Minggu, 06 Oktober 2019

Orang-orang Kristen Pertama








Zendeling J.G.Schwarz.






Sebelum Tomohon ditetapkan sebagai pos penginjilan dari Nederlansch Zendeling Genootschap (NZG) tahun 1838, sudah ada satu-dua orang yang dibaptis Kristen Protestan. Entah oleh Zendeling Tondano Johan Friederich Riedel (melayani 14 Oktober 1831-12 Oktober 1860) atau Zendeling Langowan Johan Gotlieb Schwarz (12 Juni 1831-1 Februari 1859). Atau bahkan oleh Predikant Manado Gerrit Jan Hellendoorn (Januari 1826-18 Agustus 1839).

Riedel dan Schwarz dipastikan pernah menanamkan bibit Kristen di Tomohon. Riedel umpama diketahui seperti dari laporannya kepada NZG bertanggal 27 September 1836 menyebut menangani sekolah besar Tomohon.

Salah seorang wanita yang diduga menjadi Kristen di masa awal ini adalah Maria Posumah, istri Kepala Balak Tomohon Majoor Manoppo yang berkuasa di tahun 1809-1824. Zendeling Schwarz kuat dugaan yang telah membaptisnya, karena Schwarz mengenalnya dengan sangat baik, seperti dicatat Dr.W.R.Baron van Hoevell tahun 1856. Schwarz banyak melakukan pembaptisan di berbagai tempat di luar posnya Langowan.

Maria Posumah, nenek buyut dari Kepala Distrik Tomohon Majoor Roland Ngantung meninggal dalam usia yang sangat lanjut, 111 tahun. Dari para putri dan putranya turun keluarga-keluarga terkenal di Tomohon dengan fam Palar, Ngantung, Wenas, Wahani, Posumah, Anes dan lainnya.

Wanita lain yang diperkirakan menjadi Kristen awal Tomohon adalah putri bekas Kepala Balak Sarongsong Majoor Tamboto yang bernama alifuru Tumete Liwun. Ketika masuk Kristen memakai nama Maria Lontoh. Ia diperistri Hukum Kamasi Pangemanan Lontoh, anak dari Lontoh Tuunan bekas Kepala Balak Tomohon dan tokoh pejuang Perang Minahasa di Tondano tahun 1808-1809. Putri Maria Lontoh bernama Elisabeth Pangemanan Lontoh diperistri Lukas Wenas, kelak Kepala Distrik Tomohon. Sayang juga tidak diketahui zendeling yang telah membaptis Maria Lontoh.


Zendeling pertama Tomohon Pandita Johan Adam Mattern bekerja di Tomohon sejak awal Juli 1838 (menurut Jan Louwerier mulai Juni) hingga meninggal pada 7 Desember 1842.

Ketika Mattern tiba di Tomohon, NZG mencatat, kalau Tomohon adalah tempat dimana usaha pengkristenan paling sedikit dilakukan. Hanya ada satu sekolah tersisa dengan pengunjung tidak lebih dari 40 atau 50 murid.

Selama masa pelayanannya, NZG mencatat Mattern hanya membaptis 47 orang, terdiri 36 orang dewasa dan 11 anak-anak, serta mendirikan Jemaat (Gemeenten) Tomohon 1839, termasuk banyak sekolah yang ketika itu tersebar di Distrik-distrik Tomohon, Sarongsong, Kakaskasen dan Tombariri, kendati juga sepeninggalnya banyak yang ditutup dan dibuka ulang oleh Wilken. Mattern tidak sempat melaksanakan satu pun peneguhan anggota sidi atau pemberkatan perkawinan.

Pendirian Jemaat Tomohon tahun 1839 berdasar pengumuman NZG, ketika Mattern melaporkan melakukan pembaptisan pertama di Tomohon pada akhir bulan Desember 1839. Sebanyak enam orang dibaptis di gedung gereja pertama Tomohon yang telah dibangun sebelum rumah pribadi sekaligus percetakan selesai pada Agustus 1839.

Namun tidak ada data siapa saja yang telah dibaptisnya, karena buku baptisan bekas Gereja Besar Tomohon tidak ada. 

Tentang orang Kristen pertama ini, dicatat, bahwa mereka adalah enam orang murid piara yang telah tinggal bersama Mattern selama sekitar satu tahun. 

Dari laporan Mattern dan berita Louwerier, hanya dua dari 47 orang yang dibaptis yang diketahui pasti nama dan tanggal pembaptisannya. Sedangkan seorang lainnya hanya diketahui nama alifuru, serta fam dari ketiga anaknya 

WAJONG DAN WOHON
Bulan Januari 1840 Mattern mencatat memulai katekisasi dengan sepuluh orang muda, termasuk Guru Tomohon dan Sarongsong. Ia sangat berharap dengan jumlah ini akan membentuk anggota Jemaat Tomohon. Tetapi, anggota katekisasinya segera turun menjadi tujuh orang. Istrinya Johanna Jacoba Oudshoff membantu dengan usaha keras. Menurut Mattern, dari antara ketujuh orang itu, hanya tiga kweekeling (murid piara) yang bisa mengajar.

Semua murid piara yang dibaptisnya dipersiapkan untuk menjadi guru Sekolah Genootschap. Muncul permohonan dari beberapa Kepala Distrik untuk membuka sekolah di negeri-negeri mereka.

Tanggal 9 Februari 1840 Mattern membaptis empat orang. Mereka terdiri seorang pria muda dan wanita muda anak piara istrinya Jacoba, serta dua orang yang telah bersekolah.

Dua orang yang dibaptis diketahui pasti adalah Alexander Wajong dan Cornelis Wohon. Keduanya telah bekerja di percetakan NZG yang dipegang Mattern sejak awal kedatangannya di Tomohon, sebagai helper mencetak buku pelajaran dan agama dalam bahasa Melayu dengan gaji 4 gulden tiap bulan. 1]

Alexander Wajong kelahiran Tomohon 1818. Setelah dibaptis, ia ditempatkan Mattern sebagai guru Sekolah Genootschap Sarongsong pada 28 Februari 1840 hingga pensiun 8 Februari 1874 (meninggal tahun 1891).


Seperti Alexander Wajong, Cornelis Wohon, pertama kali ditempatkan sebagai guru Sekolah Genootschap Tataaran Tombulu (Tataaran Dua), ketika itu masuk Distrik Tomohon. Masa Pandita Nicolaas Philip Wilken, ia ditarik dari Tataaran, digantikan guru Samuel Elias. Ia ditempatkan sebagai guru Sekolah Genootschap Tomohon di Kamasi yang terbilang paling bermutu di Minahasa ketika itu. Dianggap gagal di Tataaran, ia justru sukses di Tomohon. Tahun 1862 Wilken mengangkatnya menjadi Penolong Injil (Hulpzendeling) Tomohon pertama, kemudian sebagai Inlandsch leeraar tahun 1879. Dan setelah hampir lima puluh tahun bekerja, ia meninggal dunia.

Salah seorang yang banyak dianggap sebagai murid Mattern pula adalah Samuel Elias. Namun, kemungkinan kuat Samuel Elias bukan dibaptis Mattern, tapi oleh Zendeling Amurang pertama Carl (Karl) Traugott Herrmann (Mei 1836-26 September 1851). Samuel Elias berasal Amurang kelahiran Pondang. Ia juga dicatat Louwerier memulai karir sebagai helper di percetakan NZG di bawah Mattern, tapi ketika masih berada di Manado, sejak 1 Juni 1836.

Sebelum Mattern pindah dengan percetakan di Tomohon pada bulan Juni 1838, Samuel Elias telah menjadi pekerja jemaat dan pemimpin Sekolah Genootschap Kakaskasen sejak tanggal 19 April 1838, dan menjabat hingga 31 Desember 1840. Karir guru Samuel Elias, berlanjut ketika Mattern memindahkannya jadi guru Sekolah Genootschap Woloan 4 Januari 1841 hingga 31 Desember 1843. Terakhir, oleh Wilken ditempatkan di Tataaran Tombulu mengganti Cornelis Wohon, memimpin Sekolah Genootschap selang 4 Januari 1844-5 Februari 1871. Samuel Elias berhasil mengantar sebagian besar penduduk Tataaran menjadi Kristen.

Murid piara lain dari Pandita Mattern tidak diketahui. Namun dapat dipastikan mereka ditempatkannya menjadi guru-guru di banyak sekolah yang berhasil didirikannya.

Tahun 1840 NZG melaporkan Mattern mengelola 56 sekolah dengan 3.837 anak murid, dimana 28 sekolah diantaranya didirikan olehnya. Tahun ini pula sekolah asuhannya meningkat menjadi 65 buah. Namun, terakhir dicatat ia sekedar menangani 14 sekolah dengan 770 murid. Penurunan terjadi karena serangan penyakit anak, serta kurang perdulinya para kepala, dan orang tua murid.

Selain Mattern, istrinya Jacoba memiliki beberapa murid wanita (anak piara). Kondisi anak piara terlantar ketika Jacoba meninggal pada 8 Oktober 1840.

Tahun 1840 itu pula, menurut NZG, Mattern membaptis delapan muridnya yang sebelumnya masih kafir serta dua orang dewasa lain. 2]

ISTRI WAWORUNTU
Tanggal 22 Maret 1841 Mattern melaporkan memberikan baptisan kepada sepuluh orang. Dari mereka empat orang diantaranya berasal dari satu keluarga Waworuntu asal Sarongsong. ‘’Istri ketiga dari Kepala Distrik Sarongsong dan tiga anak laki-lakinya,’’ catat Mattern.

Penerima baptisan lain adalah murid tua dari distrik yang telah membuat beberapa kemajuan di sekolah. Namun, mereka karena usia terpaksa harus keluar dari sekolah, karena terhitung usia wajib kerja. Mereka dituntut berpartisipasi dalam penanaman kopi dan padi. 3]

Istri ketiga dari Kepala Distrik Sarongsong Majoor Waworuntu bernama Tewi. Namun, tidak diketahui nama baptisnya, begitu pun nama ketiga anak laki-lakinya. Salah seorang putri Majoor Waworuntu dari Tewi dikenal bernama Sandrana Adriana Waworoentoe yang meninggal tahun 1918.  4]

Mattern masih menambahkan bahwa istri kepala Sarongsong ini kemudian menceraikannya setelah sadar kalau perkawinan seperti itu tidak mungkin dalam agama Kristen.

Mattern merasa senang dan melihat harapan untuk masa depan. Kecenderungan terhadap agama Kristen dilihatnya meningkat di Distrik Tomohon dan Sarongsong.

Tanggal 17 Oktober 1841 Mattern kembali membaptis delapan orang di Gereja Tomohon.

Menurut Mattern, jumlah pendengarnya terus meningkat, dan terus-menerus muncul orang yang berhasrat untuk dibaptis.

Namun, umur Mattern pendek, meninggal 7 Desember 1842.

Ketika Wilken penggantinya yang baru bekerja di Tanawangko 9 November 1842 tiba di Tomohon 1 Februari 1843 untuk menggantikannya, ia hanya menemukan lima atau enam orang Kristen dewasa, sebagian besar dari Tondano dan tempat lain.

Kebanyakan dari mereka yang dibaptis Mattern, lapor Wilken, telah pergi ke tempat lain. Wilken mencatat di hari-hari pertamanya hanya empat anak masuk sekolah (Sekolah Genootschap Tomohon) secara tetap. Sementara pengunjung kebaktian di gereja sebagai pendengar empat hingga delapan orang.***


---------
1] NZG mencatat tahun 1839 Mattern dibantu 3 asisten percetakan di Tomohon.
2] Tidak diketahui persis kalau baptisan 10 orang ini, total dengan pembaptisan yang dilakukannya terhadap 4 orang pada tanggal 9 Februari 1840. Namun dugaan kuat berbeda.
3] Kerja wajib atau Heerendienst atau kerja rodi di berbagai fasilitas umum dan kebun distrik harus dijalani tiap laki-laki berusia 18 tahun ke atas (tanpa batas usia) selama 36 hari, meski dalam praktek banyak yang bekerja lebih dari 90 hari. Mereka juga mesti melakukan pekerjaan negeri berupa pinontol dan sawang pada para Hukum yang bervariasi antara 50 sampai 60 hari di negeri kecil dan 70-90 hari di negeri besar. Residen Manado E.J.Jellesma kemudian merubah pada 30 Mei 1900 kebijakan kerja tanpa dibayar ini berlaku selama 32 hari untuk tiap laki-laki berumur 20 tahun sampai bebas umur 51 tahun.
4] Istri pertama Majoor Waworuntu adalah Tolang, putri Kepala Balak Tombariri Majoor Rengkung yang ketika masuk Kristen bernama Sara Rengkung. Istri kedua Maria Tenden dari Tondano. Waworuntu baru masuk Kristen tahun 1847 dibaptis Inspektur NZG Ds.L.J.van Rhijn bernama Herman Carl Wawo-Roentoe. Ia dibaptis van Rhijn setelah sebelumnya merasa enggan karena Waworuntu masih memiliki dua istri.


·         Sketsa dari Mededeelingen NZG 1861.
·         Sumber tulisan: Maandberigt van het NZG 1835-1843, Mededeelingen NZG 1868, Tijdschrift voor Nederlandsch Indie, 18 de jaargang, tweede deel, 1856, oleh Dr.W.R.van Hoevell. Tomohon Kotaku, 2006, dan naskah Tomohon Dulu dan Kini.



·     

Sabtu, 05 Oktober 2019

Taratara Bekas Negeri Tombariri








Taratara tahun 1904.






Taratara (atau ada menulis Tara-Tara) adalah salahsatu dari negeri tertua yang didirikan pemukim Tombulu di bekas Distrik Tombariri. Taratara baru memisahkan diri dari Tombariri tahun 1955, bergabung Tomohon. Sekarang empat kelurahan di Kecamatan Tomohon Barat Kota Tomohon.

Adalah para pionir dari Tulau, negeri lama Distrik Sarongsong, yang pertama menyinggahi dan kemudian membuka negeri ini. Garam menjadi kebutuhan pokok yang sangat berharga. Penduduk dari Sarongsong tidak ke pantai Manado seperti dilakukan kebanyakan orang Minahasa lain, tapi mengambil garam di pantai Tanawangko bahkan mencapai hingga Mandolang di Tateli milik Kakaskasen.

Jalur garam Sarongsong di pantai barat Minahasa, menempatkan Taratara sebagai lokasi strategis. Tempat persinggahan yang berkembang setelah mereka membangun terung (pondok) untuk bermalam, sambil mereka menambah penghasilan dari berburu.  1]

Karena hasil berburu lumayan, lebih dekat dengan tempat mengambil garam, dan terutama tanahnya subur untuk diolah, muncul keinginan mereka membangun negeri. Dengan izin Kepala Balak Tombariri yang menguasai kawasan tersebut, para pionir, keluarga-keluarga dari Sarongsong membuka Taratara sebagai satu negeri baru di Tombariri.

Seperti lazim di mana-mana negeri, para pionir memohon petunjuk Empung tempat yang bagus dan terberkati untuk kemajuan negeri. Di lokasi Timbesi (tempat tinggi) mereka menggelar fosonya. Pertandanya adalah lokasi di mana terung-terung telah didirikan. Maka, satu batu Tumani atau batu Tinalingaan um wanua diletakkan, sebagai pertanda resmi berdiri negeri Taratara. Pemukiman tumbuh dari lokasi ini.  2]

Negerinya diberi nama Taratara. Karena masa itu wilayah tersebut banyak ditumbuhi sejenis rumput yang berbunyi taza-taza atau tar-tar.  3]

Para penutur dan pencatat hikayat Taratara tempo dulu sepakat kejadian ini terjadi di tahun 1701. Meski ada berpendapat sudah terjadi jauh-jauh hari sebelumnya.

Tulong dan Kalangi dianggap pemimpin awal Taratara.  4]

Dotu Tulong sebagai pemimpin rombongan menjadi kepala negeri pertama. Sebagai Tonaas um Wanua. Ia pun bertindak sebagai walian (imam agama leluhur). Ia menganjurkan pembukaan areal perkebunan.

Tahun 1720-an dikisah ia diganti Kalangi yang memimpin perluasan pemukiman. Kalangi diganti oleh Tambingon, memerintah tahun 1738 hingga 1750.

Masa Tambingon, tercetus sengketa tanah dengan negeri tetangga. Taratara sering dilanggar musuh, dan penduduk diculik atau dibunuh. Untuk pertahanan, Tambingon memerintahkan penduduk membangun warangka, yakni lobang jebakan sedalam 3 meter yang diberi ranjau bambu runcing. Karena muslihat warangka ini, bahaya terhindar dengan korban jiwa besar di pihak lawan.

Sebagai monumen peristiwa kemenangan tersebut, ditancapkan batu Tinalingaan um Wanua. Batunya sebagai ikrar yang bermakna: ‘’Bila batu perjanjian hilang atau diambil penduduk negeri lain, maka, demikian pula akan terjadi pada penduduk Taratara. Mereka akan kehilangan kepala mereka.’’  5]

Tradisi menyebut Tambingon digantikan Sembel tahun 1750 yang dianggap membangkitkan kebudayaan seni pahat dan seni ukir seperti terlihat pada relief penutup batu waruga Taratara.

Lontoh menggantikan Sembel tahun 1789. Lontoh dipercaya sebagai peletak dasar batas Taratara saat ini. Batas-batas yang disepakati ketika itu, di utara wilayah Taratara mencapai lereng selatan Gunung Lokon. Di barat daerah sepanjang 5 kilometer mengikuti sipat dengan Ranotongkor sekarang. Di timur wilayah Katingolan Woloan dengan menyusuri sepanjang 400 meter sebelah lain sungai Ranowangko, memotong ke jurusan Bukit Irang dan naik ke lereng Gunung Lokon. Sedangkan batas di sebelah selatan mengikuti sipat dengan Pinaras dan Sawangan sekarang.

WILAR
Ketika Lontoh meninggal tahun 1808, dan penduduk Taratara belum sempat memilih pengganti, serdadu Belanda yang akan menyerbu Minawanua Tondano dalam perang Minahasa di Tondano 1808-1809 liwat di Taratara. Mereka membawa perahu Kora-kora serta perbekalan perang, termasuk meriam yang ditarik tawanan Mindanau (Mangindano) serta pemuda yang dipaksa atau ditangkap berasal negeri-negeri Tombariri yang dilewati.

Penduduk Taratara takut dipaksa menarik kora-kora. Mereka lari mengungsi di utara dan selatan Taratara, di lokasi bernama Gonggulang, tempat beristirahat juga sebagai persembunyian yang dibangun di kebun. Mereka telah mendengar kekejaman serdadu Belanda memaksa penduduk dan pemuda Lolah, negeri lain Tombariri yang berada di barat Taratara serta penentangan pemimpinnya Hukum Woi yang berakibat pemecatannya.

Maka, ketika serdadu Belanda memasuki Taratara, mereka tidak menemukan seorang pun. Hanya ada seorang bernama Wilar yang ditinggal penduduk sendirian, karena penyakitan. Wilar dijadikan penunjuk jalan. Pasalnya sebelum mengungsi penduduk telah mengaktifkan kembali jebakan-jebakan warangka serta memutuskan jembatan penghubung dari arah Lolah (di dekat Ranotongkor sekarang).

Karena jasa Wilar menunjukkan tempat-tempat berbahaya, ia diangkat sebagai Hukum (Tua) Taratara yang pertama. Administrasi kolonial Belanda dianggap bertolak darinya.

Berangsur-angsur penduduk Taratara yang mengungsi kembali, dan mengakui kepemimpinannya. Mereka mengindahkan perintah Belanda liwat Wilar untuk membangun kembali jembatan penghubung yang dirusak di lokasi Meras dan Ranowatu.

Jalanan yang diliwati kora-kora dan serdadu Belanda, konon, yang pertama membuka isolasi Minahasa di bagian barat. Ruas jalan rintisan tersebut sekarang menjadi jalan raya yang membentang dari Tanawangko sampai Tomohon.

Pengganti Wilar adalah Roring, disebut memerintah 1810-1815, lalu Kandow 1815-1840, Wati Roring 1840-1855 dan Hukum Tua Welan yang ketika menjadi Kristen bernama Daniel Wohon. Daniel Wohon adalah salah seorang Hukum Tua Taratara yang sangat disegani, karena memerintah dengan cakap sekali.  6]

Kebijakan kolonial Belanda berlaku dan diterapkan di Taratara. Penduduk sejak tahun 1819 diharuskan menanam kopi yang dikumpul di gudang kopi Tanawangko. Ketika panennya berlimpah, di Taratara dibangun sebuah gudang kopi yang masih berfungsi hingga akhir abad ke-19. Penduduk pun mengerjakan hereendienst (kerja wajib atau paksa atau rodi) membangun jalan dan jembatan. Antara lain membuka ruas jalan bekas kora-kora untuk angkutan gerobak yang membawa kopi dan beras hasil Taratara. Masa itu juga tanah-tanah kebun dan pemukiman dari tanah Kalakeran dipilah sebagai Pasini.

Seperti negeri lain di Distrik Tombariri, Taratara ikut memiliki bersama tanah Kalakeran Tombariri yang sekarang berada di stad Tanawangko, di Desa Borgo dan Sarani Matani. Juga tanah Kalakeran Tombariri di Manado. Bersama penduduk negeri Tombariri lain, mereka telah membangun di budel kalakeran tersebut, Pasar Sembilan Manado yang di masa kolonial tahun 1919 telah disewa Gemeente (pemerintah kota) Manado.  7]    

-------
1] Dihadis lokasi awal terung para pionir sudah berada di kawasan stad Taratara. Sekarang kompleks gereja GMIM Imanuel Taratara (perbatasan Taratara Satu dan Taratara Dua).
2] Batu Tumani terletak sekitar 40 meter dari utara gereja Imanuel. Di sini masih terdapat beberapa waruga. Satu waruga di antaranya tahun 1909 telah dibawa ke Negeri Belanda, jadi koleksi 's Rijks Etnographisch Museum di Leiden sejak awal 1910.
3] Zendeling Nicolaas Graafland berpendapat Taratara berasal dari jenis rumput ini. Tapi, ada lain anggapan taza-taza adalah jenis bunga yang tumbuh di rawa-rawa dan kolam, dengan sumber tempat yang menjadi asal tumbuhan subur ini adalah taza-taza di saluran Kemer yang mengalir di tengah Taratara.
4] Versi berkembang berikut menyebut Dotu Kalangi dan Tambingon. Versi lain menyatukan mereka. Tulong bersama Kalangi dan Tambingon.
5] Batu yang pernah dikeramatkan sebelum era Kristen ini berada di sekitar SD GMIM 1 Taratara. Konon batu ini ditancapkan oleh Walian Sumarandak Lelepouan, namun dalam versi pertama sebagai batu Tumani dikaitkan tempo pendirian negeri masa Tulong, ketika dalam acara foso para pionir bertanya tempat tersebut berjawab baik untuk ditinggali dan dijadikan sebuah negeri. Versi lain, berkait masa Tambingon, bahwa batu yang diletakkan tokoh walian sama Sumarandak Lelepouan adalah Watu Zi’zang um Wanua, atau batu penjaga dan pelindung negeri, yang antaranya bernama Poronglaka dan Manembo-nembo, dipasang mengelilingi negeri Taratara.
6] Disebut Daniel Wohon memerintah hingga tahun 1867. Namun dalam suratkabar Tjahaja Sijang terbitan Tanawangko No.11 tahun 1871 dicatatkan ia masih sebagai Hukum Tua Taratara, dan mengaku sebelum menjadi Kristen adalah seorang walian yang memimpin upacara-upacara foso di Taratara. Ia pun masih dicatat di tahun 1873. Dalam kisah tutur, ia dipercaya sempat merangkap memerintah Woloan, Ranotongkor, Lolah dan Lemoh. Mungkin sebagai Wakil Kepala Distrik Tombariri (Kumarua atau Hukum Kedua), karena di masanya yang menjadi Hukum Tua Lolah Joel Saul Tindangen 1853-1883, yang merangkap di Ranotongkor 1865-1885. Sedangkan di Woloan Perewis Rumondor lalu diganti Hukum Tua Fransiskus Kojongian. Distrik Kedua Tombariri di Taratara baru resmi terbentuk tahun 1880 dengan Hukum Kedua pertama Nataniel Bastiaan Andries.
7] Sampai masa Hukum Tua Pieter Tangkuman (memerintah 1953-1958, 1961-1978) meski Taratara telah bergabung dengan Tomohon (seperti Woloan), masih menuntut bagian dari penyewaan Kalakeran Tombariri berupa Pasar Sembilan di Manado, serta sewa fasilitas di tanah Kalakeran Tanawangko, termasuk hasil penyewaan bangunan pertokoan di Borgo.


·         Foto dari Berichten uit Nederlandsch Oost-Indie voor de leden van den Sint Claverbond 1905.
·         Sumber tulisan buku ‘Riwayatmu Tomohon’ 1986, buku ’Tomohon Kotaku’ 2006 dan naskah ‘Tomohon Dulu dan Kini’.