti belakangan, di tepi sungai tersebut berdiri satu negeri yang menerima nama Lahendong pula.

Tahun dimulainya pemukiman awal di Lahendong sulit diperkirakan. Namun, kemungkinan kuat sudah ada sejak pertengahan abad ke-18.

Dari tuturan di Lahendong, disebut tokoh yang pertama datang adalah tonaas bernama Mokalu dan disebut pula Rondonuwu. Ia datang dari ibukota Sarongsong masih di Tulau. Pertama membuka kebun dan bangun pondok di sekitar lokasi Kakalutayen. Karena hasil berlimpah, ia kembali ke Sarongsong mengajak keluarga untuk tinggal bersama di lokasi baru ini.

Dikirakan tahun 1765, karena penduduk mulai banyak, Tonaas Legi dipilih menjadi pemimpinnya. Kemudian diganti Siow tahun 1775. Masa Siow dikisah, terjadi musim hujan parah, meluapkan air danau Linow dan sungai Ranorangdang menghancurkan tanggul dan menghantam pemukiman hingga hancur.

Penduduk memutuskan pindah ke bagian timur mendekati lokasi mata air. Pemukiman baru didirikan dengan penancapan batu Tumani. Konon, dari sinilah awal pemakaian nama Lahendong, bertitik tolak dari pohon di dekat mata air tersebut.

Peran strategis Lahendong, dirasa penting ketika Sonder mendirikan negeri Leilem di sipat dengan Balak Sarongsong di Lahendong. Masa itu, masih sering terjadi permusuhan antarbalak, sehingga Kepala Balak Sarongsong Tamboto sengaja menempatkan seorang kerabatnya, Manopo sebagai Hukum berkedudukan di Lahendong. Manopo bahkan menurut keturunannya berjabatan sebagai Kumarua (Hukum Kedua).

Manopo dari silsilah keluarga Waworuntu adalah anak Regar, cucu Waworuntu (1) dengan istrinya Topowene. Topowene sendiri adalah putri dari Lontoh Kolano, Hukum Majoor Kepala Sarongsong di abad ke-17 dan awal abad ke-18.

Hukum Manopo di Lahendong dicatat pula dokumen Belanda. Sejarawan Minahasa Bert Supit mengutip laporan dari Residen Manado Carel Christoph Prediger bulan Mei 1808 ketika mengunjungi Lahendong. Prediger tidak menemukan satu penduduk pun. Menurutnya, Manopo bersama penduduk Lahendong lari masuk hutan karena diancam Lontoh Tuunan dari Tomohon.

Usai perang Minahasa di Tondano, anak Manopo dari istri Wuaimbene, Waworuntu (2) berkuasa dan menjadi kepala dari Balak (kemudian disebut Distrik) Sarongsong tahun 1819 dan bergelar Majoor. Ia kemudian dikenal dengan nama Herman Carl Wawo-Roentoe ketika dibaptis Kristen Protestan di Tomohon tanggal 11 April 1847.


Dr.Wolter Robert van Hoevell dalam tulisan di Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie terbitan tahun 1856 mengisahkan perjalanannya ke Danau Linow ketika itu, dengan diantar Hukum Tua Lahendong Waworuntu. Waworuntu ini disebutnya sebagai putra Majoor Sarongsong.

Menurut tokoh keluarga Waworuntu tahun 1980-an Arie Michail Mandagi, yang pernah menjadi Kepala Distrik Tomohon, Hukum Tua Lahendong dari keluarga Waworuntu, selain Manopo di awal tahun 1800-an, dikenal pula adalah Johanis Wawo-Roentoe, putra paling bungsu Majoor Herman Carl dari istri pertama Sara Rengkung.

Ketika Majoor Herman Carl meninggal tahun 1854, putra tertuanya Zacharias naik menjadi Kepala Distrik, sementara putra kedua Albertus Bernadus Wawo-Roentoe berkedudukan sebagai Hukum Kedua Sarongsong. Namun, tahun itu juga Albertus diangkat menjadi Jaksa Landraad Manado (kelak Kepala Distrik Sonder), sehingga posisi Hukum Kedua Sarongsong diisi Johanis Hukum Tua Lahendong.

Jabatan Hukum Tua di Lahendong sejak tahun 1854 itu dipegang oleh Alexander Lukas Waworuntu (dalam dokumen lebih banyak ditulis Waworoentoe), putra tertua Kepala Distrik Majoor Zacharias (meski ada versi lain kalau ia sebenarnya telah menjabat sejak tahun 1850 diangkat kakeknya).

Alexander Waworuntu berkuasa sangat lama, selama ayahnya Majoor Zacharias menjadi Kepala Distrik Sarongsong sejak tahun 1854. Bahkan, ketika Distrik Sarongsong disatukan dengan Distrik Tomohon tahun 1880, dipimpin iparnya Majoor Herman A.Wenas, ia masih dipercaya menjadi Hukum Tua.

Hukum Tua Alexander, termasuk salah satu hukum tua paling lama memegang jabatannya di Minahasa. Untuk lama pengabdian dan jasa-jasanya, pemerintah kolonial Belanda dengan keputusan Gubernur Jenderal pada bulan Juli 1894 memberikan penghargaan untuk jasa sipil, berupa bronzen ster voor trouw en verdienste (bintang perunggu untuk kesetiaan dan prestasi), sehingga ia terkenal dengan julukan Hukum Tua Bintang.

Protestan sendiri telah masuk Lahendong, ketika Zendeling Tomohon Nicolaas Philip Wilken membentuk Jemaat Lahendong tahun 1849 (sekarang Jemaat GMIM Damai Sejahtera). Namun sekolahnya telah didirikan lebih awal di tahun 1840 oleh Zendeling pertama Tomohon Johan Adam Mattern. Genootschapschool (Sekolah Genootschap) Lahendong pertama dipimpin oleh guru M.L.Kowaas.

Sekolah ini hilang ketika didirikan tahun 1881 sebuah Gouvernementschool (Sekolah Gubernemen, pemerintah) di bawah pimpinan guru Seth Lantang dan kemudian Jan Turambi. Sekolahnya kemudian terkenal dengan nama Sekolah Negeri kelas 2 (openbare Inlandscheschool der 2 de klasse) Lahendong, dengan salah satu kepalanya guru J.Pelealu (sekarang SDN Lahendong).


Lahendong, sejak awal telah menjadi negeri kedua terbesar di Distrik Sarongsong, meski belum juga mencapai 1.000 orang. Akhir tahun 1852 penduduknya didata 421 jiwa. Tahun 1867 450 jiwa. Tahun 1889 688 jiwa. Tahun 1892 menjadi 719 jiwa, tahun 1900 841, tahun 1906 836 jiwa, dan tahun 1910 sebanyak 985.

VERSI TUGU
Para pemimpin Lahendong di masa awal memang cukup kontroversial, karena tidak ada data pendukung, sekedar bertitik tolak dari tuturan-tuturan, sehingga nama dan tahun-tahunnya banyak tidak bersesuaian, seperti tergambar pada tugu para Hukum Tua yang berada di tengah negeri. 



Hukum Tua terkenal yang lama memerintah, Alexander Lukas Waworuntu sendiri tidak terdaftar, demikian pula kakek moyangnya Manopo. Ini berarti periode-periode pemerintahan dari Hukum Tua Simon Kilis, Luis Kalumata, Estepanus Pantow, Bastiaan Alow dan Zacharias Kilis tidak tepat pula. Simon Kilis sendiri mengawini Johana, anak Hukum Kedua Johanis dan cucu dari Majoor Herman Carl Wawo-Roentoe.

Dari tuturan di Lahendong tahun 1980-an, tokoh Waworuntu yang tertera di tugu dan memerintah 1828-1845, itulah Alexander Lukas Waworuntu. Sementara di kuburnya di pekuburan Waworuntu di Tumatangtang Sarongsong, jelas tertulis kalau ia baru lahir tahun 1837 dan meninggal tanggal 15 November 1913.



Selain itu banyak nama-nama lain yang tidak tertera, kendati hanya berperan sebagai wakil hukum tua atau pejabat sementara. Dapat disebut umpama B.D.Rapar, F.Legi dan H.Ombeng selang 1943-1946, sementara nama Jan Alow dan Lukas W.Lantang sebagai pejabat dicatatkan. Demikian pula kepejabatan Willem Moses Lalawi yang pertama. Termasuk tidak adanya pula nama Max L.Kaunang kendati hanya memegangnya selama 9 bulan sebelum periode kedua Johanis Eddy Lantang sebagai Kepala Desa tahun 1989. ***

------------
·         Sumber foto: Jootje Umboh, dan Peils Yusak Tangkilisan.
·         Sumber tulisan: Buku ‘Riwayatmu Tomohon’’ 1986, buku ‘’Tomohon Kotaku’’ 2006, dan naskah ‘’Tomohon Dulu dan Kini’’.