Sabtu, 19 Oktober 2019

Protestan di Taratara








Kubur Pandita E.W.G.Graafland.






Jemaat Protestan Taratara meski secara resmi dicatat NZG berdiri tahun 1851, telah tumbuh jauh-jauh hari sebelumnya. Demikian pula dengan Sekolah Genootschap.

Inspektur NZG Ds.Leonard Johannes van Rhijn mengungkap pada hari Sabtu tanggal 10 April 1847, ia berkunjung ke sekolah dan jemaat Kristen kecil (klein Christen-gemeenten) Taratara dari Woloan.

Pengkristenan di Tombariri di mana Taratara menjadi bagiannya, telah diawali oleh Predikant Dirk Lenting 1819 yang dicatat sebagai pendiri Jemaat Tanawangko. Lalu Daniel Muller tahun 1822-1826, pertama di Manado kemudian tinggal Tanawangko. Tahun 1830 dibezuk Zendeling leeraar Gerrit Jan Hellendoorn, pejabat Predikant Manado, yang melakukan pembaptisan sejumlah orang dewasa dan anak-anak. Kemudian Zendeling Amurang Carl Traugott Herrmann dan Zendeling Tomohon Nicolaas Philip Wilken. Selama periode singkat sedari 9 November 1842 hingga 1 Februari 1843, Wilken memegang Werkkring Tanawangko sampai Mattern meninggal.

Sebelum Rudolf Bossert ditempatkan di pos Tanawangko Maret 1849, Fokke Hinderks (Hendriks) Linemann (kelak Predikant Manado), pada Juli 1846 sempat melayani sementara pula.

Wilken lah yang yang mendirikan Jemaat kecil Taratara, termasuk sekolah Genootschap. Dari catatan Louwerier, tahun 1846 Wilken mengangkat murid terbaiknya Jusuf Tumbelaka sebagai guru sekaligus pemimpin Jemaat Taratara yang pertama. Sekolah dan Jemaat Taratara di bawah guru Jusuf Tumbelaka inilah yang ditemui oleh Ds.L.J.van Rhijn tahun 1847. 1]

Jusuf Tumbelaka bekerja di Taratara selama tiga tahun. Tanggal 8 Maret 1849, ia dipindahkan Wilken sebagai pemimpin jemaat dan guru Sekolah Genootschap Kakaskasen.


Zendeling Rudolf Bossert dianggap resmi, seperti dicatat NZG, sebagai pendiri Jemaat Taratara. Pada tanggal 15 Februari 1851 ia melakukan pembaptisan pertama di Taratara terhadap 41 orang, yang dipastikan sebagai awal keberadaan Jemaat Protestan. Pembaptisan kedua dilaksanakan 16 Oktober 1851 terhadap 6 penduduk lalu 8 orang lagi.

Perkembangan sekolah mengalami pasang-surut. Tapi, dibanding jemaat lain di Werkkring Tanawangko, animo penduduk menyekolahkan anak terbilang sangat tinggi. Statistik NZG mencatat berperan sebagai negeri kedua terbesar Tombariri, sekolah Taratara memiliki banyak murid, dengan tingkat kehadiran lumayan tinggi.

Tahun 1852 murid sekolahnya 127, dengan hadir sehari-hari 90. Tahun 1853 95 murid dan kehadiran 50. Tahun 1854 97 dan kehadiran 55. Tahun 1855 120 murid dengan kehadiran 70. Tahun 1856 120 (hadir 90). Tahun 1857 158 hadir 65. Tahun 1858 150 hadir 90. Tahun 1859 148 hadir 78. Tahun 1860 150 hadir 72 dan tahun 1861 168 kehadiran 83.

GRAAFLAND
Zendeling Bossert bertugas hingga pindah 1854 di Saparua. Penggantinya sejak 5 September 1854 adalah guru Zendeling Nicolaas Graafland yang juga pemimpin Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers (Sekolah Guru Pribumi) dari NZG di Tanawangko, pindah dari Sonder.

Hukum Tua Taratara Welan adalah salah seorang yang dibaptis olehnya. Welan adalah Walian (imam kepercayaan leluhur), aktif memimpin dan memerintahkan pelaksanaan foso di Taratara, hal yang diperangi Graafland. Welan memakai nama baru Daniel Wohon. Kemudian Poluan (disebut pula Poluakan) yang juga menjadi Hukum Tua memakai nama baptis Barnabas Poluan Roring.

Tahun 1867, dari total penduduk Taratara 950 jiwa, Jemaat Protestan baru 150 orang, sementara kafir (heidenen) 800. Graafland mencatat tahun ini masih ada 4 anggota sidi dan 8 pasang yang telah dikawinkan. Ia membaptis saat itu 122 orang (28 laki-laki, 58 perempuan dan 36 anak). Juga kawinkan 10 pasangan.

Sekolah Genootschap Taratara tahun 1867 dipimpin guru Markus Ondang mempunyai 155 murid (84 anak laki-laki dan 71 anak gadis), dengan kehadiran 90.

Tahun 1869 Ondang diganti oleh guru J.Tiwow yang sebelumnya memimpin Sekolah Gouvernement (Gubernemen=pemerintah) di Tateli. Ia adalah murid Graafland di Kweekschool, dan saudara guru Ismael Tiwow yang terkenal. Muridnya Desember 1869 128 anak (76 laki 53 anak gadis) dengan kehadiran 60. Tahun 1870 dengan penilik Graafland mencatatkan 148 murid (84 laki-laki dan 64 anak perempuan), tapi kehadiran hanya 50. Tahun 1871 dengan 134 murid (78 laki dan 56 perempuan) dihadiri 47 orang.

BETTINK
Karena tugas-tugas Graafland di Sekolah Guru, NZG menunjuk Hendrik (ditulis juga Hendirk) Bettink memegang pos Zending Tanawangko sejak 30 April 1870. Ia baru mulai bekerja di Tanawangko sejak 1871, pindah dari Tondano.
.
Pembaptisan pertama Zendeling Bettink 1872 terhadap 28 orang (13 dewasa 15 anak) serta mengawinkan 4 pasang. Sekolah dengan 157 murid (112 laki dan 46 anak gadis) di ultimo Desember 1872 hanya dihadiri 66 pelajar.

Perobahan terjadi pada 1873 ketika guru Tiwow digantikan Bettink dengan Frederik Makalew. Dengan jumlah murid 164 (126 laki dan 38 anak gadis), kehadiran Sekolah Genootschap Taratara meningkat jadi 104. Bettink tahun ini membaptis 16 anak, 2 sidi dan kawinkan 3 pasangan.

Ultimo Desember 1874 sekolah dengan 169 murid (124 anak laki 43 anak gadis), dan kehadiran 133 anak. Bettink tahun 1874 membaptis 24 penduduk Taratara (2 dewasa 22 anak) dan kawinkan 3 pasang.

Guru Frederik Makalew hanya bertugas 2 tahun. Tahun 1875 Sekolah Genootschap Taratara telah dipimpin H.Pongoh, lulusan Kweekschool Tanawangko. Muridnya di bulan Desember ini 180 (127 anak laki dan 53 anak gadis) dengan kehadiran 107. Evangelisasi Bettink tahun 1875 membaptis 8 orang (7 dewasa 1 anak) dan kawinkan 1 pasang.

Pongoh juga tidak bertahan lama. Bettink tahun 1876 menggantinya dengan H.Roemambi. Bulan Desember 1876 sekolah di bawah Rumambi dengan penilikan Bettink mengalami penurunan drastis. Dengan 99 murid terdaftar (66 anak laki dan 33 anak perempuan) yang hadir hanya 38. Namun, Bettink yang telah berstatus Hulpprediker tahun ini melakukan pembaptisan terbesar sepanjang pelayanannya135 penduduk Taratara (69 orang dewasa dan 66 anak), serta kawinkan 4 pasang.

Sekolah Genootschap Taratara seakan jadi ajang ujicoba, karena dalam 3 tahun berturut telah dipimpin 3 guru kepala baru. Tahun 1877 J.Soemampouw diangkat jadi pengganti Roemambi. Murid sekolah di bawah Soemampouw kembali naik, 189 orang (116 anak laki dan 73 anak perempuan), namun kehadiran justru turun 42 anak. Dalam kegiatan evangelisasi, Bettink kembali panen dengan 40 baptisan (15 dewasa 25 anak) serta kawinkan 6 pasang.

Penyebab penurunan murid Sekolah Genootschap, karena sebuah Sekolah Katolik telah dibuka di Taratara tahun 1875. Kemudian pula sebuah Gouvernementschool (Sekolah Gubernemen), Openbare Inlandsch School der tweede klasse Taratara.

Tahun 1878 Bettink pindah. Adrianus de Lange ditempatkan sebagai Zendeling Tanawangko. Namun, de Lange tidak melakukan pembaptisan. Pembaptisan di Taratara tahun 1878 dicatat atas nama Graafland. Bersama Hulpprediker Tomohon Jan Louwerier keduanya memimpin sementara evangelisasi di Resort Tanawangko, termasuk Taratara. 2]

Graafland tahun 1878 membaptis 33 penduduk Taratara (13 dewasa dan 20 anak), 1 sidi dan kawinkan 4 pasang. Sekolah Desember tahun ini di bawah guru Soemampouw memiliki 148 murid (94 anak laki dan 64 anak perempuan), tapi kehadiran rendah 24 siswa.

Tahun 1879 giliran Louwerier dari Tomohon membaptis 54 orang (25 dewasa 29 anak) dan kawinkan 17 pasangan. Sekolah Genootschap Taratara dengan 158 murid (94 anak laki dan 64 anak gadis) hanya dihadiri 24 anak.

SCHIPPERS
Sejak 2 Februari 1880 Hulpprediker Marie Hendrik Schippers ditempatkan memegang Resort Tanawangko. Tahun ini, sebanyak 50 penduduk dibaptis (20 dewasa 30 anak), sidi 12 dan kawin 1 pasang.

Tahun 1880 Sekolah Genootschap di bawah Soemampouw ditutup. Murid sekolahnya diambiloper oleh Sekolah Gubernemen yang telah didirikan di bawah guru kepala Frederik Makalew. Makalew selain lulusan Kweekschool telah memperoleh diploma guru Gubernemen klas dua tahun 1876.  3]

Sekolah Gubernemen Taratara adalah pindahan Sekolah Gubernemen di Tanggari Tonsea yang telah ditutup, karena populasi penduduknya sedikit.

Tahun 1881 Hulpprediker Schippers melakukan pembaptisan 39 penduduk (13 dewasa 17 anak), sidi 4 dan kawin 4. 

Sejak tahun 1881, untuk membantu pelayanan di Taratara, Hulpprediker dibantu seorang Inlandsch leeraar (Penolong Injil) yang memimpin Jemaat (Gemeenten) didampingi Guru Jemaat yang sejak awal selalu dipegang guru Sekolah Genootschap, kemudian guru Gubernemen. Inlandsch leeraar S.Lantang yang lulus dari Opleidingsschool voor Inlandsch leeraar Tomohon (kelak Stovil) dicatat sebagai pemimpin Jemaat Taratara pertama,

Schippers setelah sakit pindah di Maumbi, sehingga Louwerier sejak 25 November untuk sementara waktu menangani Resort Tanawangko. Evangelisasi tahun 1882, Louwerier membaptis 66 orang (5 dewasa 61 anak) dan kawinkan 2 pasang.

Jan ten Hove yang telah dibeslit sejak 11 Juni 1882 menjadi Hulpprediker Resort Tanawangko, pindah dari Ambon. Tahun 1883 ia membaptis 20 orang (2 dewasa 18 anak), sidi 16 dan kawinkan 8 pasang. Tahun 1884 dibaptisnya 52 penduduk (12 dewasa 40 anak), sidi 15 dan kawin 9. Tahun 1885 33 baptisan (6 dewasa 27 anak), 26 sidi dan 4 kawin. Tahun 1886 45 baptisan (9 dewasa 36 anak), 35 sidi dan 3 kawin.

Hulpprediker ten Hove tahun 1887 membaptis 40 penduduk (13 dewasa 27 anak), 16 sidi dan 3 kawin.

GRAAFLAND MUDA
Tahun 1888 ten Hove pindah di Maumbi. Menggantikannya adalah Hulpprediker Eduard Willem Gilles Graafland, anak Zendeling Nicolaas Graafland, sejak 14 April 1888. Tahun ini ia membaptis 34 penduduk Taratara (7 dewasa 27 anak), dan kawinkan 10 pasang.  4]

Jemaat Kristen Taratara tahun ini sebanyak 807 jiwa, dari total penduduk 1.351. Katolik 414 dan yang masih berkepercayaan lama 127. Ada pula 3 Islam. Inlandsch leeraar S.Lantang selain memimpin Taratara, merangkap di Jemaat Kayawu, Kinilow, Tinoor dan Woloan.

Tahun 1889 Graafland membaptis 32 orang (2 dewasa 30 anak) dan kawinkan 8 pasang. Selang tahun 189132 orang kembali (2 dewasa 30 anak) dan 5 kawin.

Penduduk Taratara tahun 1892 1.407 jiwa, dengan Protestan 883, Katolik 406 dan kafir 118. Jemaat Taratara masih di bawah Lantang yang tinggal menangani Taratara, Woloan dan Ranotongkor.

Tahun 1893 Graafland membaptis 36 penduduk (6 dewasa 30 anak), sidi 5 dan kawin 12. Jemaat Taratara masih di bawah Inlandsch leeraar Lantang sebanyak 906 jiwa, Katolik 477 dan kafir 22, sementara Islam tercatat 7 orang. Total penduduk 1.412.  Evangelisasi Graafland tahun 1894 48 jiwa (3 dewasa 45 anak), 6 sidi dan 5 kawin.

Tahun 1895 penduduk Taratara 1.452 jiwa, Protestan di bawah Lantang 948, sementara Katolik 487, kafir 16 dan 1 Islam. Graafland membaptis 43 orang (4 dewasa 39 anak), dan kawinkan 4 pasang. Tahun 1896 dari total penduduk 1.453, terdapat 956 Protestan. Sisanya Katolik 486, kafir 9 dan Islam 2. Graafland membaptis 23 orang (2 dewasa 21 anak), sidi 9 dan kawin 6. Tahun 1897 Jemaat Taratara di bawah Lantang 935 jiwa. Katolik 421, kafir 14 dan Islam 2, dengan total penduduk 1.372. Evangelisasi Graafland 36 baptisan (4 dewasa 32 anak), dan 5 sidi. Ultimo 1898 dari total penduduk 1.390, Protestan sebanyak 946, Katolik 431, kafir 12 dan Islam 1.

Kumpulan Kaum Ibu Taratara didirikan tahun 1896, yang rutin bertemu di Minggu sore dengan dipimpin seorang penatua.

Hulpprediker Tanawangko E.W.G.Graafland pindah Amurang. Tahun 1898 Resort Tanawangko dilayani sementara Jan Louwerier dari Tomohon, Jan ten Hove dari Maumbi dan juga Graafland sendiri. Sebanyak 12 anak dibaptis dan 9 kawin.

Tahun 1899 penduduk Taratara 1.327 jiwa. Protestan masih di bawah S.Lantang sebanyak 901 orang, Katolik 444, serta kafir 6. Resort Tanawanko sejak tahun 1899 dilayani Hulpprediker Cornelis Johannes Izaak Sluyk yang dibeslit sejak 11 Juni 1897. Sluyk membaptis pertama di Taratara 46 orang (4 dewasa 42 anak), sidi 28 dan kawinkan 8 pasang.

Tahun 1900 Taratara berpenduduk 1.372. Protestan 903, Katolik 462, kafir 6 dan Islam 1. Evangelisasi Sluyk tahun ini 31 baptisan (1 dewasa 30 anak), 37 sidi dan 15 kawin. Tahun 1901 35 baptisan (3 dewasa 32 anak) dan 6 kawin. Tahun 1901 Protestan sebanyak 972, Katolik 481, kafir 4 dan Islam 3 dengan jumlah penduduk 1.460 jiwa. Tahun 1902 dari jumlah penduduk 1.545, Protestan menjadi 1.003, Katolik 533, kafir 4 dan Islam 5. S.Lantang masih sebagai Inlandsch leeraar. Sluyk membaptis 32 orang (1 dewasa 31 anak), 19 sidi dan 1 kawin.

Di tahun 1903 Protestan jadi 1.033. Dengan total penduduk 1.372, Katolik 541, 4 kafir dan 3 Islam. Evangelisasi Sluyk 59 baptisan (2 dewasa 57 anak), 13 sidi dan 12 kawin.

RESORT TARATARA
Tanggal 6 Oktober 1903 Taratara menjadi kedudukan resort baru, Resort Taratara yang menggantikan Resort Tanawangko. CJ.I Sluyk masih bertugas hingga 16 Oktober 1904. Kemudian pindah di Pulau Rote Timor. Resort Taratara sementara ditangani Hulpprediker Tomohon Louwerier, Amurang dan Maumbi hingga 26 Desember 1904. Selang tahun 1904 evangelisasi di Taratara 36 orang (2 dewasa 34 anak) dan 2 pasang kawin. Protestan tahun ini sebanyak 1.044, Katolik 566, kafir 3, Islam 1 dengan total penduduk 1.614 orang. Tahun 1905 penduduk Taratara 1.569, dengan Protestan di bawah Lantang 1.005, Katolik 561 dan 3 Islam. De Haan membaptis 51 (8 dewasa 43 anak), sidi 22 dan kawin 2.

Hulpprediker J.G.de Haan, dibeslitkan Resort Taratara sejak 1 Desember 1904. Ultimo 1906 de Haan kali pertama membaptis 35 orang (1 dewasa 34 anak) dan kawinkan 14 pasang. Jemaat Taratara di bawah Lantang tahun 1906 sebanyak 1.116 jiwa. Katolik 564 dan Islam 2, dengan total penduduk 1.582. Tahun 1907 dengan total penduduk 1.496, Protestan turun 972. Sisanya Katolik 522 dan Islam 2. Evangelisasi 1907 oleh de Haan, 32 baptisan (4 dewasa 28 anak), 15 sidi dan 7 kawin. Tahun 1908 dengan penduduk 1.533, Protestan kembali naik jadi 1.002, Katolik 529 dan Islam 2. De Haan membaptis 36 (3 dewasa, 33 anak), sidi 20 dan kawinkan 9 pasang. Tahun 1909 39 baptisan (1 dewasa 38 anak), 18 sidi dan 7 kawin. Tahun 1910 baptisan 36 anak dan 9 pasang kawin.

Jemaat Taratara tahun 1909 sebanyak 1.003 orang. Katolik 511 dan 2 Islam, dan total penduduk 1.563. Tahun 1910, dari jumlah 1.552 penduduknya, Protestan yang tetap dipimpin S.Lantang sebanyak 1.034. Katolik sendiri 516 jiwa.

GEREJA
Jemaat Taratara (sekarang Jemaat GMIM Imanuel, yang juga telah mekar dengan Jemaat Siloam di Taratara Dua 1991 dan Gloria di Taratara Tiga 2011), sejak awal telah memiliki bangunan peribadatan, kendati sangat sederhana, dari bambu. Tahun 1878 gereja dibangun dari kayu, masih dimanfaatkan pula untuk kegiatan belajar-mengajar Sekolah Genootschap.

Gereja kayu Taratara dianggap tidak layak lagi, dan jemaat sejak Agustus 1896 merencanakan pembangunan gereja baru yang luas untuk mengganti gereja tua yang terus bocor. Namun, karena kekurangan uang, pembangunannya berjalan lamban. Baru tahun 1899 anggota jemaat mulai mengumpul kayu dari hutan, tapi kemudian terbengkalai. Pembangunan digalakkan ketika J.G.de Haan menjadi penanggungjawab Resort awal tahun 1905. Awal tahun 1906 pekerjaan dimulai oleh anggota jemaat dengan melibatkan partisipasi aktif Kaum Ibu.

Setelah 12 tahun, gereja baru akhirnya ditahbiskan pada Kamis 11 Mei 1908. Sebuah kain merah bertulisan ‘’Immanuel-Hallelujah’’ yang dibuat seorang guru belajar yang dipasang di atas mimbar, kelak mengantar Jemaat dan gedung gerejanya bernama Imanuel seperti sekarang. ***


                -------
1] Wilken tercatat sebagai pendiri Jemaat Lolah dan Tateli tahun 1848. Dua Jemaat yang ketika itu masuk Werkkring Tanawangko.
2] Zendeling A.de Lange di Tanawangko sejak 22 Februari 1875, membantu Graafland di Kweekschool. Tanggal 1 September 1875 kawin dengan putri Graafland Anna Helena Graafland. Tahun 1883 ia menangani sementara Kweekschool. Namun, jatuh sakit, dan untuk mengembalikan kesehatan beristirahat di Taratara. Kelak menangani percetakan NZG hingga diganti tahun 1900 oleh C.van der Roest.
3] Sekolah Gubernemen dipimpin seorang guru kepala (onderwijzer), guru bantu (hulponderwijzer) dan guru belajar (kweekeling), memperoleh gaji dari pemerintah (gubernemen) Hindia-Belanda, bukan lagi dari NZG. Para guru dituntut untuk memperoleh diploma dari sekolah pelatihan di Tomohon yang dipimpin Jan Hendrik Hiebink Rooker (kemudian Kweekschool Gubernemen=Kweekschool voor Inlandsche onderwijzers di Tondano), atau bahkan di Ambon. Bulan Juni 1881 ditempatkan guru A.Dengah yang memperoleh diploma klas 1, sebelumnya guru gubernemen di Kaasar. Salah seorang Kweekeling adalah J.H.Sumampouw hingga awal Juli 1898. Kelak Sekolah Genootschap (sekarang SD GMIM I) didirikan ulang, sementara Sekolah Gubernemen hilang.
4] Hulpprediker E(duard) W(illem) G(illes) Graafland lahir di Tanawangko 18 April 1866 meninggal dan dikuburkan di Amurang 22 Mei 1924.


Foto dari Bodewijn Talumewo.
Sumber tulisan: Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap 1857-1911. Maandbericht van het Nederlandsche Zendelinggenootschap 1883,1909. Naskah 'Tomohon Dulu dan Kini'.

Minggu, 06 Oktober 2019

Orang-orang Kristen Pertama








Zendeling J.G.Schwarz.






Sebelum Tomohon ditetapkan sebagai pos penginjilan dari Nederlansch Zendeling Genootschap (NZG) tahun 1838, sudah ada satu-dua orang yang dibaptis Kristen Protestan. Entah oleh Zendeling Tondano Johan Friederich Riedel (melayani 14 Oktober 1831-12 Oktober 1860) atau Zendeling Langowan Johan Gotlieb Schwarz (12 Juni 1831-1 Februari 1859). Atau bahkan oleh Predikant Manado Gerrit Jan Hellendoorn (Januari 1826-18 Agustus 1839).

Riedel dan Schwarz dipastikan pernah menanamkan bibit Kristen di Tomohon. Riedel umpama diketahui seperti dari laporannya kepada NZG bertanggal 27 September 1836 menyebut menangani sekolah besar Tomohon.

Salah seorang wanita yang diduga menjadi Kristen di masa awal ini adalah Maria Posumah, istri Kepala Balak Tomohon Majoor Manoppo yang berkuasa di tahun 1809-1824. Zendeling Schwarz kuat dugaan yang telah membaptisnya, karena Schwarz mengenalnya dengan sangat baik, seperti dicatat Dr.W.R.Baron van Hoevell tahun 1856. Schwarz banyak melakukan pembaptisan di berbagai tempat di luar posnya Langowan.

Maria Posumah, nenek buyut dari Kepala Distrik Tomohon Majoor Roland Ngantung meninggal dalam usia yang sangat lanjut, 111 tahun. Dari para putri dan putranya turun keluarga-keluarga terkenal di Tomohon dengan fam Palar, Ngantung, Wenas, Wahani, Posumah, Anes dan lainnya.

Wanita lain yang diperkirakan menjadi Kristen awal Tomohon adalah putri bekas Kepala Balak Sarongsong Majoor Tamboto yang bernama alifuru Tumete Liwun. Ketika masuk Kristen memakai nama Maria Lontoh. Ia diperistri Hukum Kamasi Pangemanan Lontoh, anak dari Lontoh Tuunan bekas Kepala Balak Tomohon dan tokoh pejuang Perang Minahasa di Tondano tahun 1808-1809. Putri Maria Lontoh bernama Elisabeth Pangemanan Lontoh diperistri Lukas Wenas, kelak Kepala Distrik Tomohon. Sayang juga tidak diketahui zendeling yang telah membaptis Maria Lontoh.


Zendeling pertama Tomohon Pandita Johan Adam Mattern bekerja di Tomohon sejak awal Juli 1838 (menurut Jan Louwerier mulai Juni) hingga meninggal pada 7 Desember 1842.

Ketika Mattern tiba di Tomohon, NZG mencatat, kalau Tomohon adalah tempat dimana usaha pengkristenan paling sedikit dilakukan. Hanya ada satu sekolah tersisa dengan pengunjung tidak lebih dari 40 atau 50 murid.

Selama masa pelayanannya, NZG mencatat Mattern hanya membaptis 47 orang, terdiri 36 orang dewasa dan 11 anak-anak, serta mendirikan Jemaat (Gemeenten) Tomohon 1839, termasuk banyak sekolah yang ketika itu tersebar di Distrik-distrik Tomohon, Sarongsong, Kakaskasen dan Tombariri, kendati juga sepeninggalnya banyak yang ditutup dan dibuka ulang oleh Wilken. Mattern tidak sempat melaksanakan satu pun peneguhan anggota sidi atau pemberkatan perkawinan.

Pendirian Jemaat Tomohon tahun 1839 berdasar pengumuman NZG, ketika Mattern melaporkan melakukan pembaptisan pertama di Tomohon pada akhir bulan Desember 1839. Sebanyak enam orang dibaptis di gedung gereja pertama Tomohon yang telah dibangun sebelum rumah pribadi sekaligus percetakan selesai pada Agustus 1839.

Namun tidak ada data siapa saja yang telah dibaptisnya, karena buku baptisan bekas Gereja Besar Tomohon tidak ada. 

Tentang orang Kristen pertama ini, dicatat, bahwa mereka adalah enam orang murid piara yang telah tinggal bersama Mattern selama sekitar satu tahun. 

Dari laporan Mattern dan berita Louwerier, hanya dua dari 47 orang yang dibaptis yang diketahui pasti nama dan tanggal pembaptisannya. Sedangkan seorang lainnya hanya diketahui nama alifuru, serta fam dari ketiga anaknya 

WAJONG DAN WOHON
Bulan Januari 1840 Mattern mencatat memulai katekisasi dengan sepuluh orang muda, termasuk Guru Tomohon dan Sarongsong. Ia sangat berharap dengan jumlah ini akan membentuk anggota Jemaat Tomohon. Tetapi, anggota katekisasinya segera turun menjadi tujuh orang. Istrinya Johanna Jacoba Oudshoff membantu dengan usaha keras. Menurut Mattern, dari antara ketujuh orang itu, hanya tiga kweekeling (murid piara) yang bisa mengajar.

Semua murid piara yang dibaptisnya dipersiapkan untuk menjadi guru Sekolah Genootschap. Muncul permohonan dari beberapa Kepala Distrik untuk membuka sekolah di negeri-negeri mereka.

Tanggal 9 Februari 1840 Mattern membaptis empat orang. Mereka terdiri seorang pria muda dan wanita muda anak piara istrinya Jacoba, serta dua orang yang telah bersekolah.

Dua orang yang dibaptis diketahui pasti adalah Alexander Wajong dan Cornelis Wohon. Keduanya telah bekerja di percetakan NZG yang dipegang Mattern sejak awal kedatangannya di Tomohon, sebagai helper mencetak buku pelajaran dan agama dalam bahasa Melayu dengan gaji 4 gulden tiap bulan. 1]

Alexander Wajong kelahiran Tomohon 1818. Setelah dibaptis, ia ditempatkan Mattern sebagai guru Sekolah Genootschap Sarongsong pada 28 Februari 1840 hingga pensiun 8 Februari 1874 (meninggal tahun 1891).


Seperti Alexander Wajong, Cornelis Wohon, pertama kali ditempatkan sebagai guru Sekolah Genootschap Tataaran Tombulu (Tataaran Dua), ketika itu masuk Distrik Tomohon. Masa Pandita Nicolaas Philip Wilken, ia ditarik dari Tataaran, digantikan guru Samuel Elias. Ia ditempatkan sebagai guru Sekolah Genootschap Tomohon di Kamasi yang terbilang paling bermutu di Minahasa ketika itu. Dianggap gagal di Tataaran, ia justru sukses di Tomohon. Tahun 1862 Wilken mengangkatnya menjadi Penolong Injil (Hulpzendeling) Tomohon pertama, kemudian sebagai Inlandsch leeraar tahun 1879. Dan setelah hampir lima puluh tahun bekerja, ia meninggal dunia.

Salah seorang yang banyak dianggap sebagai murid Mattern pula adalah Samuel Elias. Namun, kemungkinan kuat Samuel Elias bukan dibaptis Mattern, tapi oleh Zendeling Amurang pertama Carl (Karl) Traugott Herrmann (Mei 1836-26 September 1851). Samuel Elias berasal Amurang kelahiran Pondang. Ia juga dicatat Louwerier memulai karir sebagai helper di percetakan NZG di bawah Mattern, tapi ketika masih berada di Manado, sejak 1 Juni 1836.

Sebelum Mattern pindah dengan percetakan di Tomohon pada bulan Juni 1838, Samuel Elias telah menjadi pekerja jemaat dan pemimpin Sekolah Genootschap Kakaskasen sejak tanggal 19 April 1838, dan menjabat hingga 31 Desember 1840. Karir guru Samuel Elias, berlanjut ketika Mattern memindahkannya jadi guru Sekolah Genootschap Woloan 4 Januari 1841 hingga 31 Desember 1843. Terakhir, oleh Wilken ditempatkan di Tataaran Tombulu mengganti Cornelis Wohon, memimpin Sekolah Genootschap selang 4 Januari 1844-5 Februari 1871. Samuel Elias berhasil mengantar sebagian besar penduduk Tataaran menjadi Kristen.

Murid piara lain dari Pandita Mattern tidak diketahui. Namun dapat dipastikan mereka ditempatkannya menjadi guru-guru di banyak sekolah yang berhasil didirikannya.

Tahun 1840 NZG melaporkan Mattern mengelola 56 sekolah dengan 3.837 anak murid, dimana 28 sekolah diantaranya didirikan olehnya. Tahun ini pula sekolah asuhannya meningkat menjadi 65 buah. Namun, terakhir dicatat ia sekedar menangani 14 sekolah dengan 770 murid. Penurunan terjadi karena serangan penyakit anak, serta kurang perdulinya para kepala, dan orang tua murid.

Selain Mattern, istrinya Jacoba memiliki beberapa murid wanita (anak piara). Kondisi anak piara terlantar ketika Jacoba meninggal pada 8 Oktober 1840.

Tahun 1840 itu pula, menurut NZG, Mattern membaptis delapan muridnya yang sebelumnya masih kafir serta dua orang dewasa lain. 2]

ISTRI WAWORUNTU
Tanggal 22 Maret 1841 Mattern melaporkan memberikan baptisan kepada sepuluh orang. Dari mereka empat orang diantaranya berasal dari satu keluarga Waworuntu asal Sarongsong. ‘’Istri ketiga dari Kepala Distrik Sarongsong dan tiga anak laki-lakinya,’’ catat Mattern.

Penerima baptisan lain adalah murid tua dari distrik yang telah membuat beberapa kemajuan di sekolah. Namun, mereka karena usia terpaksa harus keluar dari sekolah, karena terhitung usia wajib kerja. Mereka dituntut berpartisipasi dalam penanaman kopi dan padi. 3]

Istri ketiga dari Kepala Distrik Sarongsong Majoor Waworuntu bernama Tewi. Namun, tidak diketahui nama baptisnya, begitu pun nama ketiga anak laki-lakinya. Salah seorang putri Majoor Waworuntu dari Tewi dikenal bernama Sandrana Adriana Waworoentoe yang meninggal tahun 1918.  4]

Mattern masih menambahkan bahwa istri kepala Sarongsong ini kemudian menceraikannya setelah sadar kalau perkawinan seperti itu tidak mungkin dalam agama Kristen.

Mattern merasa senang dan melihat harapan untuk masa depan. Kecenderungan terhadap agama Kristen dilihatnya meningkat di Distrik Tomohon dan Sarongsong.

Tanggal 17 Oktober 1841 Mattern kembali membaptis delapan orang di Gereja Tomohon.

Menurut Mattern, jumlah pendengarnya terus meningkat, dan terus-menerus muncul orang yang berhasrat untuk dibaptis.

Namun, umur Mattern pendek, meninggal 7 Desember 1842.

Ketika Wilken penggantinya yang baru bekerja di Tanawangko 9 November 1842 tiba di Tomohon 1 Februari 1843 untuk menggantikannya, ia hanya menemukan lima atau enam orang Kristen dewasa, sebagian besar dari Tondano dan tempat lain.

Kebanyakan dari mereka yang dibaptis Mattern, lapor Wilken, telah pergi ke tempat lain. Wilken mencatat di hari-hari pertamanya hanya empat anak masuk sekolah (Sekolah Genootschap Tomohon) secara tetap. Sementara pengunjung kebaktian di gereja sebagai pendengar empat hingga delapan orang.***


---------
1] NZG mencatat tahun 1839 Mattern dibantu 3 asisten percetakan di Tomohon.
2] Tidak diketahui persis kalau baptisan 10 orang ini, total dengan pembaptisan yang dilakukannya terhadap 4 orang pada tanggal 9 Februari 1840. Namun dugaan kuat berbeda.
3] Kerja wajib atau Heerendienst atau kerja rodi di berbagai fasilitas umum dan kebun distrik harus dijalani tiap laki-laki berusia 18 tahun ke atas (tanpa batas usia) selama 36 hari, meski dalam praktek banyak yang bekerja lebih dari 90 hari. Mereka juga mesti melakukan pekerjaan negeri berupa pinontol dan sawang pada para Hukum yang bervariasi antara 50 sampai 60 hari di negeri kecil dan 70-90 hari di negeri besar. Residen Manado E.J.Jellesma kemudian merubah pada 30 Mei 1900 kebijakan kerja tanpa dibayar ini berlaku selama 32 hari untuk tiap laki-laki berumur 20 tahun sampai bebas umur 51 tahun.
4] Istri pertama Majoor Waworuntu adalah Tolang, putri Kepala Balak Tombariri Majoor Rengkung yang ketika masuk Kristen bernama Sara Rengkung. Istri kedua Maria Tenden dari Tondano. Waworuntu baru masuk Kristen tahun 1847 dibaptis Inspektur NZG Ds.L.J.van Rhijn bernama Herman Carl Wawo-Roentoe. Ia dibaptis van Rhijn setelah sebelumnya merasa enggan karena Waworuntu masih memiliki dua istri.


·         Sketsa dari Mededeelingen NZG 1861.
·         Sumber tulisan: Maandberigt van het NZG 1835-1843, Mededeelingen NZG 1868, Tijdschrift voor Nederlandsch Indie, 18 de jaargang, tweede deel, 1856, oleh Dr.W.R.van Hoevell. Tomohon Kotaku, 2006, dan naskah Tomohon Dulu dan Kini.



·