Tampilkan postingan dengan label Cerita Louwerier. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Louwerier. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 September 2019

Nona Bertha dan Epidemi Kolera




Kubur Nona Bertha di Talete.






Dekat dengan makam penginjil besar Tomohon Pendeta Nicolaas Philip Wilken, di lokasi pekuburan umum Kelurahan Talete, terdapat sebuah kubur sederhana dari nona ini. Masih terbaca tulisan di nisannya meski sudah sangat usang, Gysbertha C.Krook, lahir 30 November 1850, meninggal 16 Maret 1886.

Nona ini baru berusia 26 tahun ketika meninggal. Gara-gara kolera yang mewabah di seluruh Minahasa.

Nona Bertha, panggilannya, bukan sembarang nona. Karena dia adalah direktris pertama dari Meisjesschool atau Sekolah Nona. Sekolah yang mencatatkan sejarah, sebagai sekolah pertama untuk jenis demikian di seluruh Indonesia (masih Hindia-Belanda).

Sekolah ini dibuka dengan sangat meriah di Tomohon tanggal 1 November 1881.

Bangunan sekolah dan asrama masih memanfaatkan bekas rumah Pendeta Wilken di Talete serta bekas gedung Sekolah Penolong Injil. Murid pertamanya hanya 15 putri, berasal dari berbagai tempat di Minahasa. Mereka adalah putri para kepala. Mereka akan menerima pendidikan Eropa, sementara lainnya sekedar sebagai pengunjung sekolah.

Sekolah yang ditangani satu lembaga khusus dari NZG di Rotterdam Belanda ini bertujuan menjadikan para nona calon ibu rumah tangga yang layak. Sebagai perempuan terpelajar, sehingga tidak kalah dengan laki-laki. Masa itu, ada kesenjangan di antara mereka. Dengan pendidikan, laki-laki dan perempuan diharapkan akan saling memahami dan menghargai. Menurut Louwerier dan Jan Nannes Wiersma Hulpprediker Ratahan, itu satu-satunya cara menuju kebahagiaan pernikahan sejati dan kehidupan rumah tangga.

Karena muridnya putri para kepala dan tinggal berasrama, sekolahnya bernama De Meisjes-, kost-en dagschool atau Kost-en Dagschool voor Dochters van Hoofden en Aaanzienlijken in de Minahasa.

Salah satu murid awal adalah Raumanen Wenas, putri dari Kepala Distrik Tomohon Majoor Herman Wenas. Namun, gadis berusia 15 tahun ini meninggal 1 Januari 1885.

Nona Bertha yang bernama lengkap Gijsbertha (Gysbertha) Catharina Krook lahir di ‘s Gravenhage Belanda. Sebelumnya sebagai guru Normaalschool di Zetten. Ketika masih banyak kekhawatiran dengan kondisi di Minahasa, ia dengan suka cita mengajukan diri menerima pekerjaan tersebut. Ia tiba di Manado pertengahan September 1881 bersama Nona W.C.de Ligt yang ditunjuk menjadi guru mendampinginya. Beberapa hari kemudian mereka sampai di Tomohon, sebelum pembukaan sekolah. Keduanya segera mempelajari bahasa Melayu.

Pengaruhnya terhadap para murid sangat bagus. Ia dicintai mereka yang selalu menghadiahinya bunga yang digemarinya. Louwerier selalu melihatnya dikerumuni di waktu senggang

Metode pendidikan yang diajarkannya di Sekolah Nona dipuji sangat baik. 

Pujian tertinggi untuk pendidikan di sekolah ini disampaikan Inspektur Pendidikan di Wilayah Tiga Meyl yang berkunjung bulan September 1885. Kemudian pula pujian dari Ds.Wieland (Predikant Manado Petrus Thomas Wieland) yang membezuk sekolah 3 November 1885. Wieland memiliki kesan baik dan menyenangkan melihat hasil dan pekerjaan bagus dari Nona Bertha dan rekan gurunya Nona de Ligt. 

Nicolaas Graafland, bekas Direktur Kweekschool Tanawangko dan menjabat Ajun Inspektur Pendidikan Wilayah Lima yang melihat bersama Louwerier gaya pembelajaran Nona Bertha sangat kagum, karena sangat jelas dan mudah dipahami.

Nona Bertha dianggap menjadi berkah bagi banyak gadis di Minahasa selama hampir lima tahun memimpin sekolah tersebut. Masa depan kaum wanita Minahasa sangat menjanjikan.

Namun, wabah kolera telah mengakhiri pekerjaannya.

Penilik sekolah, Hulpprediker Tomohon Jan Louwerier, yang telah mencita-citakan sekolah ini sejak Oktober 1876 mengaku wabah tersebut tidak dicurigainya terjadi di Tomohon. Kendati sejak beberapa bulan sebelumnya, epideminya telah melanda Tondano.

Louwerier tidak bercuriga, ketika dalam satu malam di bulan November 1885, di salah satu wijk (kampung) di Tomohon sebanyak 97 orang terkena penyakit perut. Ia tidak melihat ada kasus kolera, karena obat-obatan yang dikirimnya, memulihkan mereka semua.

Tomohon tetap aman, ketika di tempat lain kematian banyak dilaporkan.

Namun, tanggal 2 Maret 1886 Kepala Kampung (Hukum Tua) Talete meninggal. Padahal, sang kepala tetap beraktivitas biasa, hadir dalam pertemuan yang dipimpin Louwerier. Bahkan pada Minggu 28 Februari ia masih menunggang kuda di kebun kopi. Tapi, pada jam 2 malam ia meninggal. Jam 5 sore tanggal  5 Maret ia dikuburkan dengan penghormatan Kabasaran.

Sejak hari itu, ada kematian setiap hari. Kematian akibat penyakit ini hanya butuh beberapa jam.

Tapi, Louwerier belum berani memastikan bahwa kolera terjadi di Tomohon.

Tanggal 9 Maret jam setengah dua pagi, ia dipanggil menemui janda dari Efraim Lasut, Guru Genootschapschool Tomohon yang telah meninggal pada Oktober 1884. Nyora guru ini adalah saudara dari kepala tadi. Memiliki 8 anak, yang termuda berusia 5 tahun. Ia meninggal sore harinya. Louwerier mengambil salahsatu dari anaknya, sementara Nona Bertha mengambil tiga anak untuk dididik.

Kini Louwerier tidak meragukan kasus sporadis itu disebabkan kolera. Ia bertindak cepat, mengambil tindakan pencegahan, memberi tahu orangtua murid Sekolah Nona yang segera menjemput putri mereka. Tidak ada di antara murid Nona Bertha yang sakit.

Minggu 14 Maret Nona Bertha masih menghadiri kebaktian di gereja yang dipimpin Pendeta Louwerier.

Senin pagi 15 Maret Nona Bertha beraktivitas biasa pula. Jam satu ia masih melihat api di dekat sekolah. Sore jam enam, ia menemani percakapan bersama Louwerier dan Kruijt (Zendeling Hendrik Cornelis Kruijt, Direktur Kweekschool voor Inlandsche onderwijzers di Tanawangko, kelak bertugas di Deli).

Di malam hari jam 7, ia membicarakan bersama Nona de Ligt surat yang diterimanya dari awal Januari. Ketika Nona Bertha pergi tidur, ia mengambil pekerjaan tangan, yakni gaun untuk Nyonya van de Liefde (istri Hulpprediker Amurang Cornelis Johannes van de Liefde), yang telah dikerjakannya selama beberapa waktu.

Nona Bertha selalu berkata adalah memalukan untuk tidur lebih awal. Lebih dari sekali Louwerier harus menegurnya karena tidak cukup beristirahat.

Dari pengakuan Nona Bertha kepada Nona de Ligt, dia merasa sakit selama tiga jam, tapi tidak memanggil siapa pun. Ia datang ke kamar Nona de Ligt untuk membangunkannya, tapi memintanya tidak memberitahu Louwerier, karena menurutnya terlalu dini.

Ternyata sebelum memanggil Nona de Ligt, ia menulis surat kepada ibunya di Belanda. Louwerier kemudian menemukannya. Agaknya Nona Bertha sudah merasakan akhirnya. Tapi di surat itu ia juga berbicara dengan pasti harapan penuh kebahagian yang memenuhi dirinya.

Meski pun Nona Bertha melarang, Louwerier langsung dipanggil, dan Louwerier segera merasakan ketakutan akan hal terburuk. 

Awalnya Nona Bertha sedikit gugup, namun segera tenang seperti sifatnya. Nona de Ligt merawatnya dengan telaten. Kruijt ikut menjaga si sakit. Begitu pun istri Louwerier yang anak laki-lakinya sedang sakit.

Jam 8 pagi, ia meminta Louwerier berdoa bersama, dan Nona Bertha tampak lebih tenang. Namun, tiba-tiba keluar keluhan kecilnya mengingati ibu tercintanya. Setelah berdoa lagi, Louwerier bertanya kalau ingin mendengar mereka bernyanyi, yang diangguknya. Louwerier dan Kruijt menyanyi bersama.

Ketika rasa sakitnya meningkat, Nona Bertha berusaha menahan keluhannya. Ia bersikeras agar mereka harus makan. Louwerier yang beranjak terakhir. Namun, belum tiba di rumahnya, ia dipanggil. Nona Bertha tidak sadar berkali. Ketika sadar terakhir kali, ia mengenali beberapa orang yang datang menemuinya.

Sekitar setengah tiga tanggal 16 Maret, ia meninggal dengan tenang. 

Sore hari tanggal 17 Maret Nona Bertha dimakamkan di dekat makam Pendeta Wilken dengan diantar banyak pelayat, antaranya para muridnya. Hulpprediker Sonder Johann Albert Traugott Schwarz memimpin ibadah penguburannya. 

Nona de Ligt (kelak kawin dengan Kruijt) ditunjuk menggantikannya sebagai Direktris.***

                  -----
Foto: Defdy Didi Sigar.
Sumber tulisan: Maandberigt  van het Nederlandsche Zendelinggenootschap No.7 tahun 1886 dan Januari 1890.
 


Kamis, 22 Agustus 2019

Kakek Babe Palar, Diaken Kamasi





Babe Palar tahun 1933.





Lelaki ini hanya sekedar diaken biasa atau sekarang disebut syamas, dari satu kampung kecil atau wijk di negeri besar Tomohon. Ketika itu, tahun 1906 Kamasi baru berpenduduk sedikit, dan bergereja di gedung Gereja Protestan Tomohon di Paslaten yang hanya berhadap-hadapan dipisah ruas jalan raya ke Manado (sekarang gereja Sion). Namun, ketika dia meninggal, pelayatnya bukan hanya dari Kamasi, tapi hampir dari seluruh Tomohon, bahkan dari luar.

Lodewijk Palar, syamas ini, meski hanya orang biasa, tapi sangat terkenal. Ia menjadi pelayan khusus jemaat dan gereja Tomohon yang disegani. Sahabat baik Pendeta Tomohon Jan Louwerier, juga sahabat para Zendeling NZG di Tomohon, seperti J.H.Hiebink Rooker, Direktur Kweekschool (Sekolah Guru) NZG di Kuranga, serta keluarga A.Limburg, Direktur Meisjesschool (Sekolah Nona) Tomohon.

Anak-anaknya sukses dalam pendidikan dan pekerjaan. Kendati mata pencaharian utamanya hanya sekedar berdagang kopi. Membeli dari para petani lalu menjualnya di Manado. 

Dua putranya menjadi guru sekolah pemerintah Hindia-Belanda. Salah satu darinya, yang tertua, memberinya cucu, seorang lelaki yang kemudian akan mengharumkan Minahasa dan Indonesia, yakni Lambertus Nicodemus Palar atau terkenal sebagai Babe Palar.

‘’Dengan dia, saya dapat mengatakan orang Kristen terbaik yang meninggalkan gereja ini. Dia adalah seorang lelaki yang kepadanya saya merasakan simpati khusus selama bertahun-tahun saya tinggal dan bekerja di sini,’’ tulis Pendeta Jan Louwerier.

Ketika Louwerier mengenalnya pertama kali di tahun 1868, Lodewijk Palar masih bekerja di Gudang Kopi pemerintah (Gouvernementskoffiepakhuis) di Paslaten (yang tahun 1906 telah dipakai sebagai Sekolah Gubernemen Nomor 1). Atasannya, kepala gudang kopi adalah J.J.Tokaija.

Lodewijk Palar, sangat tradisional, seorang pria yang rapi, menurut Louwerier memiliki sesuatu yang mulia tentangnya, tetapi pada saat yang sama pria yang sangat sederhana. Untuk waktu yang singkat ia membiarkan dirinya tergoda, mungkin atas dorongan anak-anaknya, untuk mengenakan jaket.

‘’Tapi, segera disingkirkan. Dan, kabaya kuno dikenakan lagi. Itu selalu tampak dicuci bersih, dan kaku, diselipkan dengan rapi dalam lipatan. Jauh lebih bagus daripada banyak orang yang sekarang memakai mantel dan menghiasi diri dengan kerah tinggi,’’ tulis Louwerier tahun 1907.

Lodewijk Palar menjadi pelayan gereja sejak masa Pendeta Nicolaas Philip Wilken yang meninggal tahun 1878. Bahkan, sebelum jabatan penatua dan syamas ditunjuk di Tomohon.

Ketika Wilken melantik Majelis Jemaat (kerkeraad) Tomohon tahun 1874 dan Jemaat Kampung (wijkgemeenten) dari Kamasi, Talete, Paslaten, Kolongan dan Matani setahun kemudian, Lodewijk Palar dipilih sebagai syamas dari Kamasi. Jabatan yang dipegang sampai kematiannya.

Saat ada lowongan dalam posisi penatua, anggota jemaat ingin menunjuknya, tetapi ia berterima kasih, bahwa melayani Tuhan lebih baik sebagai diaken daripada sebagai penatua.

‘’Dan, dia telah melayani Tuhan. Dia adalah jiwa dari pertemuan tengah hari di Kamasi. Dengan sangat setia saya melihatnya setiap Minggu sore, ketika saya pergi ke gereja anak-anak, ia melangkah ke sana. Kata-katanya dihargai. Seorang pria yang beriman dan cinta bersaksi dan melalui siapa Tuhan berbicara.’’

Menurut Louwerier, Lodewijk Palar adalah anggota yang sangat baik dalam berbagai pertemuan majelis gereja. Kalau berbicara sangat padu dalam roh Kristus. Jika ada masalah yang harus diselesaikan, jika ada perselisihan keluarga, dan yang berselisih tidak mau mendengarkan nasihat majelis di kampung, maka sepasang majelis dari kampung lain, selain seorang guru, Lodewijk yang selalu dipilih, karena dia adalah orang yang sangat berpengaruh, terkenal dan dihargai di seluruh jemaat.

Lodewijk Palar sepenuhnya percaya diri. Dalam beberapa tahun terakhir ia membeli kopi untuk para pedagang di Manado. Tapi, ia tidak mendapat uang di muka, sehingga di saat-saat ada banyak kopi, ia kebingungan. Lalu, ia selalu meminta bantuan Pendeta Louwerier.

‘’Dan, apa yang tidak akan saya lakukan dengan orang Minahasa, saya lakukan untuknya. Tanpa bukti tertulis, ia kadang-kadang menerima 200 gulden, dan segera setelah ia menjual kopinya di Manado, uang itu kembali ke tangan saya.’’

KELUARGA TELADAN
Louwerier memujinya sebagai pria keluarga, sehingga keluarganya adalah teladan bagi orang lain. Semua anak-anaknya menerima pendidikan yang baik, serta dituntun kepada Tuhan sejak kecil. Semua anak-anaknya tergantung pada orang tua, menghormati dan menunjukkan cintanya.

Tapi, duri kehidupan juga tinggal bersamanya. Belum lama Louwerier tinggal di Tomohon, ketika Sara, seorang gadis di puncak kehidupan, diambil darinya. Lodewijk dan istrinya Ketsia sangat terpukul, namun, dengan penghiburan dan nasihat Louwerier, keduanya menjadi sangat tabah.

Kemudian, kehilangan sangat berat terjadi ketika putra bungsuanya Jusa(k) meninggal setelah lama menderita di Manado tanggal 25 Mei 1906 dalam usia 31 tahun. Anaknya itu meninggalkan seorang janda dengan tiga anak, sambil menunggu anak keempat.

Menurut Louwerier, Jusa adalah di antara beberapa orang Minahasa yang unggul. Dia sangat berbakat, bekerja sebagai guru bantu di Burgerschool (Sekolah Rakyat) Manado. Jusa menggambar dengan baik, memainkan biola dengan baik, berbicara bahasa Belanda dengan sangat baik.

Bakat dan permainannya yang bagus dilihat banyak orang. Peta Minahasa dan Keresidenan Manado, dibuat olehnya. Ia pun dipanggil untuk bermain di perusahaan orang Eropa di Manado dan melakukan pertunjukan di masyarakat.

Louwerier telah mengenal dan terbiasa dengannya ketika masih anak kecil, sehingga ketika ia melakukan kesalahan, Louwerier menjadi tumpuan pengakuan dosanya.

Setelah menderita sakit yang lama, Jusa meninggal dan dikuburkan di Manado.

Ketika Louwerier mengunjungi keluarga Lodewijk setelah kembali ke Tomohon, Jemima, anak perempuan tertua menangis karena Jusa adalah kesayangan dan kesombongan semua.

Louwerier berhasil menghibur Lodewijk dan istrinya Ketsia yang menjadi tabah.

Namun, menurut Louwerier, Lodewijk hancur oleh kehilangan Jusa. Ia masih bekerja dengan semangat dan kesetiaan yang sama baik dalam kerja harian atau di jemaat. Tetapi ia berjalan lebih membungkuk. Ia pun masih menghadiri kelas-kelas gereja dan kegiatan malam dengan setia, datang ke rumah Louwerier dan setelah waktu gereja berbicara dengan riang.

‘’Tetapi, menjadi jelas bahwa Lodewijk telah dihancurkan,’’katanya.

Lodewijk akhirnya terbaring di ranjang. Demam menghancurkan kekuatannya. Anak-anaknya melakukan segalanya dengan kekuatan mereka. Ia tidak kekurangan apa pun.

Louwerier pun secara teratur mengunjunginya tiga kali sehari selama beberapa minggu. Mereka berdoa bersama berkali-kali. Tapi, kekuatannya berkurang. Pada pagi hari kematiannya, Louwerier berlutut bersama istri dan anak-anaknya sebelum kematian itu untuk mempersembahkan jiwanya kepada Tuhan, untuk meminta pertempuran terakhir tidak terlalu sulit.

Lodewijk nyaris tidak berbicara, tapi jabat tangannya adalah ucapan terima kasih. Ketika pelajaran pagi berakhir, Louwerier menjenguknya sebentar. Dia sekarat. Setengah jam kemudian cucunya datang kepada Louwerier sambil menangis. Kata cucunya,’’Kakek tertidur.’’

Itu tanggal 24 September 1906.

Keesokannya, Lodewijk dimakamkan (di Kamasi). Seluruh Kampung, dapat dikatakan setengah Tomohon berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Louwerier memimpin langsung ibadah penguburannya. Pelayat yang tinggal di luar Tomohon yang mengenal Lodewijk berkata kepadanya ‘’Betapa ruginya Anda dan gereja.’’

Louwerier menerima surat ucapan terima kasih yang dalam dari Gerrit, satu-satunya putra Lodewijk yang tersisa. Gerrit Johannis (ayah Babe Palar) adalah kepala sekolah pemerintah (Gouvernementschool) di Rurukan. 

Beberapa hari kemudian, Ketsia jandanya dengan putri sulungnya Jemima datang untuk mengucapkan terima kasih atas semua cinta dan perhatiannya dan mendermakan satu rijksdaalder sebagai pengorbanan syukur untuk kegiatan penginjilan. ***

-----


·                         Foto dari Delpher Kranten.