Tampilkan postingan dengan label Sarongsong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sarongsong. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 September 2019

Alexander Wajong, Guru Tua Sarongsong



Pusara Alexander Wajong dan istri.




Para guru awal di Tomohon sangat berjasa, karena menjadi tonggak kemajuan yang dicapai Tomohon sekarang ini. Bukan sekedar menjadi perintis pendidikan ketika penduduknya semua masih buta huruf, tapi juga menjadi tokoh-tokoh agama yang berhasil menggerakkan hati bukan hanya para murid tapi juga orang tua, bahkan kalangan masyarakat lain untuk meninggalkan agama tradisional dan menjadi Kristen.

Salah seorang diantaranya yang dianggap sebagai perintis pendidikan dan agama Kristen di Sarongsong adalah Alexander Wajong.

Ia lahir tahun 1818 di Tomohon, sebagai putera dari Wajongkere. 

Ketika Zendeling pertama Tomohon Johan Adam Mattern menetap di Tomohon bulan Juli 1838, Alexander Wajong bekerja sebagai pembantu di percetakan NZG yang dibawa dan dipercayakan penanganannya kepada Mattern. Percetakan tersebut mencetak buku-buku pelajaran dan agama dalam bahasa Melayu (kelak dipakai Zendeling Nicolaas Graafland mencetak koran Tjahaja Sijang di Tanawangko). 

Sebagai tukang cetak, ia memperoleh uang saku sebesar 4 gulden tiap bulannya. Jumlah yang tidak sedikit ketika itu.


Tapi, bukan hanya kepentingan duniawi yang mempengaruhinya. Ia terdorong oleh Mattern dan menjadi muridnya, sangat giat mengikuti pendidikan agama. Bersama dengan Cornelis Wohon, ia termasuk yang terbaik, paling setia, dan paling rajin dari antara murid Mattern. 1]

Tanggal 9 Februari 1840, bersama Cornelis Wohon, ia dibaptis Adam Mattern di gereja Tomohon menjadi Kristen.

Hanya beberapa hari setelah pembaptisannya, Sekolah Genootschap Sarongsong membutuhkan pemimpin. Dan, Mattern tidak ragu untuk menunjuk anak muda ini.

Tanggal 28 Februari 1840, Alexander Wajong resmi menjadi guru (meester atau onderwijzer) sekaligus sebagai Guru Jemaat (voorganger). Ia tanpa henti bekerja dalam kedua jabatan itu selama 37 tahun, hingga dipensiun tanggal 8 Februari 1874.

Hasilnya membuktikan bahwa Mattern tidak melakukan kesalahan ketika menunjuknya. Ia dipuji sebagai pekerja yang layak, selalu setia dalam jabatannya, bekerja tanpa lelah untuk kebaikan banyak orang.

Menurut Hulpprediker Tomohon Jan Louwerier, Alexander Wajong berkotbah sederhana, tetapi ceria dan dibuktikan dengan teladannya.

Jemaat di Sarongsong menjadi antusias dengan kerjanya, dan kemajuan yang dicapai, adalah kesaksian semangatnya itu. Gedung gereja yang indah setiap hari Minggu penuh dengan pendengar yang penuh perhatian. Kerjanya mengantar pada kehancuran paganisme di Sarongsong.

Selama pengabdiannya di Sarongsong, ia berhasil membawa banyak orang Sarongsong menjadi Kristen. Dibaptis, sidi dan dikawinkan oleh Zendeling Nicolaas Philip Wilken, pengganti Adam Mattern.

Louwerier mencatat orang Sarongsong yang berhasil dibaptis melalui pekerjaan Alexander Wajong total sebanyak 1.453 orang. Orang dewasa terdiri 265 pria, 373 wanita dan 815 anak-anak. Yang menjadi anggota sidi 215 orang, pria sebanyak 71 dan 144 wanita. Sementara yang dikawinkan 303 pasangan.

Murid-murid yang ditanganinya saban tahun, rata-rata di atas 100 orang. Semisal tahun 1854 jumlah muridnya 128 anak. Tahun 1857 163. Tahun 1859 154. Tahun 1861 142. Tahun 1869 140. Tahun 1870 115.  Tahun 1871 103. Tahun 1872  90 anak. Tahun 1873 95 dan di masa pensiunnya awal 1874 107 siswa.                                                  

Alexander Wajong dipuji Louwerier selalu rapi dan lembut. Sebagai memiliki bakat khusus untuk berurusan dengan anak-anak. Hingga hari-hari terakhir aktivitasnya sebagai guru ia selalu senang bersama anak-anak kecil.

Meski sumber daya pendidikan kurang (sekolah menumpang di gereja), ia terus bekerja dengan sarana seadanya. Dan bukan tanpa hasil. Kontrolir Tondano Jhr.F.G.Boreel yang menginspeksi sekolah Sarongsong berulangkali menghabiskan beberapa jam dan selalu menyatakan kepuasannya dengan kemajuan siswanya.

Para muridnya terbilang banyak yang berhasil. Delapan orang diantaranya menjadi Hukum Tua, dua orang menjadi Assistant de Kultures, tiga orang menjadi penulis (schrijver) di kantor Kontrolir dan kantor Distrik, dan satu orang menjadi Opziener di Banyuwangi. Semuanya adalah posisi-posisi yang terbilang sangat tinggi dan bergengsi ketika itu. Penggantinya Seth Lantang yang sebelumnya menjadi guru di Tataaran adalah muridnya pula. 

KELUARGA
Alexander Wajong kawin tahun 1847 dengan putri Kepala Distrik Sarongsong Majoor Herman Carl Wawo-Roentoe yang bernama Kekewulan yang setelah masuk Kristen bernama Maria Magdalena Waworoentoe. Istrinya kelahiran tahun 1820.

Masuk Kristennya Majoor Herman Carl (dibaptis Inspektur NZG Ds.L.J.van Rhijn di gereja Tomohon 11 April 1847) banyak dipengaruhi pekerjaan injil dari guru Alexander Wajong.

Ia mempunyai 3 anak. Yang tertua Pietersina diperistri J.Mandagi Hukum Tua Koror (bekas negeri di Distrik Sarongsong). Salah seorang cucunya adalah Paul Lodewijk Mandagi, Inlandsch leeraar lulus dari STOVIL, dan menjadi guru STOVIL. Cucu lain Maria Mandagi diperistri Soleman Rotti, sejak 1881 kepala Sekolah Genootschap Sarongsong.

Putri lain Alexander Wajong adalah Wendelin. Sementara putra satu-satunya Herrit Carl Wajong. 

Putranya ini adalah salah satu muridnya yang memulai karir sebagai assistant kultures di Sonder tahun 1879. Herrit kemudian naik menjadi Hukum Kedua Distrik Tomohon-Sarongsong berkedududukan di Sarongsong 1889, Jaksa Landraad Manado 1890, Hukum Kedua Maumbi di Kokoleh Likupang dan Hukum Kedua Manado. Ia empat kali kawin. Salah seorang istrinya adalah Leentje Paulina Dotulong, anak Majoor Tololiu Dotulong dari Sonder.

Cucu Alexander Wajong dari Herrit adalah Alexander Exaverius Dotulong Wajong, seorang yang memperoleh gelar insinyur praktek. Cucunya ini dikenal sebagai teekenaar (juru gambar) dari sejumlah gereja di Minahasa, antaranya bangunan gereja GMIM Sion sekarang.


Alexander Wajong berusia cukup panjang. Ia baru wafat tahun 1891. Dikuburkan bersama istrinya yang mendahului meninggal 1858, di pekuburan keluarga Waworuntu di Tumatangtang. ***

-------
1]. Cornelis Wohon pertama ditempatkan sebagai guru Genootschapschool Tataaran, lalu guru Sekolah Genootschap Tomohon. Kemudian diangkat menjadi Huplzendeling (Penulong) membantu Zendeling N.Ph.Wilken. Terakhir sebelum meninggal menangani Jemaat Kristen di Rurukan dan Kumelembuai. Cornelis Wohon mengawini Elisabeth Wenas, putri Kepala Distrik Tomohon Lukas Wenas. Salah seorang keturunannya adalah Jefferson Rumajar, mantan Walikota Tomohon.

·         Foto: Didi Defdi Sigar.
·         Sumber tulisan: Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap Mei 1874, naskah ‘Tomohon Dulu dan Kini’ dan ‘Ensiklopedia Tou Manado’.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Kisah Kalelekinupit









Pendeta Nicolaas Philip Wilken telah menyusun silsilah para penguasa bekas Distrik Sarongsong dan Tomohon di tahun 1850-an yang dikutip Nicolaas Graafland dalam buku terkenalnya De Minahasa. Kalele yang kelak terkenal dengan nama Kalelekinupit, adalah putra tonaas Karwur dari istri bernama Pasiowan. Ia mengawini wanita bernama Aper atau Aperkalensun, dan berputra Sampow yang kelak akan menurunkan keluarga Lontoh, Mandagi dan Waworuntu.

Di Tulau, bekas negeri tua Distrik Sarongsong, terdapat situs-situs yang dikaitkan dengan legenda Teterusan (panglima perang) ini. Ada lokasi Kinupitan, batu besar yang dikisahkan menjadi tempat ia terjepit dan tewas. Kemudian situs Lesar atau Lezaz, dimana dilakukan tarian Kumoyak serta Watu Penginaleian berupa dua batu tegak, tempat para Walian (pendeta alifuru) melaksanakan berbagai upacara foso negeri seperti Mauri.

Tulau masih meninggalkan sisa-sisanya. Tapi, letak negeri Kinupit yang ada dalam kisah ini, sekarang sulit dilacak. Versi kisah tua Tomohon, Kinupit adalah satu negeri yang pernah berdiri di masa silam sebagai kampung awal Tomohon bersama Limondok, Kamasi, Toumaajah, Rangihir, Tounbuntu dan Lingkongkong. Letaknya banyak disebut berada di bagian dari Kelurahan Paslaten sekarang.

                     BACA: Silsilah Tombulu (2).

Versi lain, letak negeri Kinupit dalam kisah ini berbeda, dan berada di bekas negeri tua Sarongsong, di lokasi berdekatan Tulau pula. Pendeta Wilken sendiri dalam pengantar kisahnya di tahun 1863 menyebut tempat bekas negeri Kinupit ini adalah diapit oleh dua sungai yang mengalir di satu sisi kolam tertutup.

Berbeda dengan versi pusaka negeri bernama Kelana Mahuang, dalam legenda Wilken benda sakti ini adalah kayu Kapoya.

Cerita di bawah ini adalah terjemahan tulisan Pendeta Wilken dalam Bijdragen tot de kennis van de zeden gewoonten der Alfoeren in de Minahassa yang terbit di Mededeelingen NZG tahun 1863. Yang lebih asli (meski tidak mengurangi inti cerita) adalah versi bahasa Tombulu dari Pendeta Wilken yang terbit tahun 1866 di bawah redaksi Dr.G.K.Niemann dalam Bijdragen tot de kennis der Alfoersche taal in de Minahasa.


LEGENDA KINUPIT
Di jaman dulu penduduk Tulau terus-menerus berperang dengan orang Kinupit, negeri di dekat Tulau. Namun orang Tulau selalu kalah dan dipukul mundur, karena orang Kinupit memiliki kayu pelindung kapoya. Kapoya ini adalah kayu bilah persegi bertakik penanda berapa banyak kali burung bersiul yang jadi tanda baik-buruk hasil peperangan.
                                     
Kalele, kepala Tulau mencari cara untuk merebut kapoya. Ia meminta perdamaian dan persahabatan dan mengawini Aper, putri Makalenzun kepala Kinupit.

Selama setahun ia hidup dengan tenang dengan istrinya yang memberinya seorang putra. Ia juga mendapat kepercayaan dari ayah mertuanya.

Kalele sekarang berpikir waktunya telah datang untuk menjalankan rencananya. Dia berpura-pura sakit dan dari waktu ke waktu seolah dia semakin sakit.

Suatu hari ia berkata kepada istrinya, ‘’Minta pada ayahmu, kayu kapoya. Kalau itu digantung di atas kepala saya, saya akan sembuh.’’

Sang ayah yang mempercayai menantunya, menyerahkan kapoya itu. Dan benar, setelah berhari-hari, dia benar-benar sembuh.

Sore berikutnya, dia pergi bersama istrinya ke sungai untuk mandi dengan membawa serta kapoya.

Ketika sampai di sungai, dia berkata kepada Aper, ‘’kau mandi dulu.’’

Usai mandi dan berpakaian, Kalele mengambil kapoya tersebut dan berpaling kepada istrinya dan berkata.’’rawatlah anak kita. Aku akan mengambil kapoya ini, dan kembali ke Tulau.’’

Aper berlari pulang dan menceritakan kejadian itu kepada ayahnya.

Makalenzun kaget mendengarnya. Ia bergegas  mengejar menantunya dan berkata dengan marah.

‘’Kalele, kau telah menipu saya dan mencuri kapoya. Sekarang dengar anakku, putar mukamu ketika pergi berperang dengan kapoya. Bukan di sini, tapi, mengarahkannya ke sisi lain gunung. Ke selatan.’’

Hanya berselang beberapa hari setelah pencurian itu, Kalele sudah berperang. Ia tidak pergi ke selatan seperti kata ayah mertuanya. Justru ia memerangi Kinupit, karena ia tidak pernah mengalami kekalahan seperti dideritanya dari Kinupit, hal yang selalu membuatnya sedih.

Sekarang ia ingin membalas sendiri.

Dibantu oleh kapoya, ia memukul musuhnya, bahkan membunuh banyak kerabat dari istrinya, serta memperluas batas-batas wilayahnya.

Menang perang ia kembali ke Tulau, dan memutuskan untuk melakukan upacara Mauri, yakni foso negeri yang sangat penting. Upacara pengorbanan yang jarang dan dibuat khusus hanya untuk merayakan kemenangan perang.

Dalam upacara pengorbanan itu, ia akan dimuliakan sebagai teterusan, pahlawan dan kepala dari para pemberani. Pada hari kumoyak, salah satu rangkaian dari hari pengorbanan, ketika para Waranei (pahlawan dan prajurit perang) akan bernyanyi dan menari dengan pedang dan tombak, pagi-pagi ia telah berpakaian kebesaran perang dengan mantel panjang merah dan satu uwak dari burung tahun sebagai topinya.

Ditunggu-tunggu, sudah jam sembilan, belum ada satu pun yang datang. Ia meniup bambu untuk memanggil kepala dan rakyatnya.

Karena meniup bambu dan hawa matahari yang panas, Kalele merasa gerah. Ia pergi ke sungai Sapa (anak sungai Nimanga), untuk membasuh badan.

Ketika tiba di sungai, ia membungkuk, dan sambil memegang penuh air, ketika kepalanya melewati batu sumbing, balas dendam para dewa mengejutkannya. Entah darimana batu itu berasal, ia telah terjepit sampai mati.

Ketika itu para kepala dan penduduk sudah menunggu kedatangannya. Tidak muncul-muncul, dan lelah menunggu, Sasamperan dan Wewenoan, yakni para kepala perang dikirim untuk menemukannya. Mencari di mana-mana mereka akhirnya menemukannya mati di tepi sungai. Kepalanya tercengkeram di antara batu pecah.

Mereka kembali dan menceritakan peristiwa yang dilihat. Semua orang datang dan mencoba membebaskan kepalanya dari batu. Tetapi, segala upaya mereka sia-sia.

Sekarang seorang Walian maju, lalu menyanyikan doa, ‘’O Empung Lumous, bukalah batu pahlawan ini, dan biarkan jiwa ini kembali berani,’’

Setelah nyanyian diulang tiga kali, batu tersebut melepas kepala Kalele.

Mayatnya dibawa pulang dan ditempatkan di kursi Teterusan. Upacara pengorbanan kemudian dilaksanakan, dan selama acara itu, wajah Kalele berwana merah terang, matanya terbuka, dan kepalanya bergerak seperti sebelumnya ketika ia masih hidup.

Tapi, begitu pengorbanan selesai, tanda-tanda kehidupan itu hilang, dan mereka menguburkannya dalam duka.


Naasarĕm biya si tĕtĕrussan Kalele witi wanua Tulau


Witun tempo puuna mahasekemo se toun Tulau wo se toung Kinupit wo se wanua walina limiklik un Tulau. Taan se toun Tulau reikan makauntung wiya se toung Kinupit,

Pahapaan ung kapoya pahendoan ung koko em biti se Kinupit.

Meimo n-endo wiya muri woan siya makagĕnagĕnang si Kalele: kura ung kalalampanna wo siya makailek ung kapoya pahendoan ung koko un seke.

Niitu woan siya makagĕnang mange mendo kaawu witi wanua itii. Niyana an siya mendo si Aper, okki ni Makalensun, akha im banua witum banua Kinupit.

Woan siya mento toro sanataun, takar sera i nimakailek si okki ĕsa.

Witu muri niitu tumotollo un towo ni Kalele i maheendo ung kapoya, gimau iraraan witu rua napulu wo ĕpat na endo, ya tumahalous uman u rumara.

An siya numuwu wiya si kaawuna, kuanna: ‘’sa toro, sa kou paar, pahaleiÄ•nla wiya si ama ung kapoya, mangura niitu wo marorakkei u rumaraku. Woan itum pahaleiÄ•n ni kaawuna wiya si amana, kuanna: ‘’iwehepemei ung kapoya, mangura niitu wo marorak u rumara ni kaawuku.’’

Kumua si amana, kuanna: ‘’leos, pahalin.’’

Reikan katauanna itu irĕmuĕnno ni mahanuangna ung kapoya itii.

Woan itu ikettĕn ni Aper witung katoroan un tendean ni Kalele.

Witu lalÄ•m u rua naendo woan kumua si Kalele wiya si kaawuna, kuanna: ‘’aku in tarekan wen leosso im mÄ•ndan u rumaraku.’’

Niitu masandomei lolambot lamo lumĕle siya kariya ni kaawuna, maan ung kapoya pahalin.

Ikaayomola witi rano, si kaawuna si puuna lumÄ•le, taan maremei si Aper, woan siyan sumawÄ•lla si Kalele; taan siya rei lumÄ•le, tumÄ•rutÄ•russokan witi kasaru, woan siya lumengemei, kuanna wiya si kaawuna: ‘’aku mawurimo witi wanua Tulau, si okkita wen itulaukumo nikou, taan ung kapoya wen pahalingku.’’

Kaitalinga ni Aper u nuwu itii, tentu ung kasogit siya i mawuri witi wanua, makatau niitu wiya si amana. Kaitalinga ni amana niitu, siyang kumompo, mainde, maupi woan siyang kiitna.

Kairasakna si Kalele, kuanna: ‘’amo kou in okki in timowo wiya niyaku, gimau uman raraan woan rumÄ•mu ung kapoya: -pahaleiÄ•ngku wiya nikou: tiya ipahasarumei wiya nikami ung kapoya itii, sa kou gumÄ•nang in sumeke, ipahasaruma timu, witi se meiilongko am bulur.’’

Mingkot si Kalele, kuanna: ‘enne,’’ - woan siya mawuri lumampang mahapaapaar, pahapaan kinaendoannamo ung kapoya, pahendoan ung koko, saw o mahaseke kariya ne kaseke.

Niitu woan siyan tumotollo tumoyon am parungan ni mahaseke, taan siya reikang kumiit um pinahalei ni mahanuangna wiya nisiya; pahapaan siya reikan maliyur witun seke puuna ing kinauntungan uman ne toung Kinupit se toun Tulau.

Niitu si Kalele sumaup mahaseke wo se toung Kinupit, taan pahapaan ung kapoya wiyamo se toun Tulau, niyana sera makauntung wiya se toung Kinupit wo se makaliklik nisera, takar ni Kalele i mahapongkol an ulu wiya se katuari ni kaawuna puuna witi wanua Kinupit.

Niitu sera mahapaapaar woan tumaar sumiwo um posan Mauri.

Niitu siwoĕnnera kariya um paar, wen nimakauntung witi se toung kasekenera.

Taan witun endo ung kakokoyak, toro tumingting un siyow, ya si tĕtĕrussan Kalele kimarai ung karai tonton, rangdang, woan uakkan; woan siya mendo um barongan.

Woan miyahumei witi lĕsar mahasengo um barongan, ipahatawa se tou mei witum posan itii.

Taan tahuremo se tou, woan siya larumiyamus witi rano Sapa.

Niitu ikaayomola witi rano, woan siya mahongkot mahariyamus, kaikompomei witun dei katauanna sawissa amei um batu woang kumupit un uluna, takar siya i nimate witu.

Taan se tou nimarewokko, maento si tĕtĕrussan witi lĕsar ing kumoyak; taan si tĕtĕrussan reikan mondollei.

Ya niitu woan matu si rururuan ĕsa se tua waranei sasamperan wo se waranei wewenoan la milek si waranei tĕtĕrussan witi rano.

Kaiilekna un uluna kinupitto um batu un ulu, woan siya mawurimei.

Kumua se tou, kuanna: ‘’Kinupit um batu si tÄ•tÄ•russan, ya niitu nimatemo.’’

Niyana se peleng se tou mange maendo si waranei tĕtĕrussan witum batu kimupit nisiya; taan reikan maendo um batu itii.

Ya niitu masusamo mÄ•liwaliwag: ‘’Saapa un toro leossÄ•nnera, wo siya toro ikaondol witum batu kimupit nisiya?’’

Kumua si walian Ä•sa: ‘’niyaku si rumani u raraniÄ•n tanu um panginaleian, mangura niitu si waranei tÄ•tÄ•russan wo toro ikaondol witum batu.’’

Kumua se laker: ‘’leos, sa tentu,’’ - woan siyan dumani, kuanna: ‘’tumewan petumewan pinahÄ•mpung ni Ä•mpung waranei limiyei si lumous em meiisukannu man ne e ranei wuaya.’’

Tentu un dinani makatĕlu wurin un dani itii; ilekkĕnnera um batu kimupit si tĕtĕrussan mawukamei witun ulu ni waranei tĕtĕrussan.

An siyan iwali witi wale woan irumĕr witu rumerran; taan ung giyona rangdangkan tanu u mĕndondo, wo am bĕrĕnna mĕmĕrĕmĕrĕnkan, wo un uluna mĕgegegergerkan, tanu se tou tumoutou, takar i maapu um posan Mauri itii.

Ya maapula um posan itii tare rumirimei ung giyo, wo reimo mĕmĕrĕmĕrĕn wo reimo mahagerger un uluna, woan siyan tare ilĕwĕng. ***



·         Sketsa Kabasaran dari buku Die Ostasiatische Inselwelt dari Dr.G.Friedmann 1868.

Rabu, 19 Juni 2019

Mengenang (Pula) Distrik Sarongsong




Jalan di Tumatangtang.



Sarongsong adalah salah satu dari empat distrik yang telah membentuk Kota Tomohon sekarang. Dibanding distrik-distrik lain, besar bedanya. Bekas Distrik Tomohon terlestari sebagai stad dan identitas Kota sekarang. Bekas Distrik Kakaskasen masih lestari namanya pada empat kelurahan di Kecamatan Tomohon Utara. Sementara bekas Distrik Tombariri di Woloan dan Tara-Tara dan nama kecamatan yang awet di pantai barat Minahasa (Kecamatan Tombariri).

Sarongsong justru hilang. Tidak menyisakan nama resmi, meski masih ada dua negeri bekas ibukota distrik dan tiga negeri lain yang sekarang menjadi kelurahan di Kecamatan Tomohon Selatan serta dua desa di Kecamatan Sonder Minahasa.

Sekarang ini nama Sarongsong tinggal embel-embel tambahan di belakang bekas dua negeri Tumatangtang dan Lansot. Negeri-negeri yang telah mekar menjadi Kelurahan Tumatangtang, Tumatangtang Satu, dan Lansot.

Padahal, di pertengahan abad ke-19, ibukota Distrik Sarongsong pernah mencakup tujuh negeri. Pinangkeian (dari statistik Dr.Pieter Bleeker akhir tahun 1852 berpenduduk 244 jiwa). Koror (146 jiwa). Wuwuk (142 jiwa). Regesan (139 jiwa) dan Kapoya (132 jiwa). Sementara dua negeri tersisa sekarang, yakni Tumatangtang berpenduduk 140 jiwa dan Lansot 136 jiwa.

Karena kecil dan penduduk sedikit, kolonial Belanda lewat Residen Manado dan Kontrolir Tondano menyederhanakan negerinya. Tahun 1874 Nicolaas Graafland menyebut ibukotanya tinggal dibentuk oleh empat negeri. Pinangkeian (berpenduduk 369 jiwa). Tumatangtang (324 jiwa). Koror (324 jiwa), dan Lansot (309 jiwa). Wuwuk, Regesan dan Kapoya telah digabung dengan negeri-negeri di atas.

Kondisi kota Distrik Sarongsong masih dicatat Graafland tahun 1888 berpenduduk 1.321 jiwa. Pinangkeian masih menjadi negeri terbesar dengan 376 jiwa. Menyusul adalah Tumatangtang 343 jiwa, Koror 324 jiwa dan Lansot 278 jiwa.

Penyederhanaan besar-besaran dalam sistem pemerintahan kolonial di Minahasa berlangsung di Sarongsong bulan April 1880 ketika Kepala Distrik Sarongsong terakhir Majoor Zacharias Wawo-Roentoe (atau juga sering dicatat Wawo-roentoe atau Waworoentoe) dipensiun. Baru tanggal 8 Juni 1888, secara resmi turun beslit menegas penyatuan Distrik Sarongsong dan Distrik Tomohon dengan nama Distrik Gabungan Tomohon-Sarongsong.

Menantu Majoor Zacharias yakni Herman Alexander Wenas (kelak bergelar Majoor) yang menjabat Hukum Besar Kepala Distrik Tomohon yang sejak tahun 1880 telah memimpin Sarongsong, dibeslit resmi sebagai Kepala Distrik (Gabungan) Tomohon-Sarongsong.  

Sarongsong tinggal menjadi Distrik Bawahan (Onderdistrik, setingkat kecamatan). Jellesma Wawo-Roentoe, adik Majoor Zacharias, kemudian Herman Carl Wajong dan A.Wenas sebagai Hukum Kedua berkedudukan di Tumatangtang Sarongsong.

Buntut lain dari beslit pemerintah Hindia-Belanda tahun 1888 itu adalah penggabungan negeri-negerinya, sehingga tertinggal Tumatangtang dan Lansot. Pinangkeian digabungkan dengan Lansot, dan Koror dengan Tumatangtang.

Sarongsong yang tinggal sebagai distrik kedua benar-benar hilang di tahun 1919 ketika Distrik Tomohon-Sarongsong yang dipimpin Hukum Besar Theodorus Estefanus Gerungan dihapus. Yang tinggal adalah nama Distrik Tomohon dipimpin Hukum Besar Willem Abraham Wakkary.

Ada upaya untuk melestarikan nama Sarongsong, ketika dilakukan penyederhanaan lagi di tahun 1915. Ketika itu negeri Tumatangtang dan Lansot digabung menjadi satu negeri sengaja dinamai Sarongsong dengan dipimpin Hukum Tua Habel A.Wenur.

Namun, hanya bertahan lima tahun sampai tahun 1920 ketika negeri Sarongsong dibubarkan, dan terbagi ulang menjadi Tumatangtang dan Lansot.

Pemukiman Sarongsong di bagian barat yang yang telah dihuni orang-orang Islam asal Banten bekas interniran Belanda, yakni Kampung Jawa dimandirikan dipimpin seorang hukum tua sendiri sejak tahun 1928.

Negeri lain yang pernah menjadi wilayah bekas Distrik Sarongsong, adalah Lahendong, Tondangow dan Pinaras, sekarang kelurahan-kelurahan di Kecamatan Tomohon Selatan. Kemudian Rambunan dan Sawangan yang sejak tahun 1919 digabungkan dengan Distrik Sonder (sekarang kecamatan di Minahasa, meski ada versi lain sudah terjadi sejak tahun 1908).

NEGERI AWAL
Sarongsong telah ada sejak jaman pra-sejarah. Dotu Manarongsong yang disebut juga Manaronsong atau Sumarangsang dengan istrinya Wawu Winenean disebut-sebut menjadi leluhur awal yang bermukim di kawasannya. Ia dipercayai menemukan sumber mata air serta membuatkan saluran air yang kelak bernama Sarongsong mengenang namanya.

Penulis Belanda Dr.Johan Gerhard Friedrich Riedel menyebut Manaronsong dengan istrinya Winenean dari golongan Makarua Siow dengan sepuluh-sembilan anaknya juga yang menemukan bukit Wawo di bagian timur Sarongsong. Saudara lainnya Kumiwel, dan istrinya Pahirangan dengan tiga anaknya berdiam berdekatan di bukit Kuranga. Lololing dengan istrinya Rinerotan dan enam anaknya di bukit Puser in Tana dekat Tomohon serta Pinontoan di puncak Gunung Lokon dan Rumengan di puncak Gunung Rumengan bersama istri dan anak-anak mereka.

Kemudian dari kalangan Makatelu Pitu, Siow Kurur berdiam di Pinaras. Lalu Repi dengan istrinya Matinontong dan Tontongbene serta lima anaknya berdiam di Rano Lahendong. Berdekatan Rano Lahendong berdiam di lokasi Walehlaki, saudaranya Pangibatan dan istrinya Tinoring dan lima anaknya.

Setelah pembagian di batu Pinawetengan, dan berpencarnya suku Tombulu di Meiesu, Riedel mencatat Tumbelwoto sebagai pemimpin Sarongsong membangun pemukiman di lokasi Tulau (bermakna tertinggal) [1], sekitar 2,5 kilometer dari Tumatangtang sekarang. Saudaranya Kaawoan membawa sebagian penduduk lain mendirikan Tombariri.

                    Baca Mengenang Distrik Kakaskasen.

Dari famili Kaawoan, Walean keluar dari Tulau membuka di sebelah selatan Kuhun. Cucu Walean yakni Sumakul, Rarakutan, Tumurang dan Mandagi  mendirikan negeri Pinangkeian dan Koror. Penduduk negeri-negeri Tulau, Kuhun, Pinangkeian dan Koror meneguhkan secara resmi nama Sarongsong atau Toun Sarongsong (Tonsarongsong) sebagai pakasaannya.

Legenda menyebut pula lokasi bernama Toungkuow, sekitar 4,5 kilometer barat Tumatangtang, pernah dimukimi penduduk. Disebut Toungkuow, karena masa itu penduduk saling menyapa dengan meniru bunyi burung kuow. Bilamana yang disapa tidak menyahut dengan kode sama, dia akan dianggap musuh dan dibunuh.

Menurut Riedel sempat timbul Perang Pinangkeian. Terjadi perbantahan anak-anak Tumurang dari Pinangkeian dengan anak Ogi dari Tulau, bersumber dari permainan daun Tawaang. Buntutnya kedua orang tua mereka yang bersahabat berseteru di tempat minum kehetan, lalu berlanjut dengan peperangan. Hari itu pula anak Ogi terluka. Orang-orang gagah dan teterusan Tulau menyerbu dan membunuh banyak penduduk Pinangkeian, termasuk teterusan Watuseke dan Lekuyan. Perdamaian baru terjadi ketika orang-orang Pinangkeian minta damai lewat penduduk negeri Katingolan di Tombariri.

Legenda dan tradisi setempat mengungkap adanya peristiwa sinarongsongan um wene. Tokoh adat Sarongsong Arie Michael Mandagi dan Jootje Kambey di awal tahun 1980-an mengisahkan penduduk Sarongsong (sudah di Tulau) berangsur-angsur bertambah. Lalu pada suatu masa terjadi paceklik. Paceklik itu juga disebabkan tercurinya benda sakti Sarongsong bernama Kelana Mahuang yang menjadi lambang persatuan dan pemberi isyarat baik dan buruk [2].

Disebutkan, benda tersebut dicuri oleh orang Kalahwakan (penduduk dunia tengah, udara) [3]. Maka, dibuatlah di Lezaz (Lezar, halaman atau lapangan) acara foso negeri, yakni foso Tumalinga si Kooko’ (mendengar burung) dengan Mengalei (Menengoh, Menalinga) di Watu Penginaleian di Tulau (tahun 1983 masih ada sisanya berupa dua batu tegak di dekat Lezaz) yang dipimpin oleh walian wanita. Dipotong babi buat persembahan, sementara walian menari Maengket dan meniup suling.

Mengalei bersambut dimana burung Manguni menyahut memberi pertanda baik. Maka, konon, ada air lagi, kemudian turun simbagu, sejenis padi. Karenanya penduduk menjadi tidak susah lagi.

Konon, dari simbagu inilah, timbul nama sinarongsongan um wene, atau pancuran padi, karena simbagu tersebut jatuh dari Kalahwakan persis air memancur.

Nama Sarongsong tercatat dalam dokumen, diawali laporan Padri Blas Palomino yang bulan April 1619 mengunjunginya dan menulisnya sebagai Saronson. Kemudian juga Gubernur Kompeni Belanda Dr.Robertus Padtbrugge mencatatnya tahun 1682 sebagai Zeronson atau Seronson, berpenduduk 70 awu atau sekitar 350 jiwa. Dari peta masa Padtbrugge, posisi negeri Sarongsong ketika itu berada di sebelah barat Lansot dan Tumatangtang sekarang, dekat sekali dengan Katingolan yang saat itu menjadi ibukota Balak Tombariri.
             
                  Lihat peta masa Padtbrugge di Woloan, Ibukota Awal Tombariri.

Salah seorang tokoh Sarongsong terkenal dalam legenda-legenda setempat adalah Tonaas Kalele, yang menurut Graafland adalah cucu Kalele Tua dan anak Karwur dengan Pasiyowan. Ia memunculkan kisah Kinupitan, dan gelaran Kalelekinupit untuknya. Ditutur, karena melanggar kaposanan, tewas terjepit batuan-batuan, yang meninggalkan sampai sekarang lokasi bernama Kinupitan di dekat Tulau.

PAKASAAN HINGGA DISTRIK
Kepala Pakasaan Sarongsong di masa-masa awal adalah keturunan dari Kalele Tua. Dimulai dari Manangka, Wuwung, serta Mandagi yang terkenal berperang dengan Raja Bolaang Loloda Mokoagow.

Dari istrinya bernama Kinetar atau disebut juga Kumetar atau Kimetar, Mandagi berputra Lontoh yang kemudian terkenal dengan nama Lontoh Kolano atau disebut juga Lontoh Mandagi.

Sketsa Lonto Kolano.

Lontoh menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di Minahasa. Ia dicatat menjadi duta yang berangkat ke Ternate tahun 1654 mengundang Belanda bersama Supit dari Tombariri, Paat dari Tomohon dan Lontaan dari Kakaskasen. Dalam kontrak pertama dengan Kompeni Belanda tanggal 10 Januari 1679, namanya tidak tertera. Tapi, pada kontrak kedua yang berlangsung 10 September 1699 di Benteng Manado, namanya bersama Supit dan Paat sejajar sebagai Hoofd Hukum Majoor, yang membuat dirinya sangat berkuasa, sementara kepala balak lain sekedar bergelar Hukum Majoor [4].

Lontoh diganti tahun 1719 sebagai Kepala Balak Sarongsong oleh Rondonuwu anaknya tertua dari istri bernama Sumengkar atau Sengkar. Namanya dalam dokumen turunannya dicatat sebagai Rondonuwu Lontoh, dan jabatannya banyak disebut sebagai Hulubangsa Sarongsong, gelar lain dari para kepala balak Minahasa masa itu. Ikut menjadi pembantunya adalah iparnya Wenur yang disebut pula Waworuntu, suami adiknya Topowene.

Penguasaan tanah dan pengembangan perkebunan diduga kuat telah dimulai di masa Lontoh. Tanah-tanah milik Lontoh dan ayahnya Mandagi Wuwung berada di lokasi Wuwunongan, Lumales, Boyong, Pengagayongan, Linow Oki, pinggiran timur Sarongsong, Tampang, Moreo, Tendan dan Kaima. Sementara tanah milik Rondonuwu Lontoh berada di Pahkontaan, Rumesik, Rugew, Wunek, Pakewa (dekat dengan Linow), Lumales, Palawas, Boyong, Aki Tower, Uwalaan, Kaima, Linow Wangko, Wuwunongan, Rumorong, Limo dan Kasamba. Lokasi-lokasi ini sampai awal abad ke-20 masih dikuasai keturunan mereka.

Dari istrinya bernama Ramei putri Hukum Kamasi Wowor terlahir Tongkotou yang kelak menggantikannya menjadi Kepala Balak Sarongsong, periode 1760-1790.

Masa Majoor Tongkotou, dikisahkan, terjadi peristiwa alam, sehingga ibukota balak di Tulau ditinggalkan (dari versi ini nama Tulau muncul). Penduduk pindah bermukim di lokasi yang sekarang disebut Amian-Nimawanua, sekitar 4 Km dari Tumatangtang dan 1,5 Km dari Lansot. Amian-Nimawanua sebenarnya bersambungan dan menjadi satu kesatuan dengan Tulau.

Tokoh Sarongsong di masanya adalah Sumendap, seorang walian yang memimpin upacara pemindahan, dan diwarugakan di Amian-Nimawanua (lokasi waruganya telah hancur di tahun 2000-an).

Dihadiskan penduduk Sarongsong di Amian-Nimawanua bermukim lebih seabad. Konon, di tempat ini terjadi satu musibah. Awal mulanya ketika di rawa Wune (sekarang masuk Lansot) tertangkap ikan sogili raksasa. Penduduk memakannya, tapi tidak habis. Sisanya membusuk dan berulat. Ulat-ulat begitu banyak hingga mengganggu penduduk, karena berada di mana-mana. Makanan dan peralatan makan dirayapinya. Baru dengan upacara Marages atau Menombari dipimpin walian wanita, penduduk berhasil mengusir ulat-ulat tersebut memakai sapu lidi dan tumbuhan bunga pagar (zeze wanua, rerehan). Ulat-ulat diusir hingga ujung batas negeri (akazan um wanua atau sela um wanua).

Lokasi rawa Wune.

Tongkotou diganti putranya dari istri Tongkang bernama Tamboto, memerintah Sarongsong tahun 1790-1804. Dari istrinya Banon, ia memperoleh putri bernama See dan Tumete Liwun alias Maria Lontoh yang diperistri Pangemanan anak Lontoh Tuunan dari Kamasi.

Lontoh Tuunan, Kepala Balak Tomohon menjadi berkuasa di Sarongsong, karena masih terhitung cicit dari Lontoh Mandagi. Ayahnya Wowor (2) adalah putra Hulubangsa Rondonuwu Lontoh, dan merupakan anak bersaudara dengan Tamboto. Cicit lain Lontoh Mandagi, bernama Manopo, anak Regar dan cucu Waworuntu yang mengawini Topowene putri Lontoh Mandagi menjabat sebagai Hukum Kedua (Kumarua), berkedudukan di Lahendong.

Kepala Balak Sarongsong berikutnya adalah Kojongian, dikisahkan merupakan pembantu Lontoh Tuunan. Ia meneken kontrak dengan Residen Inggris Thomas Nelson tanggal 14 September 1810 atas nama Balak (dicatat sebagai Department) Sarongsong. Namanya berada di urutan 21 (di bawah Kalalo dan di atas Mokolensang).

Kemudian putra Manopo dari istri Wuaimbene bernama Waworuntu menjadi Kepala Balak (lalu Distrik) Sarongsong sejak tahun 1819. Ia memperoleh gelar kehormatan Majoor. 

Salah seorang panglimanya yang terkenal ketika itu adalah Mandagi yang tahun 1829 tampil memimpin kontingen pasukan Tulungan berasal Sarongsong dalam Perang Diponegoro, dan memperoleh pangkat Kapitein.

Kubur Kapitein Mandagi di Tumatangtang.

Tanggal 1 Juli 1835, mengatasnamakan rakyat Balak Sarongsong, Waworuntu membeli tanah Kalakeran Sarongsong di Manado dari Martinoes Catharinus Lans seharga 1.000 gulden. Tanahnya dibagi dengan Balak Tomohon dan Kakas, karena dibeli berpatungan, dimana ikut bertanda Kepala Balak Tomohon Ngantung (Mangangantung) dan Kepala Balak Kakas Inkiriwang.

Tanggal 8 Februari 1845 terjadi gempabumi dahsyat di Minahasa. Rumah-rumah besar dan bertiang tinggi di Amian-Nimawanua hancur lebur dan jatuh banyak korban jiwa. Namun, dari laporan resmi Residen Manado yang dikutip koran-koran masa itu hanya  lima penduduk yang kehilangan nyawa, sementara semua rumah penduduk runtuh, tinggal menyisakan empat rumah yang juga mengalami kerusakan parah.

               Baca 1845, Gempa Menghancurkan di Minahasa.

Penduduk lari mengungsi. Untuk memasak mereka menggunakan bambu (lulut) dan minum dengan zaun dari bambu. Setelah keadaan aman, dianjurkan Belanda dan diperintah oleh Majoor Waworuntu, penduduk meninggalkan Amian-Nimawanua dan Tulau, pindah di dekat jalan umum yang waktu itu telah dibuka beralaskan batu oleh pemerintah kolonial.

Dikisah, tanggal 1 Januari 1846 di bawah pimpinan Waworuntu dan Hukum Kedua Kalalo, penduduk Sarongsong pindah menuju tempat baru. Untuk itu sesuai tradisi leluhur, di Watu Lelepouan (berupa dua batu tegak yang sekarang berada sekitar belasan meter dari gedung gereja GMIM Syalom Tumatangtang) diadakan foso negeri, yakni Tumalinga dengan Menengoh dalam tarian Maengket, di mana burung Manguni menyahut dan memberi pertanda yang bagus.

Burung tersebut terbang diikuti rombongan penduduk. Awalnya burung tersebut bertengger di pohon Lansot (langsat), lalu terbang dan hinggap di pohon Tumatangtang. Kemudian ke pohon Koror, singgah (Pinangkeian) dan terbang terus hingga ke ujung (Kapoya). Maka segera berdiri lima negeri baru dalam Balak Sarongsong. Lansot, Tumatangtang, Koror, Pinangkeian dan Kapoya. Kelima negeri ini membentuk ibukota baru Sarongsong. Di masa kemudian baru berdiri negeri Wuwuk, Regesan dan Kapoya yang juga tidak berumur panjang.

Majoor Waworuntu yang beristri tiga, setelah menentang agama Kristen, pada hari Minggu tanggal 11 April 1847 bertempat di gereja Tomohon dibaptis Protestan oleh Inspektur NZG Ds.L.J.van Rhijn. Ia memakai nama (sesuai dokumen dan di kuburnya) Herman Carl Wawo-Roentoe.

           Baca pula Jalan Panjang Gereja GMIM Sion.

Majoor Herman Carl Wawo-Roentoe meninggal tahun 1854. Anak tertuanya Zacharias Wawo-Roentoe yang sebelumnya menjabat Hukum Kedua, diangkat sebagai pengganti. Adiknya Albertus Bernadus Wawo-Roentoe mengganti sebagai Hukum Kedua, namun tahun itu juga diangkat menjadi Jaksa Landraad Manado (dan tahun 1861 sebagai Kepala Distrik Sonder).

Zacharias memperoleh titel kehormatan Majoor 30 Juni 1855, dan memerintah Sarongsong hingga dipensiun dengan beslit bulan April 1880. Dengan demikian Distrik Sarongsong berakhir. Majoor pensiunan Zacharias Wawo-Roentoe meninggal setahun kemudian, tanggal 8 Juli 1881. ***




[1]. Tulau ditafsirkan pula dari selalu gagalnya musuh-musuh Sarongsong yang hendak menyerang dan menyamun negeri, sebab tertinggal tidak dapat meloloskan diri, dibunuh dan dipancung kepalanya.
[2]. Legenda lain mengisahkan, benda pusaka negeri Kelana Mahuang itu dicuri penduduk Meiesu, dan dapat direbut kembali oleh Tonaas Kalele Tua, anak Palohun dan Wanenean, menurut Graafland, keturunan Pasiyowan 1 dengan suaminya Rumengan.
[3]. Menurut Graafland, merupakan konsepsi masyarakat Minahasa kuno, bumi didiami manusia, bumi tengah atau udara didiami roh-roh manusia yang menjadi dotu atau opo, dan Empung berdiam di dunia atas yang disebut Kasendukan.
[4]. Beberapa kalangan menyamakan Lontoh Mandagi dengan Kapitein Pedro Ranti yang menjadi salah satu saksi kunci perjanjian Minahasa-Belanda 10 Januari 1679 yang mengerti bahasa Melayu serta telah beragama Kristen. Versi ini Lontoh dibaptis Yuan Yranzo, lalu versi lain sempat dikirim mengikuti pendidikan di Seminari Ternate. Kendati demikian, banyak legenda Tombulu justru menyebut dari tiga serangkai Minahasa itu baru Supit yang melek aksara dan bahasa Melayu.



·      Sumber foto: Didi Sigar, Jootje Umboh dan Bode Talumewo.
·      Sumber tulisan: buku ‘‘Riwayatmu Tomohon’’ 1986, buku ‘’Tomohon Kotaku’’. Naskah ‘’Tomohon Dulu dan Kini’. Buku Dr.P.Bleeker ‘’Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel’’ 1856. Buku Nicolaas Graafland (terjemahan Yoost Kullit), ‘’Minahasa Masa Lalu dan Masa Kini’’ 1987, dan buku ‘’Inilah Kitab Batja akan Tanah Minahasa’’1863, serta buku Dr.J.F.G.Riedel‘’Inilah Pintu Gerbang Pengetahuwan itu’’ 1862.