Tampilkan postingan dengan label Apa dan Siapa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apa dan Siapa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 September 2019

Majoor Ngantung Palar








Waruga Ngantung Palar.







Mangangantung nama alifurunya, tapi dalam sejumlah dokumen dicatatkan sebagai Ngantung. Ia adalah salah seorang dari banyak Kepala Distrik Tomohon yang terkenal. Dari pihak ibu ia masih keturunan Lokon Worotikan dan Supit Sahiri Macex. Dari pihak ayah ia keturunan dari Tololiu (tua) dan Paat Kolano.

Ayahnya adalah Palar Hukum Matani, ibunya Wurimbene.1]

Awalnya Ngantung menjabat sebagai Hukum setelah penduduk Matani berpindah dari Nimawanua ke lokasi di Matani Tiga sekarang. Ia naik menjadi Kumarua (Hukum Kedua) di masa pamannya dari pihak ibu Majoor Mamengko (Mamangku) menjadi Kepala Balak (kemudian Distrik) Tomohon. Ibunya Wurimbene (Wudimbene) adalah anak Manoppo bekas Kepala Balak Tomohon dengan Maria Posumamuri, seorang wanita yang telah menjadi Kristen. 2]

Ketika pamannya Majoor Mamengko diberhentikan, Ngantung menjadi Kepala Distrik Tomohon yang baru dan kemudian memperoleh gelar kehormatan Majoor.

Ia diperkirakan lahir di tahun 1780-an atau 1790-an, dan menjadi Kepala Distrik Tomohon sejak awal tahun 1830-an.

Nama Ngantungnya (dengan gelar Hukum Besar) tercatat ketika bertindak atas nama Distrik Tomohon membeli tanah Kalakeran Tomohon di Manado. Tanggal 1 Juli 1835 bersama Kepala Distrik Sarongsong Hukum Besar Waworuntu (kelak Herman Carl Wawo-Roentoe) dan Kepala Distrik Kakas Hukum Besar Inkiriwang (Johanis), mereka membeli di Manado dari tuan tanah Martinoes Catharinoes Lans yang juga menjabat sebagai Sekretaris Keresidenan Manado tanah luas seharga 1.000 gulden. Tanah tersebut menjadi tanah Kalakeran Distrik Tomohon di Manado. Belakangan menjadi Kampung Tomohon di Manado, juga Kampung Sarongsong dan Kampung Kakas. 3]

Tahun 1845 Zendeling Nicolaas Philip Wilken menggambarkan Majoor Ngantung sudah berusia tua, berambut putih, tidak dapat membaca dan menulis. Ia harus minta tolong orang lain untuk membaca apabila ada surat dari Residen.4]

Ngantung baru memperoleh gelar Majoor di tahun 1844. Gelar Majoor diberikan pemerintah Belanda kepada Kepala Distrik yang berjasa dalam penanaman kopi kebijakan tanam paksa kolonial. Sebelumnya menurut Wilken ketika ia mulai bekerja di Tomohon 1 Februari 1843, Ngantung masih bergelar Hukum (Besar) saja. 5]

Ngantung menjadi oposisi besar bagi agama Kristen di Tomohon. Ia menjadi pemimpin besar (Walian Wangko) agama leluhur Minahasa, memimpin langsung upacara-upacara pengorbanan (foso) yang dianggap Wilken sebagai pesta yang memiskinkan penduduk. Ia mencatat di tahun 1843, foso yang berlangsung di negeri Tomohon saja sebanyak 124 foso, dengan biaya yang dihabiskan mencapai 20.000 gulden.

Zendeling pertama Tomohon Johan Adam Mattern berkali-kali melakukan pendekatan kepadanya. Mattern mencatat dalam laporan kepada NZG kegiatannya selang 1 Juli 1839-Juni 1840, kalau Kepala Distrik Tomohon di masa awal kegiatannya pada 1839 sempat datang kepadanya dan menjadi muridnya untuk beberapa waktu. Tapi segera tinggalkan Mattern, kembali dengan aktivitasnya sebagai pemimpin agama leluhur karena beberapa keuntungan dengan posisi tersebut.

Harapannya sempat timbul di tahun 1841, ketika ia menegur Ngantung dalam sebuah acara foso dengan menangis. Ngantung sempat tergerak.

Namun, harapan Mattern tidak pernah terwujud. Ngantung hanya sewaktu-waktu mendukung upayanya dalam bidang pendidikan, dengan memerintahkan para murid harus masuk sekolah. Ia pun meminta dibuka sekolah di beberapa negeri bawahannya.

Ngantung masih tetap sebagai kepala dari para imam leluhur, yang jumlahnya mencapai 30 hingga 50 walian. Belum terhitung para imam dari foso Mawasal (khusus orang mati), Meeres (mengenang malam terakhir berkabung), Menanalinga (pendengar burung), Tumutungep (pada pembukaan sawah) dan Leleen (imam di sawah dari penaburan hingga panen padi). Bahkan, menurut Wilken, Tonaas dan Teterusan di kalangan Tombulu juga adalah imam alifuru. Tonaas sebagai imam pemburu dan Teterusan adalah imam atau kepala pemberani, dengan menafsir mimpi, tangisan, bunyi burung, ular merayap dan sebagainya.

Sebagai Kepala Distrik, Ngantung adalah Walian Agung.

Orang-orang Kristen dihambatnya dengan melarang dan memberi sanksi keras dengan rotannya. Di hari Minggu ia memerintahkan penduduk tetap bekerja di kebun. Penduduk masa itu terkena kerja wajib (heerendienst) untuk pemerintah kolonial, dengan mengerjakan jalan atau bekerja di kebun kopi. Selain itu harus bekerja negeri dengan pinontol dan sawang untuk para kepala, kerja wajib untuk Kepala Distrik mau pun Hukum di bawahnya.

Hal ini juga yang terjadi ketika Wilken bertugas menggantikan Mattern sejak 1 Februari 1843. Ia mencatat permusuhan terhadap Kristen yang dilakukannya. Tidak jarang ia menghukum dengan rotan orang yang masuk Kristen atau ke gereja. Ia sering terdengar memarahi dan mengancam. ‘’Syukurlah, meskipun Majoor menentang, Kristen tumbuh di bawah matanya sendiri. Ya, bahkan di keluarganya sendiri, di antara anak-anaknya.’’

Hubungan keduanya cukup dekat, karena Wilken banyak kali mendatangi rumahnya yang berada di sebelah gedung gereja (masuk Paslaten). Rumah Wilken sendiri berada di sebelah lain dari gereja (di Talete). Rumah Majoor Ngantung ini didekorasi dengan banyak tengkorak kepala manusia yang masih disaksikan naturalis Inggris Alfred Russel Wallace pada Juni 1859.

Wilken melakukan pendekatan dengan cara halus bahkan kadang-kadang menegurnya dengan keras. Ia pun memberikan obat ketika Ngantung sakit, mendatangi dan mendoakannya.

BERUBAH
Menurut Wilken, ada kecenderungan banyak orang ingin masuk Kristen, tapi takut padanya. Mereka akan mengikuti ketika Majoor Ngantung memimpin dan mengucapkan selamat tinggal pada agama leluhur.

Di saat-saat percakapan keduanya, Ngantung yang menjadi lunak berkali menjanjikan untuk menjadi Kristen. Namun, segera melupakannya begitu saja.

Tapi, kemudian terjadi perubahan, ketika Wilken menegurnya di saat ia terbaring sakit akan pentingnya pendidikan dengan menunjuk pada tidak tahunya membaca dan menulis. Terjadi perubahan dengan perintahnya sehingga anak-anak semakin rajin masuk sekolah dan sekolah menjadi teratur. Pendidikan saat itu menjadi fokus utama dari pemerintah kolonial, dengan seringnya inspeksi dilakukan Kontrolir Tondano yang membawahi Tomohon dan para Residen.

Bahkan di tahun 1844 itu, ia mengirim putrinya ke sekolah yang berada di depan rumah Wilken. Sang putri di sore hari mendatangi rumah Wilken, untuk belajar dari istri Wilken, sebagai anak piara, dilatih baca tulis, ketrampilan dan lain sebagainya. 

Inspektur NZG Ds.L.J.van Rhijn menyebut di tahun 1847 ia bertemu tiga orang putri Majoor yang bersekolah di Sekolah Genootschap (di Kamasi) tersebut.

Kemudian perubahan lebih besar terjadi tahun 1846 ketika pada bulan September, ia mengirim Majoor Muda, putra dan pewarisnya untuk mengikuti pendidikan. Hal yang tentu saja sangat menggembirakan Wilken. 6]

Majoor Ngantung memperistri wanita bernama Tolang. Berbeda kepala-kepala lain di masa itu yang memiliki beberapa istri, ia hanya memiliki Tolang satu-satunya.

Ketika Tolang meninggal di tahun 1845, Wilken mencatat upacara pemakamannya sangat besar. Selama beberapa hari dilaksanakan perkabungan dengan tradisi dan adat budaya Tombulu ketika itu. 7]

Tahun-tahun tersebut telah terjadi banyak perubahan dalam diri Majoor Ngantung. Ia lebih bersikap lunak.

Ds.van Rhijn menulis ketika ia tiba di Tomohon, sang Majoor melakukan kunjungan kehormatan kepadanya. Ia membalas berkunjung ke rumahnya. Rumahnya disebut van Rhijn seperti isi rumah di Eropa, sama seperti dengan gaya berpakaiannya.

‘’Namun, pria ini masih kafir, menjadi benteng utama Alifuru,’’ tulisnya. Menurut van Rhijn, prasangka dan kepentingan pribadi sejauh ini yang mencegahnya untuk menjadi seorang Kristen.

Ketika Kepala Distrik Sarongsong Majoor Waworuntu dipastikan hari pembaptisannya, van Rhijn dengan Wilken mendekatinya lagi. Majoor Ngantung berjanji akan menghadiri ibadah di gereja yang berada di dekat rumahnya.

Dan kali ini, Majoor Ngantung menepatinya.

Untuk pertamakalinya ia menginjak gedung gereja dan mengikuti ibadah serta pembaptisan Majoor Waworuntu yang berlangsung pada hari Minggu tanggal 11 April 1847. Temannya dicatatkan dengan nama Herman Carl Wawo-Roentoe. Selain Waworuntu, dibaptis van Rhijn bersamanya seorang pemuda dan empat anak kecil.

Van Rhijn juga Wilken mencatat dalam laporan yang dipublikasi 1848, Majoor tua Tomohon setelah pembaptisan tersebut, telah menyatakan ingin menjadi Kristen.

Tapi, tidak dapat dipastikan kalau pembaptisannya terjadi di tahun 1847 atau sesudahnya, karena Wilken tidak memerincinya.

Tahun 1847 itu, Wilken menyebut melakukan pembaptisan terhadap 60 orang di gedung gereja di bulan September. Tapi tidak disebutnya kalau ada orang menonjol seperti Majoor Ngantung yang dibaptisnya.

Karena sampai sekarang buku induk baptisan Tomohon belum ditemukan, tanggal dan tahun tepat pembaptisannya belum diketahui. Demikian juga belum pasti siapa pembaptisnya. Bisa jadi Wilken sendiri atau pejabat Predikant Manado Fokke Hendriks Linemann yang sering memimpin ibadah di Tomohon.

Begitu pun, belum ditemukan catatan kapan persis Rondonuwu dan saudara-saudara wanitanya dibaptis Kristen.

Namun, dari beberapa berita singkat, diungkap kalau anak-anaknya dibaptis sebelum Majoor Ngantung menjadi Kristen. Seperti terjadi dengan Majoor Sarongsong, dimana banyak anak-anaknya telah lebih dulu dibaptis. Ia hanya dicatat telah menjadi Kristen sebelum meninggal.

Rondonuwu, anak Majoor Ngantung memakai nama Kristen Roland Ngantung.

Majoor Ngantung Palar meninggal tahun 1853. Ia dikuburkan dalam waruga di lokasi yang diketahui menjadi budelnya, sekarang di seberang pertigaan Matani, masuk Kelurahan Matani Tiga.

Waruganya dipugar tahun 1974, karena anjlok. Sementara adiknya Tololiu yang menjabat Hukum (Tua) Matani dikubur di dekat Nimawanua, ikut dipindah dikubur ulang di dekat Majoor Ngantung. Tololiu sendiri meninggal tahun 1875.

Roland Ngantung menggantikan ayahnya tahun 1853 memerintah Distrik Tomohon, dengan gelar Majoor. Ia diganti tahun 1862 oleh pamannya Lukas Wenas. ***


------
1] Graafland mengutip Wilken menulis namanya Talar. Waruga Palar berada di Nimawanua, negeri tua Tomohon. Di akhir tahun 1960-an telah dibuka penutupnya.
2] Disebut pula Wuaimbene.
3] Tanah Kalakeran menjadi tempat pengumpulan hasil bumi Tomohon yang dibawa dengan dipikul, berkuda dan pedati sehingga dilengkapi gudang, dan rumah singgah Kepala Distrik ketika berkunjung kepada Residen. Tanggal 22 Juni 1870 tanah Kalakeran Tomohon, bersama tanah Kalakeran Kakas bertambah luas dengan pembelian 33.210 m2 melalui lelang umum tanah bekas milik Jan Martinoes de Graaf dimana bertindak sebagai pembeli atas nama Distrik Tomohon Hukum Kedua Wenas (Herman), dan dari Kakas Hukum Kedua Soemayku (Petrus). Tanah yang dicatat berada di Wenang seluas 33.210 m2 bekas eigendom verponding No.100 ini kemudian dikonversi menjadi Hak Guna Bangunan No.22.
4] Berikutnya di tiap distrik ditempatkan penulis (schrijver).
5] Mattern dalam laporan tahun 1840 mencatat Ngantung sebagai Majoor. Kepala Distrik bergelar Hukum Besar, dan yang berjasa diberi gelar Majoor. Di masa berikut, gelar Hukum Besar berjenjang. Kelas dua, kelas satu, kemudian Majoor yang diusul Residen dan disahkan dengan keputusan Gubernur Jenderal.
6] Putra Majoor Ngantung adalah Rondonuwu. Anak tertua dari kepala distrik sampai saat itu otomatis sebagai calon pengganti, sehingga disebut Majoor Muda. Ialah Majoor Kepala Distrik Tomohon yang dicatat Graafland dan Wallace dalam buku mereka.
7] Waruga Tolang dipercayai berada di lokasi Matani Tiga, di ruas jalan kantor bekas Kejaksaan Negeri Tomohon.


·         Foto koleksi Bryan Nimitz Sondak.
·         Sumber tulisan: Maandberigt van het Nederlandsche Zendelinggenootschap 1841-1848. Mededeelingen NZG 1863,1864,1868. N.Ph.Wilken oleh Jonkvr.H.S.de la Bassecour Caan. Reis door den Indischen Archipel, 1849 oleh Ds.L.J.van Rhijn. De Minahassa, 1867 oleh N.Graafland, serta naskah Tomohon Dulu dan Kini.

Rabu, 18 September 2019

Jusuf Tumbelaka, Guru Tua Kakaskasen








Model gereja tua tempo dulu.





Sekarang, nama Jusuf Tumbelaka tidak banyak dikenal. Di Kakaskasen, apalagi di Tomohon, orang melupakannya.

Namun, di masa hidupnya, di abad ke-19 lalu, ia terkenal sebagai teladan. Terutama karena baktinya untuk Kakaskasen. Ia mengantar hampir semua anak-anak mengenal ilmu dan pengetahuan. Ia membukakan jalan bagi banyak orang untuk menjadi Kristen, ketika paganisme masih berakar kuat. Ia juga meletakkan fondasi untuk jemaat yang sekarang bernama Pniel yang telah mekar.

Jusuf Tumbelaka adalah tokoh dan perintis Kristen Protestan di Kakaskasen.

Ia lahir di Tondano, menjadi yang pertama dan terbaik dari murid-murid Zendeling Tomohon Nicolaas Philip Wilken. Wilken paling awal mengangkatnya menjadi guru Sekolah Genootschap di Taratara, ketika itu Distrik Tombariri. Ia tinggal di Taratara selama tiga tahun.

Masa itu pula, Jemaat Kakaskasen yang telah diawali Wilken tahun 1845, menurut pandita besar Tomohon ini, memerlukan banyak perawatan. Guru yang bertugas sebelumnya harus diberhentikan berulang kali atau yang lain minta berhenti karena putus asa. Akhirnya Wilken merasa yakin kalau Jusuf Tumbelaka yang paling tepat untuk menjadikan Kakaskasen menjadi baik.1]

Itu bukan tugas yang mudah yang dibebankan kepadanya. Kondisi negeri Kakaskasen dan distrik pada umumnya (Kakaskasen masih menjadi salah satu negeri dalam distrik senama yang kepalanya berkedudukan di Lotta) memprihatinkan.

‘’Lapangan kerja yang sulit, ketidakpedulian, ejekan, dan oposisi berulang kali dalam segala bentuk. Karena itu saya dapat membayangkan Tumbelaka mungkin menghela nafas ketika dia ditunjuk dalam pekerjaan ini. Tapi, dia percaya Tuhannya. Dia juga memiliki keunggulan yang besar,’’ tulis Pandita Jan Louwerier, pengganti Wilken yang menulis khusus riwayatnya tahun 1874. 2]

Sekolah Genootschap Kakaskasen (sekarang SD GMIM I) sebenarnya telah didirikan sejak tahun 1838 oleh Zendeling pertama Tomohon Johan Adam Mattern. 

Sulitnya bekerja di Kakaskasen dibuktikan guru pertama Kakaskasen Samuel Elias, yang memimpin sedari 19 April 1838 hingga 31 Desember 1840. Samuel Elias tidak bertahan dan minta pindah. Gagal di Kakaskasen, justru Samuel Elias berhasil ketika bertugas di Tataaran dengan menjadikan hampir seluruh penduduknya Kristen (1.499 orang dibaptis).

Dalam jurnal tahun 1845 dan 1846, Wilken menggambarkan kekecewaannya dengan kondisi sekolah di Kakaskasen. Ia hanya menemukan 43 anak, padahal yang terdaftar 160. Orang tua hanya menghargai sedikit pendidikan. ‘’Kebanyakan anak-anak menganggur, atau lebih tepatnya berkubang dengan malas dan bermain di pasir. Kalau seorang Hukum (Tua) berkeinginan, maka sekolah segera penuh dengan siswa. Tapi, anak-anak tidak boleh dipaksa untuk melakukan ini. Ini harus dilakukan secara sukarela,’’ tulis Wilken kepada pimpinan NZG yang dipublikasi 1847.

Maka, Jusuf Tumbelaka menjadi harapannya untuk membawa terang bagi Kakaskasen.

Namun, sebelum memulai pekerjaan di Kakaskasen, Jusuf Tumbelaka melangsungkan pernikahan tanggal 8 Oktober 1848 dengan seorang gadis dari Tomohon bernama Wilhelmina Lensun. Gadis ini adalah anak piara dalam rumah tangga Wilken. Mendapat pendidikan dan ketrampilan khusus dari Marie Elisabeth Hoedt, istri Wilken. Ketika itu model pendidikan (muridstelsel) awal di tangan para Zendeling NZG adalah murid pria (disebut murid piara) ditangani Zendeling, dan murid wanita (anak piara) di bawah istri Zendeling.

Wilhelmina digambarkan Louwerier sebagai wanita yang istimewa dan terhormat. Pendiam, rendah hati, saleh, terpelajar, dan selalu mendampingi suaminya dengan setia. ‘’Ia bekerja dengan kata dan contoh di kringnya. Melaluinya merupakan berkah bagi banyak orang,’’ catat Louwerier. 3]

Jusuf Tumbelaka mulai bertugas di Kakaskasen tanggal 8 Maret 1849. Dengan sabar, tidak berputusasa, dan selalu bersemangat, ia memimpin sekolah dan jemaat. Tanpa jemu mendekati penduduk, mengajak untuk masuk Kristen. Guru di masa itu sekaligus berfungsi sebagai Guru Jemaat (voorganger).

Pekerjaannya berbuah.

Awalnya perlahan, bahkan sangat lambat. Lalu meningkat dan bertambah. Hal yang menggembirakan bagi Wilken. Jusuf Tumbelaka bekerja tidak kalah semangat dengan gurunya.

Ia ditemukan selalu banyak pekerjaan. Mengajar dan memimpin jemaat. Ia bekerja di kebun dan berbasah di sawah. Ia belajar dan menasehati, mendirikan dan membangun sesuatu, karena ia adalah tukang yang sangat trampil. ‘’Dan, dia melakukan ini dengan setia dan rajin,’’ kata Louwerier.

Selama masa pengabdiannya sebagai pemimpin jemaat, banyak penduduk Kakaskasen dibawanya untuk dibaptis, disidi dan dinikahkan oleh Wilken dan kemudian penggantinya Louwerier.

Upaya tidak kenal lelahnya terlihat dari pertambahan orang Kristen. Di akhir tahun 1852 dari penduduk Kakaskasen sebanyak 1.107 jiwa, orang Kristen 123 jiwa, dengan 984 lainnya masih menganut agama lama (heidenen). Tahun 1860 dari jumlah penduduk 1.015, Kristen telah menjadi 326 orang. Jumlahnya dari tahun ke tahun terus bertambah.

Dalam buku baptisan, menurut Louwerier, selama masa aktivitasnya total penduduk dibaptis adalah sebanyak 776 orang. Terdiri 185 pria, 201 wanita, dan 390 anak-anak. Orang yang menerima sidi 118 orang, 44 pria dan 74 wanita. Sementara diantar ke perkawinan 125 pasangan.

Tidak heran Louwerier menyebut asal usul Jemaat di Kakaskasen mesti berterima kasih kepadanya.

Belum ratusan siswanya. Anak-anak Kakaskasen yang dipimpin Jusuf Tumbelaka di sekolah, rata-rata di atas 100 siswa. Siswanya datang pula dari Kinilow dan Kayawu. Tahun 1852 muridnya sebanyak 128. Tahun 1853 105. Tahun 1855 134. Tahun 1856 dan 1857 sama 134.  Tahun 1860 195 anak. Tahun 1861 152. Tahun 1868 turun 79. Tahun 1871 87. Tahun 1872 82. Tahun 1873 94. Lalu tahun 1874 di masa pensiunnya, muridnya terdaftar 140 anak yang kepemimpinannya dilanjutkan penggantinya guru Herling Turambi.

Louwerier yang mengambilalih pekerjaan Wilken di Jemaat Kakaskasen sejak tanggal 22 November 1868, memberi kesaksian terbaik tentang guru Tumbelaka. Jusuf Tumbelaka masih bekerja lebih 5 tahun bersamanya.

‘’Hidup dalam pendidikan agama, dia tahu benar untuk memanfaatkannya. Pendengar yang baik di gereja dan pendidikan, dan dia selalu menerapkan segalanya untuk dirinya sendiri. Kaya dengan contoh untuk memperjelas segalanya. Pembelajarannya selalu sangat praktis dan mudah dipahami. Setia dengan kerjanya. Terinspirasi, dijiwai dengan cinta untuk jemaat. Orang bisa percaya padanya, mengetahuinya dia tidak akan gagal untuk kebaikan jemaat,’’ puji Louwerier.

Louwerier memberi contoh keteladanan dari Jusuf Tumbelaka. Tahun 1871 ketika gereja tua yang juga dimanfaatkan untuk sekolah Genootschap yang dipimpinnya, hampir tidak dapat digunakan, karena terjangan angin topan. Jemaat berjanji akan membangun gedung darurat dari bambu. Tetapi janji yang dibuat oleh banyak orang itu tidak terpenuhi. Hanya sedikit orang yang bekerja.

Dan, Jusuf Tumbelaka datang. Meski pun menderita podagra (penyakit asam urat), dan hampir tidak mampu mempertahankan diri selama setengah jam. ‘’Dengan bersandar pada tongkat, meski tersandung-sandung, ia membantu. Sekarang di sini, lalu di sana. Ia mendorong banyak orang. Dan, ia tidak berhenti sampai bangunan tambahan ini selesai,’’ katanya.

Sang guru, mulai merasakan kekuatannya tidak lagi memadai untuk Jemaat Kakaskasen. Penyakitnya kadang-kadang memaksanya harus beristirahat selama berminggu-minggu, dan karena itu banyak kegiatan yang terpaksa terhenti. Ia tidak senang melihatnya. Itu sebabnya ia minta kepada Louwerier untuk berhenti dari jabatannya.

Hari Minggu tanggal 8 Februari 1874 di gedung gereja, Louwerier menyerahkan Jemaat dan sekolah Kakaskasen kepada penggantinya Herling Turambi, seorang bekas muridnya, yang sebelumnya bekerja di Kweekschool (Sekolah Guru) Tanawangko. Kepada guru baru ini, Louwerier berkotbah: ‘’Lihat pria tua ini, ikuti teladannya, berjuang seperti dia, percaya seperti dia, dan cintai seperti dia.’’

Banyak muridnya berhasil. Tiga Hukum Tua ketika itu menerima didikan darinya. Hukum Tua Kakaskasen (Dorus Liuw), Hukum Tua Kayawu (Jesayas Rompis) dan Hukum Tua Kinilow (Robert Mathindas). Juga tiga guru terkenal di masa tersebut, Guru Sekolah Genootschap Tomohon (Efraim Lasut), Guru Sekolah Genootschap Kayawu (Nicolaas Sandah) dan guru Sekolah Negeri di Tinoor (Samuel Liuw) adalah muridnya pula.  

Makam guru tua ini bersama istrinya, sekarang berada di pekuburan tua Kelurahan Kakaskasen Dua. ***

-----
1] NZG mencatat Jemaat Kakakasen dibentuk N.Ph.Wilken tahun 1849. Wilken sendiri melakukan pembaptisan pertama tanggal 21 Januari 1845 terhadap 70 penduduk. Pembaptisan kedua di Kakaskasen oleh Wilken berlangsung 1849 (28 Januari), yang dicatat Wilken dan NZG sebagai tahun pendirian Jemaat Kakaskasen.
2] Jusuf Tumbelaka selalu ditulis Louwerier sebagai Jusof Tumbelaka.
3] Werkkring (Lingkaran Kerja, kemudian Resort Tomohon) dibagi Pendeta Wilken dalam 3 Kring  Tomohon, Kakaskasen dan Sarongsong.


·         Foto: dari buku N.Ph.Wilken oleh Jonkvr.H.S.de la Bassecour Caan.
·         Sumber tulisan: Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap 1861 dan 1874. Maandberigt van het Nederlandsche Zendelinggenootschap, 1847,1908,1909; serta naskah ‘’Tomohon Dulu dan Kini’’.

Minggu, 15 September 2019

Misteri Kubur Mattern






Kubur Belanda tahun 2006.





Selama ini dipercaya kalau Zendeling pertama Tomohon Johan Adam Mattern dikuburkan di Manado. Ternyata, dari berita-berita NZG (Nederlandsch Zendeling Genootschap), ia dikuburkan di Tomohon. Namun, dimana persis lokasi kuburannya di Tomohon tidak diketahui dengan pasti.

Adam Mattern, lahir di kota Spiers Rhijn-Beiren (sekarang Jerman) 25 Juli 1807. Ia menempuh pendidikan untuk menjadi pekabar injil selang tahun 1829 sampai 1832 dari Pendeta J.W.Rückert di Institut Jaenicke di Berlin Jerman dan di sekolah pelatihan Zendeling di Rotterdam Belanda.

Tahun 1835 bersama Carl Traugott Herrmann, ia diutus ke Sulawesi, sementara kawan lainnya C.L.Ruden di Ambon (pos di Saparua). Herrmann kemudian ditempatkan di Amurang dan Mattern di Kema.

Keduanya tiba di Manado 1836.

Mattern dipercayakan pula menangani percetakan NZG untuk mencetak buku pelajaran. Tapi pada bulan Juni 1837 Mattern masih di Manado. Ia diharapkan segera berada di Kema dan mengoperasikan mesin cetak untuk menyediakan buku teks dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah Minahasa.

LEMAH
Ternyata di Manado, Mattern sementara bekerja keras mengerjakan salinan buku permainan sebanyak 2.000 eksemplar, dan pada bulan April ketika tengah mengerjakan buku sejarah Alkitab dari Wester, ia terkena penyakit yang dikenal dengan nama zwakheid (kelemahan, bahasa Manado suak) yang hebat.

Mattern dinasihati dokter untuk pergi ke tempat tinggi. Ia memilih beristirahat di Tondano di rumah Zendeling Johan Friedrich Riedel. Setelah sembuh, bulan Juni Mattern kembali ke Manado untuk melanjutkan pekerjaannya.

Ia disarankan mencari pembantu di percetakan dari penduduk setempat. Juga secepatnya kawin, karena seorang istri akan berkontribusi banyak dalam pekerjaan penginjilan.

Bulan November 1837 tunangannya Nona Jacoba Oudshoff tiba di Manado. Keduanya diharapkan segera pindah ke Kema untuk melaksanakan tugasnya melanjutkan percetakan sekaligus tugasnya sebagai pekabar injil.

Tapi, pimpinan NZG kemudian merubah keputusannya. Mattern ditetapkan bekerja di Tomohon, karena alasan kesehatannya. Ia mulai bekerja di Tomohon bulan Juni 1838.

Tomohon adalah tempat dimana usaha pengkristenan paling sedikit dilakukan, dimana hanya ada satu sekolah yang tersisa, dengan pengunjungnya tidak lebih dari 40 atau 50 anak. Sama sekali tidak ada orang Kristen.

Posnya dianggap strategis dekat dengan pos para Zendeling lain. Ia tetap bertanggungjawab menjalankan percetakan NZG yang ikut di bawa ke Tomohon. Untuk meringankan pekerjaannya di percetakan, ia dibantu tiga orang helper.

Mattern berhasil membuka dan dipercayakan menilik banyak sekolah. Dari laporan NZG tahun 1840, disebut kalau ia mengelola 56 sekolah, dengan 3.837 pelajar yang terdaftar. Ia dipuji karena hanya dalam tempo tiga tahun terakhir, berhasil mendirikan 28 sekolah diantaranya.

Namun, kemudian Mattern terpukul. Tanggal 8 Oktober 1840, istrinya Jacoba Oudshoff meninggal ketika melahirkan anak ketiga, yang menyusul meninggal. Putera tertuanya baru berusia hampir dua tahun. Pendidikan bagi anak-anak gadis yang ditangani istrinya jadi terbengkalai, padahal buah karya suami-istri tersebut telah memberi harapan yang sangat baik.

Ia telah terpukul tahun sebelumnya (1839), ketika penyakit anak menghajar para muridnya. Selain banyak anak, ikut menjadi korban adalah para guru sekolah dan calon guru (kweekeling, murid piara). Akibat lain, sekolah tutup, dan anak-anak terpencar. Yang kembali baru sebagian.

Kendati demikian, dicatat pula banyak anak-anak mengalami kemajuan. Sementara jumlah sekolah telah menjadi 65. Namun, Mattern tetap menghadapi sikap ketidakpedulian orang tua serta kesalahpahaman dari banyak kepala.

Tahun ini Mattern membaptis delapan muridnya yang sebelumnya masih kafir serta dua orang dewasa lain.

Laporan NZG tahun 1841 mencatat kondisi Mattern yang menyedihkan. Kematian istrinya di tahun 1840 memberikan pengaruh yang merugikan di tempat kerjanya. Bukan hanya para gadis yang diajar istrinya (anak piara), tetapi para muridnya (murid piara) ikut terpengaruh.

Selain itu kesehatannya menurun.

Dalam suratnya yang mencatat kegiatannya selang tahun 1841 ia menyebut beralih ke pekerjaan di luar. Selingan ini memberinya semangat dan keberanian baru ketika di bulan Maret, ia membaptis beberapa penduduk.

Pada tanggal 21 bulan itu, ia mencatat: ’’Kemarin saya bisa percaya pada iman saya dan harapan saya agar kerja kita tidak sia-sia. Saya memberikan baptisan kepada sepuluh orang.'' 

Tanggal 17 Oktober, Mattern membaptis 8 orang lagi. Ia bergembira bahwa pekerjaannya tidak sepenuhnya tidak membuahkan hasil.  

Mattern menyinggung tentang Kepala Distrik (disebut Opperhoofd) Sarongsong sebagai Walian yang tetap bertahan dengan agama leluhur, dan tekadnya untuk lebih banyak melakukan pendekatan. Pendekatan dilakukannya pula terhadap Kepala Distrik Tomohon. Pada kesempatan perayaan foso, ia memberi peringatan serius kepadanya dengan air mata melanda dirinya. ‘’O, dia mungkin dimenangkan bagi Tuhan,’’ tulisnya.

Namun, Mattern tetap memberi porsi besar pada pekerjaannya di percetakan. Buku bacaan, antaranya yang dicetak tahun 1840 sebanyak 900 salinan, dengan beberapa tambahan, dicetaknya ulang sebanyak 1.900 salinan.

Ia merasakan kekurangan mendesak akan Injil Melayu, dan buku nyanyian puji-pujian, sehingga dicetak ulang. Ia pun menerbitkan buku pertanyaan (katekismus) dalam bahasa Tombulu, yang menjadi tulisan cetak pertama dalam bahasa ini, sekaligus bahasa pertama dari bahasa-bahasa Minahasa.

Mattern sudah fasih bahasa Tombulu. Sebelumnya ia bersama istrinya yang telah meninggal (Jacoba) telah fokus mendalami bahasa ini selama beberapa waktu. Bahkan istrinya ikut bekerja dengannya menyelesaikan buklet itu.

Mattern bersyukur bahwa jumlah pendengarnya tahun ini meningkat, dan terus menerus muncul orang yang berhasrat untuk dibaptis. Ia pun bersyukur, karena kondisi sekolah dalam asuhannya kembali teratur dan semakin maju. Dari 770 murid di 14 sekolah, yang relatif baik, dicatat 550.

Tahun 1841 ini Mattern menikah kembali. Ia ke Ternate, dan tanggal 9 Juli kawin dengan putri Zendeling leeraar Ternate Jungmichel. Istri barunya diharapkan NZG dapat mengikuti jejak dan karya dari Jacoba, istri pertama Mattern.

Tapi penyakit telah menggerogotinya. Riedel dalam surat kepada pengurus NZG di Rotterdam Belanda 13 Desember 1842 mencatat Mattern jatuh sakit tanggal 18 November, dan semakin berat dari waktu ke waktu. Mattern menghubungi Riedel 29 November dan pergi berobat ke Manado. Dokter (Julius Cesar Louis Brasse) menuntutnya agar ia pindah di Manado.

Di Manado, Mattern tinggal menumpang di rumah Hermann Carl Dircks, guru Sekolah Belanda (Gouvernement Lagere School) Manado, dimana ia mendapatkan perawatan dan perhatian besar.

Namun penyakitnya terus memburuk, dan pada 7 Desember 1842 Mattern meninggal dunia.

‘’Tanggal 8 Desember, jenasahnya diusung dari Manado ke Tomohon, dan diantar oleh beberapa teman, termasuk Schwarz dan Wilken dan saya. Sesuai dengan keinginan almarhum, dimakamkan di sebelah istrinya,’’ tulis Riedel. 

Schwarz dimaksud adalah Johan Gottlieb Schwarz, Zendeling Langowan, sementara Wilken adalah Nicolaas Philip Wilken Zendeling Tanawangko yang kelak ditunjuk menggantikan Mattern di Tomohon.

KELUARGA.
Menurut Riedel, Mattern meninggalkan satu janda muda, dan dua anak. Putra tertua dari istri pertama, diasuh oleh guru Dircks.

Almanak van Nederlandsch-Indie lebih memperjelas keluarganya. Mattern kawin dengan istri pertama yang bernama lengkap Johanna Jacoba Oudshoff di Manado pada tanggal 4 Januari 1838. Status Mattern ketika itu sudah dicatatkan sebagai Zendeling Tomohon.

Putra pertama yang nanti diasuh guru Dircks adalah Jan Adriaan Mattern, lahir 28 Desember 1838.

Perkawinan kedua Mattern dengan putri Predikant Ternate Johann Christoph Jungmichel bernama Johanna Eleonora Petronela, menurut Almanak, berlangsung di Ternate tanggal 9 Juni 1841.

Mattern sempat menyaksikan kelahiran putranya dari istri kedua pada 22 April 1842. Anak ini diberi nama Johan Alexander Willem Herman Mattern.

Sepeninggalnya, hanya berselang setahun, istri keduanya Johanna Jungmichel ikut meninggal tanggal 25 Juni 1843.

KUBUR BELANDA
Menjadi misteri, karena kubur Mattern selama ini dianggap berada di Manado, sehingga ketika makam penggantinya Nicolaas Philip Wilken ‘ditemukan ulang’ tahun 1991, kubur Mattern tidak menjadi perhatian. Padahal, kalau dihitung, berdasar laporan Riedel, sudah hampir 177 tahun ia terbaring di bumi Tomohon.

Sejumlah kubur di kompleks pekuburan umum Talete di Kelurahan Talete Satu sejak lama dikenal sebagai Kubur Belanda. Lokasinya mungkin di masa kolonial dirancang untuk kubur banyak orang Belanda di Tomohon. Namun, seiring waktu telah disesaki kubur masyarakat. 

Mungkin masih ada kubur orang Belanda lain di luar kompleks makam Wilken, selain yang ada di tempat-tempat tertentu. Pendeta J.W.Korompis mencatat di lokasi depan rumah besar yang pernah ditempati Pdt.A.Z.R.Wenas di Talete Satu sebelum pindah ke Kamasi (sekarang dekat gerbang masuk utama rumah sakit Bethesda) yang juga di masa pelayanan Mattern dan Wilken menjadi area rumah mereka, terdapat kubur seorang Belanda yang tidak diketahui namanya.

Di kompleks Kubur Belanda sendiri hanya enam kubur yang dipugar Badan Pekerja Wilayah Tomohon tahun 1993 (diresmikan bulan Juli).

Yang dikenal selama ini 3 kubur. Nicolaas Philip Wilken (meninggal 22 Februari 1878), istrinya Marie Elisabeth Hoedt dan Nona Gijsbertha Catharina Krook, Direktur Meisjesschool yang meninggal karena kolera 16 Maret 1886.


Belum diketahui pula kalau 2 anak dari Mattern dikubur di tempat ini. Termasuk 2 anak Wilken, yakni Karel Elisa Wilken yang meninggal ketika masih kecil tanggal 9 Oktober 1853, serta Henrietta Frederika Wilken 12 Desember 1856. 1]

Selain itu ada istri dari Hulpprediker Jan Louwerier (pengganti Wilken) bernama Anna Maria van Leenhoff yang meninggal di Tomohon tanggal 28 Juni 1901 dan dikuburkan di Tomohon.

Apakah dua kubur lain di situ adalah kubur dari Mattern dan istri pertama Jacoba, perlu diteliti.

Kalau benar demikian, kubur mereka semestinya dipelihara, karena jasa-jasa keduanya sangat besar. Jasa Mattern tidak kalah dengan jasa Wilken serta jasa Louwerier. Jasa Jacoba Oudshoff dan Marie Hoed (tentu juga Anna van Leenhoff) tidak terpisahkan dengan buah karya suami mereka, terlebih bagi kaum wanita (anak piara) yang dibekali berbagai ketrampilan dan pengetahuan yang ketika itu belum diketahui, yang kemudian menularkannya kepada semua orang.

Termasuk pula kubur lain, selayaknya dipugar, karena merupakan satu kesatuan utuh. Meski terlupakan, mereka telah menorehkan karya abadi untuk kemajuan yang dicapai Tomohon sekarang. ***



1] Menurut Jonkvr.H.S.de la Bassecour Caan yang menulis biografi N.Ph.Wilken ada lima anak Wilken yang meninggal di Tomohon mendahului Wilken dan istrinya.
 

·         Foto:Didi Defdy Sigar.
·         Sumber tulisan: Maandberigt van het Nederlandsche Zendelinggenootschap 1835-1843, dan Almanak van Nederlandsch-Indie 1839,1840,1842,1857,1858.