Senin, 24 Juni 2019

Mengenal Sejarah Kamasi






Pemandangan di stad Tomohon tahun 1920-an.


Besok (tanggal 25 Juni 2019), Kelurahan Kamasi di Kecamatan Tomohon Tengah memperingati hari ulang tahun yang ke-340, merujuk ke tanggal 25 Juni tahun 1679. Tahun ketika dilakukan penandatangan kontrak politik Balak-Balak Minahasa dengan Kompeni Belanda yang berlangsung tanggal 10 Januari 1679 di Manado, di mana Tomohon diwakili Paat Kolano yang kelak bergelar terhormat sebagai Hoofd (Kepala) Hukum Majoor.

Kamasi memang sudah tua, bahkan bersama Talete telah ada jauh-jauh hari sebelum tahun yang telah diputuskan itu. 

Dr.Johan Friedrich Gerhard Riedel memastikan pendiri Kamasi bersama Talete adalah Mangantung (Mangangantung), Mapalendeng-tinamberan, Pondaag, Mamengko, Gosal dan Sambuaga. Mereka adalah cucu-cucu Tonaas Mokoagow (Rori), tokoh yang pertama membawa penduduk pindah dari Meiesu.

Peristiwa pendirian tersebut menurutnya terjadi beberapa waktu setelah pembagian di Watu Pinawetengan. Selain Kamasi dan Talete (masih dicatat Limondok), negeri lain yang didirikan oleh para cucu Mokoagow ini adalah Kinupit, Toumaajah, Rangihir, Tounbuntu dan Lingkonkong. Negeri-negeri inilah yang membentuk ‘kota’ Tomohon pertama.

Dari negeri-negeri awal Pakasaan lalu Balak dan Distrik Tomohon ini, di abad ke-17, tertinggal tiga nama yang ada. Kamasi, Talete dan Tomohon. Lima negeri lain telah menyatu sebagai bagian tak terpisahkan dari negeri besar Tomohon.

Penulis terkenal Belanda Francois Valentijn dalam buku ‘’Oud en Nieuw Oost-Indien’’ terbitan tahun 1714 mencatat laporan Residen Manado Abraham Meyert tahun 1682 bahwa Kamasi (ditulis Cormasje) menjadi satu pemukiman dengan Tomohon (ditulis Tomon). Dua negeri ini berpenduduk sebagai 800 awu (kepala keluarga, sekitar 4.000 jiwa), dan terpisah dengan Talete yang disebutnya Tontelette berpenduduk 80 awu.

Pemukiman awal Kamasi hingga peristiwa gempa bumi 8 Februari 1845 berada di bagian barat Kamasi sekarang. Dari lokasi Stambak di Nimawanua, Ranoneperet, Wakan hingga Kilomata yang menjadi batas dengan Kakaskasen di Nawanuanya.

Kamasi berada di tengah ruas jalan pertama (masih setapak) dari arah Manado melalui negeri Kakaskasen tua (Nawanua) ke negeri tua Tomohon di Nimawanua hingga ke negeri tua Sarongsong di Tulau dan Amian-Nimawanua.

Areal perkebunan milik penduduk membentang tanah-tanah luas di lokasi Walian,  bahkan mencapai Pangolombian, yang di masa berikut didirikan penduduk Kamasi menjadi negeri baru.

Konsentrasi penduduk besar berada di dekat Ranoneperet. Karena pekuburan tua waruga berada di lokasi ini, tidak terlalu jauh dengan Pinati yang menjadi tempat pengambilan waruga Kamasi dan Tomohon di masa lalu.

Baru setelah kejadian gempa bumi 1845, pemukiman Kamasi dibangun di sebelah timur, mendekati ruas jalan yang telah dibangun pemerintah kolonial.

BACA: Woloan,Ibukota Awal Tombariri, dengan peta masa Padtbrugge.

Asal nama Kamasi memunculkan beberapa versi. Ada menyebut dari nama tumbuhan yang dibuat obat tradisional disebut Kamasi atau Masi’ atau Kamesi, yang menurut Zendeling dan penulis Nicolaas Graafland bernama Latin Cubilis rumphii. Ada pula pendapat timbul dari jenis pohon bernama Kamasi yang di masa lalu tumbuh di tempatnya.

Versi lain lagi namanya dari Kakmas, karena pemukiman awalnya berawa-rawa, kotor dan bernyamuk. Paulus Supit, pengarang novel ‘’Kasih Ibu’’ memberi versi berbeda kalau di lokasi mata air Mararesak (batas dengan Kolongan), biasa dilaksanakan permainan rakyat Bakubintik (Mawintian), yakni adu kekuatan kaki pukul betis, tapi, di atas sebatang bambu menguji siapa orang terkuat di Tomohon. Yang kalah akan jatuh di telaga berbecek, dan dari rupa yang kotor setelah berlaga inilah sebutan Kakmas tercetus.

Masih ada menyebut nama Kamasi berasal dari Kamasilan, yakni jenis gelang (kulalu) dari akar bahar. Tapi, versi ini dikaitkan dengan Tonaas Tinaras ketika penduduk Kamasi lari mengungsi setelah kejadian gempa bumi 1845. Ia menemukan akar bahar di lokasi berdekatan Bukit Wawo. Padahal, nama Kamasi justru sudah lama muncul dan dicatatkan jauh-jauh hari dalam arsip kolonial.

Beberapa tokoh asal Kamasi terkenal dalam legenda bahkan dalam catatan sejarah. Dua wanita yang harum namanya adalah Ringking Bulawan yang menyebabkan Perang Kamasi, serta Laya, istri pertama Kepala Balak Tombariri Pacat Supit Sahiri. Bahkan Supit dipercayai ketika meninggal awalnya dikuburkan di lokasi Ranoneperet, sebelum dipindahkan ke Katingolan Woloan.


Tapi tokoh berasal Kamasi paling masyur di masa silam adalah Lontoh Tuunan. Hukum [1] Kamasi tahun 1785-1803 dan kemudian Kepala Balak Tomohon tahun 1803 hingga 1809.

Lontoh Tuunan merupakan keturunan dari Kepala Balak Sarongsong, Kepala Balak Tomohon dan para Hukum Kamasi di abad ke-17 dan 18. Ia merupakan sosok disegani dan dicintai rakyat dan ketika masih sebagai Hukum Kamasi menentang Kepala Balak Tomohon Mamengko (versi lain bernama Loho), sehingga kemudian menggantikannya.

Dari silsilah keluarga Lontoh Kamasi dan Sarongsong, ia disebut sebagai anak Hukum Kamasi bernama Wowor (2) yang disebut juga Pasiowan, sementara ibunya Mapalendeng adalah cucu Hukum Majoor Kepala Paat Kolano (Kepala Balak Tomohon). Wowor (2) sendiri  adalah anak kedua dari Hukum Majoor Rondonuwu (Kepala Balak Sarongsong), dan cucu Hukum Majoor Kepala Lontoh Kolano. Ibu Wowor (2) istri Rondonuwu bernama Rameij, adalah anak Hukum Kamasi bernama Wowor (1) yang dihadiskan memerintah di Kamasi tahun 1705-1740.
 
BACA: Silsilah Lontoh Tuunan dalam Silsilah Tombulu.

Selain menjadi Kepala Balak Tomohon, Lontoh Tuunan praktis memerintah Sarongsong. Kepala Balak Sarongsong ketika itu Tamboto tidak memiliki putra, hanya dua anak gadis. Salah seorang dari mereka bernama Tumete Liwun (dibaptis Kristen bernama Maria Lontoh) dikawini anak Lontoh Tuunan bernama Pangemanan. [2]

Sejarawan yang mantan Bupati (KDM) Minahasa Bert Supit dalam bukunya ‘’Minahasa dari Amanat Watu Pinawetengan sampai Gelora Minawanua’’ terbitan tahun 1986, menggambarkan pengaruh Lontoh Tuunan sangat besar mencapai banyak negeri dan balak lain di Minahasa.

Lontoh Tuunan yang dijulukinya si Tua’a Tombulu, Anoa dari Lokon menjadi organisator utama Perang Minahasa di Tondano yang berlangsung tahun 1808-1809.

Tanggal 1 September 1808 kolonial Belanda yang dipimpin Residen Carel Cristoffel Prediger (memerintah 6 November 1803-April 1809) menyerang Lontoh. Setelah bertempur sengit, dengan pasukannya Lontoh pergi ke Tondano (Minawanua).

Besoknya (2 September) Residen Prediger yang terpukul mundur di Tondano, kembali ke Tomohon dan membumihanguskan Kamasi, sehingga penduduk lari mengungsi.

Lontoh Tuunan sebagai tokoh utama perang tersebut bersama para kepala lain baru tertangkap setelah Minawanua Tondano diblokade.

Pada bulan Juli 1809, ia ditangkap patroli Belanda ketika akan memasuki Minawanua dari Remboken. Lontoh Tuunan dikenali beberapa bekas teman dekatnya yang telah menjadi kaki tangan Belanda dan menyamar sebagai pencari sagu. Versi lain penangkapannya terjadi ketika ia mundur ke Tomohon karena Minawanua sudah kekurangan makanan serta amunisi. Cerita lain lagi, ia tertangkap di perkebunan Wawo Walian dalam perjalanan ke Sarongsong.

Lontoh Tuunan dibawa dan ditahan di benteng Nieuw Amsterdam Manado, kemudian diinternir ke Ternate bersama Tewi, pejuang lainnya.

Menurut keturunannya, Lontoh kembali ke Tomohon ketika Inggris berkuasa dan membebaskannya. [3]

Ada versi, Lontoh Tuunan diberi pangkat Kapitein oleh Inggris karena membantu Inggris melawan Belanda. Keturunannya menyebut Lontoh Tuunan dikuburkan di Nimawanua Tomohon. Tapi ketika Belanda berkuasa ulang tahun 1817, kuburnya digali, dipindahkan di tanah miliknya di Kolongan (menjadi lokasi kelas SMP Katolik Stella Maris). Konon, saat pemindahan tersebut sempat ditemukan bintang ‘jasa’ dari Inggris yang di masa berikut telah hilang.

Keheroikan Lontoh Tuunan pantas dimonumenkan, dan diperjuangkan menjadi pahlawan nasional.

Di tahun 1992, ada usaha mengusung kisah perjuangan Lontoh Tuunan bersama tokoh lain dalam Perang Minahasa di Tondano. Sayang film dengan judul ‘’Benteng Moraya 1809’’ tersebut gagal, meski Wakil Presiden masa itu Try Soetrisno telah bertindak sebagai sutradara kehormatannya.

Setelah Lontoh Tuunan, dikenal sebagai Hukum Kamasi adalah Sangi, sekitar tahun 1810-1830. Kemudian anaknya Pandeirot yang disebut Graafland sebagai Mangulu, pemimpin pasukan Tulungan berasal Balak Tomohon tahun 1829 dalam kontingen tentara Tulungan dikomando Majoor Tololiu Hermanus Willem Dotulong memerangi Pangeran Diponegoro. Ia memperoleh pangkat militer dari Belanda Kapitein, dan diwarugakan di Ranoneperet.

Pandeirot, disebutkan diganti saudaranya bernama Sampouw yang memerintah dibantu Karias Wondal dan Reling Paat sebagai teterusan serta Marentek sebagai walian. Karias dan Reling Paat ditutur sebagai tokoh sakti yang banyak membunuh musuh yang mengganggu Kamasi. Kubur Sampouw, Karias dan Reling Paat berada di Ranoneperet tua (sekarang lokasi berdiri Poskesdes Kamasi), sementara Marentek diwarugakan di Nimawanua.

Tanggal 8 Februari 1845 terjadi gempa bumi dahsyat di Minahasa. Rumah-rumah tiang yang kokoh roboh. Koran-koran Batavia dan Belanda mencatat di Distrik (telah mengganti sebutan Balak) Tomohon rata-rata rumah roboh atau sebagian hancur dengan empat belas korban jiwa dan empat puluh korban luka.


Akibat gempa, penduduk Kamasi menyingkir di Walian, lokasi perkebunan milik orang Kamasi. Sisa-sisa pemukiman masih ditemukan tahun 1980-an, termasuk lokasi pengambilan air minum di mata air yang bernama Rano ne Kamasi, sekarang masuk kepolisian Kelurahan Matani Dua.

Di pengungsian Walian telah tampil sebagai pemimpin Tonaas Tinaras yang juga disebut dengan nama Timon Tudus sebagai Hukum dengan gelaran Rarangkang un Wanua atau pelindung negeri. Banyak versi tentang dirinya, ada menyebut ia asli Kamasi, namun versi lain keturunan Tonsea, seperti halnya Lukas Wenas dari Talete. Timon Tudus pun dianggap nama seraninya ketika dibaptis Kristen (namun disebut Simon Tulus).

Tinaras membawa kembali penduduk dari pengungsian Walian ke lokasi Kamasi sekarang.

Ada versi-versi kalau Pangemanan Lontoh, anak Lontoh Tuunan, sempat pula menjadi Hukum Kamasi. Juga Petrus Wenas, anak Lukas Wenas, sebelum menjadi Hukum Kedua Tomohon di Rurukan, sempat memangku secara singkat jabatan Hukum Tua Kamasi.

Yang pasti, Christiaan Lontoh, dipilih pertama menjadi Hukum Tua Kamasi di tahun 1876.

PUSAT PEMERINTAHAN

Sejak pembangunan Tomohon baru di tahun 1845 Kamasi mulai menjadi pusat pemerintahan Distrik Tomohon. Di tahun 1862 dibangun kantor distrik (tahun 1966 jadi kantor kecamatan, dan dijual 1971 jadi toko). Juga pembukaan Sekolah Genootschap (milik NZG) tahun 1858. Sekolah tersebut masa itu merupakan sekolah paling terkemuka di Minahasa (kelak dipakai Sekolah Kepandaian Putri, Kopschool, Kantor Sinode GMIM 1934, RS GMIM Bethesda 1950 dan sekarang Akper RS Bethesda).

Di Kamasi, dibangun pula pasar Tomohon (di lokasi Balai Kelurahan sekarang) sampai dipindah di Paslaten tahun 1913. Juga kantor pos disamping kantor distrik sejak 31 Januari 1905 dan bertambah kantor kawat (kelak Telkom hingga 1985). Penjara anjing lalu penjara sejak 1942 hingga 1985, Balai Koperasi tahun 1925 yang pernah menjadi Pusat Koperasi Minahasa (PKM). Bahkan, rumah bersalin, rumah piatu hingga bioskop Sonya di tahun 1949. Tentu juga dengan tumbuhnya pertokoan, rumah kopi dan rumah makan, sampai pompa bensin hingga 1979.

Namun, di akhir tahun 1852, Dr.Pieter Bleeker mencatat Kamasi berpenduduk masih sedikit, 501 jiwa. Tahun 1859 menurut Graafland sebanyak 520 jiwa, meski sudah termasuk salah satu negeri terbesar di Distrik Tomohon. Tahun 1859 berpenduduk 562 jiwa, dan sebagai negeri keempat terbanyak penduduk di Distrik Tomohon.

Salah seorang Hukum Tua, yakni Johannis J.Sangi yang memerintah tahun 1893-1923, sempat diangkat menjadi anggota dewan kehakiman (lid Landraad) Manado bulan Juli 1906. Ia pun dikenal sebagai Hukum Tua Bintang, karena memperoleh penghargaan pahala sipil untuk dedikasi dan masa dinas yang lama, yakni bintang bronzen ster voor trouw en verdienste dengan beslit Gubernur Jenderal Hindia-Belanda. Ketika meninggal tanggal 25 Agustus 1923, pemakamannya dilakukan dengan penghormatan besar serta tembakan salvo dari pasukan kehormatan.

Penggantinya Simon Wondal sama berwibawa, memimpin Kamasi 1923-1945, bahkan dipercaya merangkap Hukum Tua Kolongan tahun 1931. Simon Wondal juga dianugerahi Belanda dengan bintang bronzen (perunggu) tahun 1937.  

Tanggal 1 Januari 1981 ketika Kamasi dipimpin Hukum Tua Turambi Turang, status desa menjadi kelurahan, dengannya sebagai Lurah pertama. Kantor desa dan balai yang ada sekarang dibangun di periodenya sebagai Kepala Desa, dan diresmikan Bupati Minahasa ketika itu Bern Gustav Lapian bulan Agustus 1979.

Pertumbuhan pesat Kamasi, membawa Kampung Baru yang dibuka resmi 17 Agustus 1965 di masa Hukum Tua Menase Kainde, berawal dari 26 kepala keluarga, dimekarkan menjadi satu kelurahan bernama Kamasi Satu tanggal 29 Agustus 2008. ***


  ------------

[1].Sebutan lain dari Kepala (Hoofd) Negeri yang yang masih dipakai hingga pertengahan abad ke-19, kemudian dipilah lebih rinci untuk negeri besar sebagai Hukum Tua dan negeri kecil sekedar Hukum.
[2].Putri Pangemanan Lontoh dengan Tumete Liwun (Maria Lontoh) bernama Elisabeth Pangemanan Lontoh dikawini Lukas Wenas (Hoofd Talete 1831-1862 dan Kepala Distrik Tomohon 1862-1878), dan menurunkan keluarga Wenas Tomohon.
[3]. Inggris berkuasa ulang untuk periode kedua di Sulawesi Utara sejak pengganti Prediger yakni Residen Marinus Balfour menyerah di Manado pada Kapten Edward Tucker dari Inggris tanggal 24 Juni 1810. Belanda berkuasa ulang mulai 21 April 1817.



·         Sumber foto:Koleksi Maritiem Digitaal.
·         Sumber data: Buku ‘’Riwayatmu Tomohon’’ 1986, Buku ‘’Tomohon Kotaku’’ 2006 dan naskah ‘’Tomohon Dulu dan Kini.’’ Buku  Dr.J.F.G.Riedel ‘’Inilah Pintu Gerbang Pengetahuwan itu’’ 1862; dan buku Nicolaas Graafland  (terjemahan Yoost Kullit) ‘’Minahasa Masa Lalu dan Masa Kini’’ 1987, dan ‘’Inilah Kitab Batja akan Tanah Minahasa’’1863.

Rabu, 19 Juni 2019

Paulus Supit, Pengarang Novel Kasih Ibu








Masa kolonial Belanda, hanya segelintir orang Minahasa yang menjadi pengarang. Dan, dari Tomohon satu orang saja yang tercatatkan dalam sejarah kesusasteraan Indonesia. Paulus Supit dari Kamasi.

Paulus Supit digolongkan sebagai pengarang Angkatan Balai Pustaka. Bersama pengarang besar Indonesia lain seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Nur Sutan Iskandar, Abdul Muis, Suman Hs (Hasibuan), Merari Siregar, Tulis Sutan Sati, Aman Datuk Madjoindo dan lain-lain.

Dari Minahasa, pengarang Angkatan Balai Pustaka selain Paulus Supit, terkenal pula M.R.Dajoh dan H.M.Taulu. Marius Ramis Dajoh kelahiran Airmadidi 2 November 1909 meninggal di Bandung 15 Mei 1975. Sementara seniornya Hersevien Manus Taulu kelahiran Kawangkoan 19 Juli 1903, meninggal di Manado 4 Maret 1984. Taulu sendiri lama tinggal di Tomohon.

Terbitnya novel M.R.Dajoh ‘’Peperangan Orang Minahasa dengan orang Spanyol'', serta novel H.M.Taulu ‘’Bintang Minahasa’’ (Pingkan Mogogoenoij) yang sama-sama diterbitkan Balai Pustaka tahun 1931, telah memotivasi Paulus Supit untuk mulai menulis novelnya. 

Roman-roman awal dari senior (kelak rekan guru) sekaligus teman dekatnya H.M.Taulu seperti ’Radja Pertjintaan’’ yang terbit tahun 1928 serta ‘’Puteri Indonesia’’ di tahun 1929 menjadi pemicu. Disamping itu, karena Paulus Supit sangat berminat menjadi pengarang setelah membaca banyak roman karya sastrawan dari Sumatera yang telah beredar sebelumnya.

Tapi, terutama sosok sang ibu yang menjadi inspirasi novelnya. Ia mencita-citakan sebuah karya sebagai monumen dan tanda bakti serta penghargaan sekaligus bentuk kasih sayang tiada terbatas kepada ibu yang telah bersusah-lelah untuk memberi sesuap nasi dan pendidikan yang layak bagi dirinya dan banyak saudaranya (sembilan bersaudara). 

Sang ibu setelah ditinggal mati suami yang hanya petani kecil, demi anak-anaknya, mesti berjualan kecil-kecilan dan sebagai tibo di pasar Tomohon yang ketika itu berada di dekat rumahnya di Kamasi (sekarang kompleks kantor dan balai Kelurahan Kamasi).

Kasih Ibu dengan doa dan pengorbanannya menjadi refleksi dari kecintaan, rasa syukur dan ungkapan terima kasih berlimpah dari Paulus Supit dalam novel yang disumbangsihnya untuk memperkaya dunia pendidikan yang menurutnya masih memprihatinkan di tanah jajahan ketika itu.

Sadar akan beban berat sang ibu, ketika masih bersekolah rakyat di Tomohon, Paulus Supit yang lahir dengan nama lengkap Paulus Quirenus Rudolf Supit tanggal 22 Mei 1907 bersama saudara-saudaranya mencoba meringankan beban sang ibu dengan bergiliran menjaga jualan di pasar. ‘’Pulang sekolah, bahkan sebelum bersekolah pun, saya suka membantunya berjualan sampai ketika pasar dipindah di Paslaten. Bahkan, ketika ulangan pun saya menjaga dagangan sambil belajar,’’ tuturnya di awal tahun 1980-an.

                BACA Pasar Tomohon April 1913.

Kasih Ibu juga yang menjadi pendorongnya untuk mengejar beasiswa yang ditawarkan pemerintah kolonial ketika itu. Hampir menamatkan pendidikan sekolah rakyat, dilaksanakan tes masuk untuk pendidikan Noormalschool (Sekolah Guru) Gubernemen (pemerintah) di Makassar. Di Manado dilaksanakan seleksi tingkat Keresidenan Manado yang diikuti banyak peserta utusan berasal seluruh daerah dari Sulawesi Utara dan Tengah.

Meski baru baik dari sakit, Paulus Supit dengan dorongan sang ibu mengikuti tes masuk Sekolah Guru itu. Dari sekian banyak peserta yang mengikuti seleksi hanya dua orang yang lolos, dan di peringkat utama adalah Paulus Supit.

Sebenarnya di Kuranga Tomohon berada pendidikan sejenis yakni Normaalschool Kristen (terakhir menjadi Sekolah Pendidikan Guru Kristen Tomohon) yang melahirkan banyak guru dan berkarya di penjuru Minahasa bahkan kawasan Indonesia Timur. Namun, selalu menjadi impian setiap calon guru dan orang tuanya kalau dapat bersekolah di luar. Karena tanpa membayar biaya pendidikan bahkan disangu ongkos hidup selama bersekolah. Apalagi karena pamor tinggi untuk lulusan Makassar, bahkan di atas segalanya kalau lulus dari Noormalschool Ambon (seperti beasiswa yang diraih M.R.Dajoh tahun 1924).

Bagian pertama novel ‘’Kasih Ibu’’ telah dikerjakan Paulus Supit ketika masa sakitnya sebelum berangkat ke Makassar, hanya memakan waktu beberapa pekan. Bagian akhir baru diselesaikan di asrama Normaalschool Makassar. Tidak heran seting novelnya berakhir di pelabuhan Manado ketika ia berangkat untuk bersekolah di Makassar. ‘’Saya sebenarnya masih ingin membuat lanjutannya. Tapi tidak pernah jadi,’’ ia menceritakan.

Novel Kasih Ibu merupakan otobiografi Paulus Supit semasa kecil dengan tokoh utama Rudolf--mengambil nama tengahnya-- sang Ibu dan dua kakak wanitanya Corrie yang lulus dari Normaalschool Ambon dan Emma. Buku setebal 95 halaman ini diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1932.

Paulus Supit memperoleh honorarium dari penerbit Balai Pustaka uang yang terbilang sangat besar di masa depresi yang dikenal sebagai zaman Malaise itu. Seratus dua puluh lima gulden (rupiah) ditambah empat puluh lima sen. Padahal, harga-harga kebutuhan pokok ketika itu masih berkisar pada angka-angka sen dan benggol. Kendaraan roda empat tidak ada di Tomohon saat itu, hanya dimiliki orang Belanda di Manado. Yang ada --meski juga tidak mampu dibeli orang ketika itu--adalah jenis sepeda. Sepeda termahal adalah merk Remington, seharga empat puluh gulden.

Lulus dari Normaalschool Makassar, Paulus Supit menjadi guru dalam ikatan dinas pemerintah kolonial (Gubernemen) Belanda. Ketika itu gaji bagi tiap lulusan Sekolah Guru berbeda-beda. Lulusan Normaalschool Tomohon bergaji pertama tiga puluh gulden. Paulus Supit yang lulus dari Makassar memperoleh empat puluh gulden sebagai gaji awal. Paling rendah adalah guru angkat hanya memperoleh tujuh gulden lima puluh sen dan kalau sudah senior mencapai dua puluh gulden. Sedangkan guru keluaran Normaalschool Ambon memperoleh gaji paling tinggi tujuh puluh lima gulden.

Dengan gaji 40 gulden dan status hebat guru keluaran Makassar, Paulus Supit yang berdinas awal di Sekolah Rakyat di Tomohon menjadi pria muda yang sangat membanggakan keluarga dan warga Kamasi, bahkan bagi kota Tomohon ketika itu. Tidak heran, dia dengan sangat bangga mengisahkan dirinya menjadi idola banyak wanita dan idaman tiap ibu yang menginginkan putrinya menjadi pasangan hidupnya.

‘’Saya jatuh cinta dan mengawini wanita tercantik dari Lahendong,’’ akunya tentang ibu dari anak-anaknya.

MENENTANG BELANDA
Namun Meester, demikian orang Tomohon memanggil sesuai profesinya, dalam pekerjaannya sebagai guru mengalami banyak pertentangan dengan atasannya orang Belanda. Kebijakan pendidikan kolonial ketika itu banyak dikritiknya, sehingga dalam waktu singkat Paulus Supit telah berpindah kerja di banyak sekolah Gubernemen di Minahasa sampai Gorontalo.

Paling akhir ia memimpin sebuah Sekolah Rakyat di sebuah negeri kecil di Gorontalo (saya lupa namanya). Sekolah yang hanya memiliki dua kelas, sebagai buah penentangan dan pertengkarannya yang tidak berkesudahan dengan para atasan Belandanya.

Di tempat tugas barunya, dia telah berkali memprotes atasannya akan kondisi minim sekolah. Ketika Inspektur Pendidikan orang Belanda datang menginspeksi sekolahnya, dia sangat kesal karena laporan-laporannya untuk perbaikan sekolah tidak diindahkan. Saat inspektur mengkritik tidak adanya jamban yang sebenarnya telah diusulkan pengadaannya, Paulus Supit menjadi marah. Menumpahkan kekesalan, sebagai tanda pembangkangan, ketika inspektur tersebut berbicara, ia sengaja duduk di meja guru dengan membelakanginya.

Buntutnya Paulus Supit diberhentikan.

Ia hanya beristirahat sejenak. Jiwa kembara muncul di dirinya. Paulus Supit melanglang ke Tanah Jawa. Tiba di Batavia (Jakarta), kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumatera. Akhirnya sampai di kota Padang Sumatera Barat. Di sini ada salah seorang sahabatnya Muhammad Sjafei. Mereka telah lama berkomunikasi dengan surat-menyurat.

Paulus Supit melanjutkan perjalanan ke Kayutanam di Padang Pariaman. Ia menjadi guru di Indonesisch Nederlandsche School (INS) Kayutanam yang didirikan Muhammad Sjafei yang kelak tahun 1946 menjadi Menteri Pengajaran (Pendidikan) Indonesia. INS Kayutanam adalah lembaga pendidikan swasta terkenal serta melahirkan banyak tokoh nasional dan pengarang hebat Indonesia.

Kembali ke Minahasa Paulus Supit tidak melanjutkan lagi profesinya sebagai guru.

Kasih Ibu yang fragmen ‘’31 Desember’’nya dikutip dalam buku Bunga Rampai Pengarang Angkatan Balai Pustaka, merupakan satu-satunya karya Paulus Supit. Dalam fragmen, ia mendetilkan suasana hiruk pikuk dan kesibukan para ibu berbelanja kebutuhan pesta dan baju baru di pasar Tomohon menyongsong Tahun Baru, yang tidak berbeda jauh dengan suasana sekarang. 

Paulus Supit masih menulis buku kecil berupa sebuah risalah ketika berada di Palembang Sumatera Selatan. Risalah tersebut terbit dengan disponsori putranya yang ketika itu menjadi Administrator Pelabuhan (Adpel) Palembang.

Putra lainnya Nicolaus Benjamin Supit kelahiran tanggal 19 September 1948 adalah lulusan Akabri Laut tahun 1970. Satu angkatan dengan Bernard Kent Sondakh yang terakhir menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) berpangkat Laksamana. Nico Supit juga lulus sebagai insinyur perkapalan dari Rusia (masih Uni Soviet) dan terakhir pensiun sebagai perwira tinggi TNI-AL.

Buku Paulus Supit Kasih Ibu tahun 1989 pernah didiskusikan para budayawan dan seniman Sulut dengan disponsori temannya H.M.Taulu di perpustakaan pribadi Taulu di Manado. Ketika itu riwayat hidupnya saya tulis panjang-lebar di harian Manado Post. Ia diundang khusus dan menjadi pembicara tunggal. ‘’Saya ternyata tidak dilupakan,’’ dia mengatakan ketika itu dengan bersyukur.

Paulus (Quirenus Rudolf) Supit meninggal dan dikuburkan di Kamasi tahun 1994 silam. ***

Mengenang (Pula) Distrik Sarongsong




Jalan di Tumatangtang.



Sarongsong adalah salah satu dari empat distrik yang telah membentuk Kota Tomohon sekarang. Dibanding distrik-distrik lain, besar bedanya. Bekas Distrik Tomohon terlestari sebagai stad dan identitas Kota sekarang. Bekas Distrik Kakaskasen masih lestari namanya pada empat kelurahan di Kecamatan Tomohon Utara. Sementara bekas Distrik Tombariri di Woloan dan Tara-Tara dan nama kecamatan yang awet di pantai barat Minahasa (Kecamatan Tombariri).

Sarongsong justru hilang. Tidak menyisakan nama resmi, meski masih ada dua negeri bekas ibukota distrik dan tiga negeri lain yang sekarang menjadi kelurahan di Kecamatan Tomohon Selatan serta dua desa di Kecamatan Sonder Minahasa.

Sekarang ini nama Sarongsong tinggal embel-embel tambahan di belakang bekas dua negeri Tumatangtang dan Lansot. Negeri-negeri yang telah mekar menjadi Kelurahan Tumatangtang, Tumatangtang Satu, dan Lansot.

Padahal, di pertengahan abad ke-19, ibukota Distrik Sarongsong pernah mencakup tujuh negeri. Pinangkeian (dari statistik Dr.Pieter Bleeker akhir tahun 1852 berpenduduk 244 jiwa). Koror (146 jiwa). Wuwuk (142 jiwa). Regesan (139 jiwa) dan Kapoya (132 jiwa). Sementara dua negeri tersisa sekarang, yakni Tumatangtang berpenduduk 140 jiwa dan Lansot 136 jiwa.

Karena kecil dan penduduk sedikit, kolonial Belanda lewat Residen Manado dan Kontrolir Tondano menyederhanakan negerinya. Tahun 1874 Nicolaas Graafland menyebut ibukotanya tinggal dibentuk oleh empat negeri. Pinangkeian (berpenduduk 369 jiwa). Tumatangtang (324 jiwa). Koror (324 jiwa), dan Lansot (309 jiwa). Wuwuk, Regesan dan Kapoya telah digabung dengan negeri-negeri di atas.

Kondisi kota Distrik Sarongsong masih dicatat Graafland tahun 1888 berpenduduk 1.321 jiwa. Pinangkeian masih menjadi negeri terbesar dengan 376 jiwa. Menyusul adalah Tumatangtang 343 jiwa, Koror 324 jiwa dan Lansot 278 jiwa.

Penyederhanaan besar-besaran dalam sistem pemerintahan kolonial di Minahasa berlangsung di Sarongsong bulan April 1880 ketika Kepala Distrik Sarongsong terakhir Majoor Zacharias Wawo-Roentoe (atau juga sering dicatat Wawo-roentoe atau Waworoentoe) dipensiun. Baru tanggal 8 Juni 1888, secara resmi turun beslit menegas penyatuan Distrik Sarongsong dan Distrik Tomohon dengan nama Distrik Gabungan Tomohon-Sarongsong.

Menantu Majoor Zacharias yakni Herman Alexander Wenas (kelak bergelar Majoor) yang menjabat Hukum Besar Kepala Distrik Tomohon yang sejak tahun 1880 telah memimpin Sarongsong, dibeslit resmi sebagai Kepala Distrik (Gabungan) Tomohon-Sarongsong.  

Sarongsong tinggal menjadi Distrik Bawahan (Onderdistrik, setingkat kecamatan). Jellesma Wawo-Roentoe, adik Majoor Zacharias, kemudian Herman Carl Wajong dan A.Wenas sebagai Hukum Kedua berkedudukan di Tumatangtang Sarongsong.

Buntut lain dari beslit pemerintah Hindia-Belanda tahun 1888 itu adalah penggabungan negeri-negerinya, sehingga tertinggal Tumatangtang dan Lansot. Pinangkeian digabungkan dengan Lansot, dan Koror dengan Tumatangtang.

Sarongsong yang tinggal sebagai distrik kedua benar-benar hilang di tahun 1919 ketika Distrik Tomohon-Sarongsong yang dipimpin Hukum Besar Theodorus Estefanus Gerungan dihapus. Yang tinggal adalah nama Distrik Tomohon dipimpin Hukum Besar Willem Abraham Wakkary.

Ada upaya untuk melestarikan nama Sarongsong, ketika dilakukan penyederhanaan lagi di tahun 1915. Ketika itu negeri Tumatangtang dan Lansot digabung menjadi satu negeri sengaja dinamai Sarongsong dengan dipimpin Hukum Tua Habel A.Wenur.

Namun, hanya bertahan lima tahun sampai tahun 1920 ketika negeri Sarongsong dibubarkan, dan terbagi ulang menjadi Tumatangtang dan Lansot.

Pemukiman Sarongsong di bagian barat yang yang telah dihuni orang-orang Islam asal Banten bekas interniran Belanda, yakni Kampung Jawa dimandirikan dipimpin seorang hukum tua sendiri sejak tahun 1928.

Negeri lain yang pernah menjadi wilayah bekas Distrik Sarongsong, adalah Lahendong, Tondangow dan Pinaras, sekarang kelurahan-kelurahan di Kecamatan Tomohon Selatan. Kemudian Rambunan dan Sawangan yang sejak tahun 1919 digabungkan dengan Distrik Sonder (sekarang kecamatan di Minahasa, meski ada versi lain sudah terjadi sejak tahun 1908).

NEGERI AWAL
Sarongsong telah ada sejak jaman pra-sejarah. Dotu Manarongsong yang disebut juga Manaronsong atau Sumarangsang dengan istrinya Wawu Winenean disebut-sebut menjadi leluhur awal yang bermukim di kawasannya. Ia dipercayai menemukan sumber mata air serta membuatkan saluran air yang kelak bernama Sarongsong mengenang namanya.

Penulis Belanda Dr.Johan Gerhard Friedrich Riedel menyebut Manaronsong dengan istrinya Winenean dari golongan Makarua Siow dengan sepuluh-sembilan anaknya juga yang menemukan bukit Wawo di bagian timur Sarongsong. Saudara lainnya Kumiwel, dan istrinya Pahirangan dengan tiga anaknya berdiam berdekatan di bukit Kuranga. Lololing dengan istrinya Rinerotan dan enam anaknya di bukit Puser in Tana dekat Tomohon serta Pinontoan di puncak Gunung Lokon dan Rumengan di puncak Gunung Rumengan bersama istri dan anak-anak mereka.

Kemudian dari kalangan Makatelu Pitu, Siow Kurur berdiam di Pinaras. Lalu Repi dengan istrinya Matinontong dan Tontongbene serta lima anaknya berdiam di Rano Lahendong. Berdekatan Rano Lahendong berdiam di lokasi Walehlaki, saudaranya Pangibatan dan istrinya Tinoring dan lima anaknya.

Setelah pembagian di batu Pinawetengan, dan berpencarnya suku Tombulu di Meiesu, Riedel mencatat Tumbelwoto sebagai pemimpin Sarongsong membangun pemukiman di lokasi Tulau (bermakna tertinggal) [1], sekitar 2,5 kilometer dari Tumatangtang sekarang. Saudaranya Kaawoan membawa sebagian penduduk lain mendirikan Tombariri.

                    Baca Mengenang Distrik Kakaskasen.

Dari famili Kaawoan, Walean keluar dari Tulau membuka di sebelah selatan Kuhun. Cucu Walean yakni Sumakul, Rarakutan, Tumurang dan Mandagi  mendirikan negeri Pinangkeian dan Koror. Penduduk negeri-negeri Tulau, Kuhun, Pinangkeian dan Koror meneguhkan secara resmi nama Sarongsong atau Toun Sarongsong (Tonsarongsong) sebagai pakasaannya.

Legenda menyebut pula lokasi bernama Toungkuow, sekitar 4,5 kilometer barat Tumatangtang, pernah dimukimi penduduk. Disebut Toungkuow, karena masa itu penduduk saling menyapa dengan meniru bunyi burung kuow. Bilamana yang disapa tidak menyahut dengan kode sama, dia akan dianggap musuh dan dibunuh.

Menurut Riedel sempat timbul Perang Pinangkeian. Terjadi perbantahan anak-anak Tumurang dari Pinangkeian dengan anak Ogi dari Tulau, bersumber dari permainan daun Tawaang. Buntutnya kedua orang tua mereka yang bersahabat berseteru di tempat minum kehetan, lalu berlanjut dengan peperangan. Hari itu pula anak Ogi terluka. Orang-orang gagah dan teterusan Tulau menyerbu dan membunuh banyak penduduk Pinangkeian, termasuk teterusan Watuseke dan Lekuyan. Perdamaian baru terjadi ketika orang-orang Pinangkeian minta damai lewat penduduk negeri Katingolan di Tombariri.

Legenda dan tradisi setempat mengungkap adanya peristiwa sinarongsongan um wene. Tokoh adat Sarongsong Arie Michael Mandagi dan Jootje Kambey di awal tahun 1980-an mengisahkan penduduk Sarongsong (sudah di Tulau) berangsur-angsur bertambah. Lalu pada suatu masa terjadi paceklik. Paceklik itu juga disebabkan tercurinya benda sakti Sarongsong bernama Kelana Mahuang yang menjadi lambang persatuan dan pemberi isyarat baik dan buruk [2].

Disebutkan, benda tersebut dicuri oleh orang Kalahwakan (penduduk dunia tengah, udara) [3]. Maka, dibuatlah di Lezaz (Lezar, halaman atau lapangan) acara foso negeri, yakni foso Tumalinga si Kooko’ (mendengar burung) dengan Mengalei (Menengoh, Menalinga) di Watu Penginaleian di Tulau (tahun 1983 masih ada sisanya berupa dua batu tegak di dekat Lezaz) yang dipimpin oleh walian wanita. Dipotong babi buat persembahan, sementara walian menari Maengket dan meniup suling.

Mengalei bersambut dimana burung Manguni menyahut memberi pertanda baik. Maka, konon, ada air lagi, kemudian turun simbagu, sejenis padi. Karenanya penduduk menjadi tidak susah lagi.

Konon, dari simbagu inilah, timbul nama sinarongsongan um wene, atau pancuran padi, karena simbagu tersebut jatuh dari Kalahwakan persis air memancur.

Nama Sarongsong tercatat dalam dokumen, diawali laporan Padri Blas Palomino yang bulan April 1619 mengunjunginya dan menulisnya sebagai Saronson. Kemudian juga Gubernur Kompeni Belanda Dr.Robertus Padtbrugge mencatatnya tahun 1682 sebagai Zeronson atau Seronson, berpenduduk 70 awu atau sekitar 350 jiwa. Dari peta masa Padtbrugge, posisi negeri Sarongsong ketika itu berada di sebelah barat Lansot dan Tumatangtang sekarang, dekat sekali dengan Katingolan yang saat itu menjadi ibukota Balak Tombariri.
             
                  Lihat peta masa Padtbrugge di Woloan, Ibukota Awal Tombariri.

Salah seorang tokoh Sarongsong terkenal dalam legenda-legenda setempat adalah Tonaas Kalele, yang menurut Graafland adalah cucu Kalele Tua dan anak Karwur dengan Pasiyowan. Ia memunculkan kisah Kinupitan, dan gelaran Kalelekinupit untuknya. Ditutur, karena melanggar kaposanan, tewas terjepit batuan-batuan, yang meninggalkan sampai sekarang lokasi bernama Kinupitan di dekat Tulau.

PAKASAAN HINGGA DISTRIK
Kepala Pakasaan Sarongsong di masa-masa awal adalah keturunan dari Kalele Tua. Dimulai dari Manangka, Wuwung, serta Mandagi yang terkenal berperang dengan Raja Bolaang Loloda Mokoagow.

Dari istrinya bernama Kinetar atau disebut juga Kumetar atau Kimetar, Mandagi berputra Lontoh yang kemudian terkenal dengan nama Lontoh Kolano atau disebut juga Lontoh Mandagi.

Sketsa Lonto Kolano.

Lontoh menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di Minahasa. Ia dicatat menjadi duta yang berangkat ke Ternate tahun 1654 mengundang Belanda bersama Supit dari Tombariri, Paat dari Tomohon dan Lontaan dari Kakaskasen. Dalam kontrak pertama dengan Kompeni Belanda tanggal 10 Januari 1679, namanya tidak tertera. Tapi, pada kontrak kedua yang berlangsung 10 September 1699 di Benteng Manado, namanya bersama Supit dan Paat sejajar sebagai Hoofd Hukum Majoor, yang membuat dirinya sangat berkuasa, sementara kepala balak lain sekedar bergelar Hukum Majoor [4].

Lontoh diganti tahun 1719 sebagai Kepala Balak Sarongsong oleh Rondonuwu anaknya tertua dari istri bernama Sumengkar atau Sengkar. Namanya dalam dokumen turunannya dicatat sebagai Rondonuwu Lontoh, dan jabatannya banyak disebut sebagai Hulubangsa Sarongsong, gelar lain dari para kepala balak Minahasa masa itu. Ikut menjadi pembantunya adalah iparnya Wenur yang disebut pula Waworuntu, suami adiknya Topowene.

Penguasaan tanah dan pengembangan perkebunan diduga kuat telah dimulai di masa Lontoh. Tanah-tanah milik Lontoh dan ayahnya Mandagi Wuwung berada di lokasi Wuwunongan, Lumales, Boyong, Pengagayongan, Linow Oki, pinggiran timur Sarongsong, Tampang, Moreo, Tendan dan Kaima. Sementara tanah milik Rondonuwu Lontoh berada di Pahkontaan, Rumesik, Rugew, Wunek, Pakewa (dekat dengan Linow), Lumales, Palawas, Boyong, Aki Tower, Uwalaan, Kaima, Linow Wangko, Wuwunongan, Rumorong, Limo dan Kasamba. Lokasi-lokasi ini sampai awal abad ke-20 masih dikuasai keturunan mereka.

Dari istrinya bernama Ramei putri Hukum Kamasi Wowor terlahir Tongkotou yang kelak menggantikannya menjadi Kepala Balak Sarongsong, periode 1760-1790.

Masa Majoor Tongkotou, dikisahkan, terjadi peristiwa alam, sehingga ibukota balak di Tulau ditinggalkan (dari versi ini nama Tulau muncul). Penduduk pindah bermukim di lokasi yang sekarang disebut Amian-Nimawanua, sekitar 4 Km dari Tumatangtang dan 1,5 Km dari Lansot. Amian-Nimawanua sebenarnya bersambungan dan menjadi satu kesatuan dengan Tulau.

Tokoh Sarongsong di masanya adalah Sumendap, seorang walian yang memimpin upacara pemindahan, dan diwarugakan di Amian-Nimawanua (lokasi waruganya telah hancur di tahun 2000-an).

Dihadiskan penduduk Sarongsong di Amian-Nimawanua bermukim lebih seabad. Konon, di tempat ini terjadi satu musibah. Awal mulanya ketika di rawa Wune (sekarang masuk Lansot) tertangkap ikan sogili raksasa. Penduduk memakannya, tapi tidak habis. Sisanya membusuk dan berulat. Ulat-ulat begitu banyak hingga mengganggu penduduk, karena berada di mana-mana. Makanan dan peralatan makan dirayapinya. Baru dengan upacara Marages atau Menombari dipimpin walian wanita, penduduk berhasil mengusir ulat-ulat tersebut memakai sapu lidi dan tumbuhan bunga pagar (zeze wanua, rerehan). Ulat-ulat diusir hingga ujung batas negeri (akazan um wanua atau sela um wanua).

Lokasi rawa Wune.

Tongkotou diganti putranya dari istri Tongkang bernama Tamboto, memerintah Sarongsong tahun 1790-1804. Dari istrinya Banon, ia memperoleh putri bernama See dan Tumete Liwun alias Maria Lontoh yang diperistri Pangemanan anak Lontoh Tuunan dari Kamasi.

Lontoh Tuunan, Kepala Balak Tomohon menjadi berkuasa di Sarongsong, karena masih terhitung cicit dari Lontoh Mandagi. Ayahnya Wowor (2) adalah putra Hulubangsa Rondonuwu Lontoh, dan merupakan anak bersaudara dengan Tamboto. Cicit lain Lontoh Mandagi, bernama Manopo, anak Regar dan cucu Waworuntu yang mengawini Topowene putri Lontoh Mandagi menjabat sebagai Hukum Kedua (Kumarua), berkedudukan di Lahendong.

Kepala Balak Sarongsong berikutnya adalah Kojongian, dikisahkan merupakan pembantu Lontoh Tuunan. Ia meneken kontrak dengan Residen Inggris Thomas Nelson tanggal 14 September 1810 atas nama Balak (dicatat sebagai Department) Sarongsong. Namanya berada di urutan 21 (di bawah Kalalo dan di atas Mokolensang).

Kemudian putra Manopo dari istri Wuaimbene bernama Waworuntu menjadi Kepala Balak (lalu Distrik) Sarongsong sejak tahun 1819. Ia memperoleh gelar kehormatan Majoor. 

Salah seorang panglimanya yang terkenal ketika itu adalah Mandagi yang tahun 1829 tampil memimpin kontingen pasukan Tulungan berasal Sarongsong dalam Perang Diponegoro, dan memperoleh pangkat Kapitein.

Kubur Kapitein Mandagi di Tumatangtang.

Tanggal 1 Juli 1835, mengatasnamakan rakyat Balak Sarongsong, Waworuntu membeli tanah Kalakeran Sarongsong di Manado dari Martinoes Catharinus Lans seharga 1.000 gulden. Tanahnya dibagi dengan Balak Tomohon dan Kakas, karena dibeli berpatungan, dimana ikut bertanda Kepala Balak Tomohon Ngantung (Mangangantung) dan Kepala Balak Kakas Inkiriwang.

Tanggal 8 Februari 1845 terjadi gempabumi dahsyat di Minahasa. Rumah-rumah besar dan bertiang tinggi di Amian-Nimawanua hancur lebur dan jatuh banyak korban jiwa. Namun, dari laporan resmi Residen Manado yang dikutip koran-koran masa itu hanya  lima penduduk yang kehilangan nyawa, sementara semua rumah penduduk runtuh, tinggal menyisakan empat rumah yang juga mengalami kerusakan parah.

               Baca 1845, Gempa Menghancurkan di Minahasa.

Penduduk lari mengungsi. Untuk memasak mereka menggunakan bambu (lulut) dan minum dengan zaun dari bambu. Setelah keadaan aman, dianjurkan Belanda dan diperintah oleh Majoor Waworuntu, penduduk meninggalkan Amian-Nimawanua dan Tulau, pindah di dekat jalan umum yang waktu itu telah dibuka beralaskan batu oleh pemerintah kolonial.

Dikisah, tanggal 1 Januari 1846 di bawah pimpinan Waworuntu dan Hukum Kedua Kalalo, penduduk Sarongsong pindah menuju tempat baru. Untuk itu sesuai tradisi leluhur, di Watu Lelepouan (berupa dua batu tegak yang sekarang berada sekitar belasan meter dari gedung gereja GMIM Syalom Tumatangtang) diadakan foso negeri, yakni Tumalinga dengan Menengoh dalam tarian Maengket, di mana burung Manguni menyahut dan memberi pertanda yang bagus.

Burung tersebut terbang diikuti rombongan penduduk. Awalnya burung tersebut bertengger di pohon Lansot (langsat), lalu terbang dan hinggap di pohon Tumatangtang. Kemudian ke pohon Koror, singgah (Pinangkeian) dan terbang terus hingga ke ujung (Kapoya). Maka segera berdiri lima negeri baru dalam Balak Sarongsong. Lansot, Tumatangtang, Koror, Pinangkeian dan Kapoya. Kelima negeri ini membentuk ibukota baru Sarongsong. Di masa kemudian baru berdiri negeri Wuwuk, Regesan dan Kapoya yang juga tidak berumur panjang.

Majoor Waworuntu yang beristri tiga, setelah menentang agama Kristen, pada hari Minggu tanggal 11 April 1847 bertempat di gereja Tomohon dibaptis Protestan oleh Inspektur NZG Ds.L.J.van Rhijn. Ia memakai nama (sesuai dokumen dan di kuburnya) Herman Carl Wawo-Roentoe.

           Baca pula Jalan Panjang Gereja GMIM Sion.

Majoor Herman Carl Wawo-Roentoe meninggal tahun 1854. Anak tertuanya Zacharias Wawo-Roentoe yang sebelumnya menjabat Hukum Kedua, diangkat sebagai pengganti. Adiknya Albertus Bernadus Wawo-Roentoe mengganti sebagai Hukum Kedua, namun tahun itu juga diangkat menjadi Jaksa Landraad Manado (dan tahun 1861 sebagai Kepala Distrik Sonder).

Zacharias memperoleh titel kehormatan Majoor 30 Juni 1855, dan memerintah Sarongsong hingga dipensiun dengan beslit bulan April 1880. Dengan demikian Distrik Sarongsong berakhir. Majoor pensiunan Zacharias Wawo-Roentoe meninggal setahun kemudian, tanggal 8 Juli 1881. ***




[1]. Tulau ditafsirkan pula dari selalu gagalnya musuh-musuh Sarongsong yang hendak menyerang dan menyamun negeri, sebab tertinggal tidak dapat meloloskan diri, dibunuh dan dipancung kepalanya.
[2]. Legenda lain mengisahkan, benda pusaka negeri Kelana Mahuang itu dicuri penduduk Meiesu, dan dapat direbut kembali oleh Tonaas Kalele Tua, anak Palohun dan Wanenean, menurut Graafland, keturunan Pasiyowan 1 dengan suaminya Rumengan.
[3]. Menurut Graafland, merupakan konsepsi masyarakat Minahasa kuno, bumi didiami manusia, bumi tengah atau udara didiami roh-roh manusia yang menjadi dotu atau opo, dan Empung berdiam di dunia atas yang disebut Kasendukan.
[4]. Beberapa kalangan menyamakan Lontoh Mandagi dengan Kapitein Pedro Ranti yang menjadi salah satu saksi kunci perjanjian Minahasa-Belanda 10 Januari 1679 yang mengerti bahasa Melayu serta telah beragama Kristen. Versi ini Lontoh dibaptis Yuan Yranzo, lalu versi lain sempat dikirim mengikuti pendidikan di Seminari Ternate. Kendati demikian, banyak legenda Tombulu justru menyebut dari tiga serangkai Minahasa itu baru Supit yang melek aksara dan bahasa Melayu.



·      Sumber foto: Didi Sigar, Jootje Umboh dan Bode Talumewo.
·      Sumber tulisan: buku ‘‘Riwayatmu Tomohon’’ 1986, buku ‘’Tomohon Kotaku’’. Naskah ‘’Tomohon Dulu dan Kini’. Buku Dr.P.Bleeker ‘’Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel’’ 1856. Buku Nicolaas Graafland (terjemahan Yoost Kullit), ‘’Minahasa Masa Lalu dan Masa Kini’’ 1987, dan buku ‘’Inilah Kitab Batja akan Tanah Minahasa’’1863, serta buku Dr.J.F.G.Riedel‘’Inilah Pintu Gerbang Pengetahuwan itu’’ 1862.