Senin, 09 September 2019

Tomohon Tahun 1821





Reinwadt di kawah Mahawu.




Bagaimana Tomohon di tahun 1821?

Prof.Dr.Caspar Georg Carl Reinwardt, Direktur Pertanian, Seni dan Pendidikan Hindia-Belanda, pendiri dan pemimpin pertama Kebun Raya Bogor menggambarkannya meski tidak mendetil.

Sore hari Rabu tanggal 17 Oktober 1821, Reinwardt dan rombongannya, antara lain pelukis Adrianus Johannes Bik dan adiknya Jannus Theodorus Bik, tiba dari Kakaskasen. 

Jalan yang dilewatinya melewati bukit, karena disebutnya naik dan turun lagi, dan kebanyakan ia melalui lahan pertanian atau tanah terlantar.

Tomohon dengan beberapa negeri lainnya berada di bawah Distrik Opziener Constans. Sang Opziener memberi Reinwardt dan rombongannya tempat bermalam di rumahnya, sebuah rumah berukuran besar milik Gubernemen (Gouvernement, pemerintah Hindia-Belanda).

Untuk menyambut tamu agung dari Batavia ini, Opziener Constans menyelenggarakan resepsi, seperti biasa dialami Reinwardt di tempat lain. Resepsi tersebut dihadiri oleh sejumlah besar Hukum atau Kepala, baik dari balak (disebutnya distrik) mau pun negeri.

Negeri Tomohon, menurutnya cukup besar, dihuni lebih dari 360 rumah tangga. Sebanyak lima sampai delapan rumah tangga tinggal dalam satu rumah.

Reinwardt kagum karena umumnya tanah di sekitar Tomohon sangat subur. Tanaman jagung tegak lebih tinggi dan lebih berat di beberapa tempat daripada di Eropa, terutama pertumbuhannya yang sangat subur.

Tanaman kopi telah mulai dibudidayakan pula, bahkan sejak tahun 1819. Ia memuji Opziener Constans, karena selama lebih 1,5 tahun, sang pengawas tersebut telah berhasil menanam 22.000 pohon kopi, setelah ia menerima perintah pembudidayaannya (koffijcultuur). 

Asisten Residen Manado J.F.Roos (menurutnya sebagai Residen) menerapkan kebijakan tanam paksa kopi kepada penduduk, setelah sukses melakukan hal sama ketika menjadi Residen di Banyuwangi.

‘’Semua yang saya lihat berdiri dalam keindahan luar biasa di tanah hitam subur, meski pohonnya tanpa ditanam siapa pun,’’ pujinya.

Selain kebun kopi ini, Reinwardt berjalan-jalan malam itu juga ke negeri kecil di dekatnya.

Tapi, ia merasa aneh, bahwa seseorang hampir tidak pernah melihat wanita di sini. ‘’Sudah menjadi kebiasaannya untuk pergi begitu orang Eropa muncul,’’ komentarnya.


TURUN DI KAWAH
Untuk tujuan riset ilmu tumbuh-tumbuhan dan mengumpulkan koleksi khas, Reinwardt melakukan pendakian Gunung Mahawu yang dicatatnya bernama Gunung Rumengan. Sebelumnya ketika berada di Kakaskasen, ia telah mendaki Gunung Lokon dan kawahnya.

Pendakian gunung api di timur laut Tomohon ini dilakukannya Kamis pagi tanggal 18. Ia diantar putra Opziener Constans.

Untuk pendakian tersebut, sebelumnya jalan ke puncak gunung telah dirapikan, dibuat rute dengan bagian tengah kayu yang dilintang, dan sebagian malah dilengkapi dengan tangga.

Menurutnya, kendati jalannya melalui lembah-lembah yang dalam dan curam, gunung tersebut masih lebih mudah didaki daripada Lokon. Di rute pertama, tanahnya masih subur, kemudian hutan, tapi di dekat puncaknya (meski menurutnya gunung ini sebenarnya tidak memiliki puncak) hanya ada glagah tinggi atau pohon rendah.

Kawasan di sekitar Mahawu kehilangan semua kayu besar, dan hanya ditutupi tanaman muda atau glagah. ‘’Semua sebagai akibat dari letusan terakhir yang terjadi selama sekitar tiga puluh dua tahun, dan menurut perkataan orang tua yang masih mengingatnya, sangat hebat.’’

Selain mencatat rinci tumbuh-tumbuhan yang ada di lokasi ini, Reinwardt memberanikan diri turun ke lubang kawah yang dalam, melalui celah di sisi timur laut yang agaknya telah dibuat untuknya. Ia berhasil turun setelah menggunakan ‘bangku’ berupa segitiga bambu yang diikat dengan rotan yang sangat panjang dan tebal yang dipegang oleh banyak orang.

Ia berada di kawah bersama putra Opziener dan beberapa orang lainnya yang diturunkan dengan cara sama.

Baru ketika ia berada di Tondano, ia mengetahui kalau gunung tersebut bernama Mahawu, sementara yang disebut Rumengan berada di utaranya, dan yang lain lagi Tetemboan (Masarang) di selatannya. Menurutnya, penduduk di bagian Tomohon, dan Kakaskasen justru menyebutnya Rumengan.

RUMAH CONSTANS
Dimana posisi negeri Tomohon serta rumah Opziener Constans di tahun 1821?

Cerita-cerita rakyat memastikan saat itu penduduk Tomohon masih terkonsentrasi di negeri tuanya (Nimawanua) yang sekarang berada di Kelurahan Kolongan Satu. Dari legendanya, Talete telah berada di bukit Limondok, bahkan di posisinya yang tidak berjauhan, mendekati pusat kota sekarang. Begitu pun Kamasi sudah sejak awal di lokasi saat ini, meski belum mendekati ruas jalan protokol. Termasuk Matani telah berdiri di lokasi Matani Tiga sekarang, setelah para pionirnya pindah dari Nimawanua di akhir abad ke-18.

Negeri-negeri lain distriknya baru berdiri di tahun 1830 (Pangolombian), Paslaten tahun 1840. Kolongan sendiri baru pindah ke lokasi yang sekarang masuk Kelurahan Kolongan setelah usai peristiwa gempa bumi dahsyat 8 Februari 1845.

Namun, pemukiman-pemukiman kecil dikisahkan telah ada di bagian Walian, dan juga Rurukan sebelum kejadian gempa bumi. Termasuk telah berdiri sebagai negeri dalam Distrik Tomohon ketika itu, meski berada di luar dari stad Tomohon sekarang adalah Tataaran Tombulu (sekarang Tataaran Dua Kecamatan Tondano Selatan) serta Kembes (sekarang Kecamatan Tombulu Minahasa).

Penulis dan anggota parlemen Belanda Dr.W.R.Baron van Hoevell tahun 1856 memberi gambaran jelas bahwa bekas negerinya dihancurkan setelah gempa bumi yang terjadi tahun 1845, dan dipindahkan ke lokasi sekarang yang berjarak sekitar 1 paal.

Distrik Tomohon masa silam (sampai tahun 1880 ketika Sarongsong, dan 1908 ketika Kakaskasen digabung, terakhir Woloan dan Taratara dari Tombariri) tidak seberapa besar.

Batas-batas distrik dari pusat kotanya digambarkan Nicolaas Graafland di beberapa tempat hanya dalam radius 2 paal (1 paal=1.507 meter).

Di barat, Nimawanua dan Kamasi berbatas dengan negeri Katinggolan (Woloan) dari Distrik Tombariri. Di selatan Nimawanua dan Matani berbatas wilayah Distrik Sarongsong, dan di utara Talete dan Kamasi berbatas negeri Kakaskasen di distrik senama. Kawasan luas Tomohon sekedar mencakup bagian timur yang berbatas Distrik Tondano (Touliang dan Toulimambot), Remboken serta Tonsea.

Batas-batas demikian pula yang berlaku di tahun 1821.

Masa itu, jalan dari Manado (masih lewat Lotta, ibukota Kakaskasen) telah ditandai dengan paal. Negeri Tomohon berada di paal 15, sekitar 1,5 paal dari Kakaskasen.

Negeri Kakaskasen di tahun 1821 masih berada di lokasi tua Nawanua (sekarang Kakaskasen Tiga). Gambaran jelasnya, luasan negerinya di masa itu sepanjang 1 paal, karena berada di antara paal 12 dan 13.

Catatan Baron van Hoevell, setelah berada di lokasi sekarang, letak negeri Tomohon dari Kakaskasen telah menjadi 2 paal.

Kalau pusat negeri Tomohon masa itu masih berada di Nimawanua menandakan kalau rumah Opziener Constans berada pula di lokasi negeri tua Nimawanua ini. 

Namun, bekas tanah Gubernemen Belanda di Nimawanua, dimana fasilitas pemerintah kolonial biasa didirikan tidak diketahui (sampai tahun 1980-an tanah-tanah di bekas negeri tua ini dimiliki penduduk asal Kamasi).

Rumah Kepala Balak Tomohon pasti masih berada di Nimawanua, kendati sulit dipastikan letaknya. Kepala Balak adalah Hukum Manopo Supit yang mengganti Lonto Tuunan. Masa peralihan kepada Majoor Mamengko, dengan Hukum Kedua Mangangantung (kelak bernama Ngantung Palar).

Justru tanah milik Gubernemen paling tua dicatat berada di bagian Kelurahan Paslaten Dua sekarang, di mana sejak tahun 1852 dibangunkan pasar Tomohon pertama.

Sebelumnya telah berdiri di sini gudang kopi dan rumah kepala gudang kopi (pakhuismeester), dimana hasil kopi dari seluruh Tomohon dibeli dan dikumpulkan.

Jalan yang diikuti Nicolaas Graafland tahun 1850-an merujuk ke jalan di bagian belakang gedung gereja ke arah selatan menuju pasar dan gudang kopi tersebut. Jalan tembus Talete di bagian utaranya ketika itu menjadi urat nadi perekonomian penting Tomohon bahkan kawasan Minahasa Timur, Tengah dan Selatan.

Di bagian Paslaten pula Zendeling pertama Tomohon Johan Adam Mattern telah membangun gedung gereja awal di tahun 1839, yang dibongkar tahun 1856 untuk pembangunan jalan ‘raya’ baru yang sekarang dikenal sebagai jalan protokol Tomohon. Di bagian Talete pula sebelum tahun 1845 pengganti Mattern Zendeling Nicolaas Philip Wilken telah membangun rumah tinggalnya. Juga pusat pemerintahan Tomohon telah berpindah ketika Mangangantung menjadi Kepala Distrik, ia membangun rumah tinggal di bagian Paslaten.

Maka, tidak menutup kemungkinan, kalau rumah milik Gubernemen yang ditempati Opziener Constans ketika itu berada di lokasi gudang kopi dan pasar ini. Tahun 1879 lokasinya telah dipakai untuk Sekolah Gubernemen yang awal abad ke-20 menjadi Sekolah Kelas Dua Nomor 1 milik Gubernemen (Tweede Inlandsche School Gouvernement No.1). 1]

Tanah yang disebut pula sebagai milik Gubernemen di masa lalu, berada di areal sekarang berdiri gereja Sion, masih di Paslaten. Pendeta Nicolaas Philip Wilken dalam laporannya kepada NZG tahun 1858, mencatat kalau gereja tersebut awalnya dimaksudkan untuk rumah gubernemen (Gouvernementshuizen). Tapi, ketika hampir siap, Residen (A.J.F.Jansen) merubah tujuannya, untuk dijadikan tempat ibadah.

Bangunan gubernemen di masa Belanda lumrahnya berdiri di tanah yang diklaim pemerintah kolonial sebagai milik pemerintah, entah karena dibeli, diklaim begitu saja atau dihibahkan pemerintah distrik setempat.
                                     

Lokasi lain adalah tanah dimana terletak bangunan pasanggrahan pemerintah yang berada di Kolongan. Bekas pasanggrahan ini dibeli Katolik bulan Agustus 1906 untuk Meisjesschool Katolik.

Opziener J.L.Constans, pejabat yang ditemui Reinwardt, di tahun 1825 pindah menjadi Opziener Tondano, dan pensiun Januari 1827 sebagai Opziener Koffijcultuur di Manado. Sejak itu pula pengawasan Balak Tomohon dilakukan Opziener yang berkedudukan di Tondano. 2]


Putranya yang menyertai Reinwardt turun di kawah Mahawu adalah Johan Engelbertus Contans. Tahun 1831 menjadi Opziener Belang, lalu Opziener Kema hingga Mei 1843. Dua putri lain dari Opziener Contans dikawini dua pelopor pekabaran injil Minahasa. Femmetje Constans dikawini Zendeling Langowan Johann Gottlieb Schwarz, dan Clasina Clarissa Constans dikawini Zendeling Amurang Carl Traugott Herrmann. ***

-----

1].Tahun 1950 berubah nama menjadi SR (lalu SD) Negeri I Tomohon. Masa Permesta ditutup setelah gedungnya terbakar. Tanahnya ditukarkan kepada GMIM yang membuka SD GMIM IV Tomohon. Dari bekas sekolah gubernemen Belanda, tersisa SDN II Tomohon di Matani Tiga, bekas Tweede Inlandsche School Gouvernement No.2.
2].Sebutan Opziener atau penilik atau pengawas menjadi Kontrolir sejak tahun 1853. P.P.Roorda van Eysinga dalam bukunya Handboek der Land-en Volkenkunde van Nederlansche Indie tahun 1841 mencatat kalau Opziener pemerintah masih ada di Tomohon seperti halnya Tondano. Istilah Opziener masih dilestarikan di masa berikut sebagai penilik atau pengawas perkebunan yang digaji pemerintah dan banyak dijabat kalangan pribumi.


·         Sketsa:koleksi Digitalisierte Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin (SSB).
·         Sumber tulisan: Reis naar het Oostelijk gedeelte van den Indischen Archipel in het jaar 1821, oleh F.Muller, 1858. Tijdschrift voor Nederlandsch Indie, 1856 oleh Dr.W.R.van Hoevell. De Minahasa oleh N.Graafland, 1867; dan naskah ‘‘Tomohon Dulu dan Kini’’.

Sabtu, 07 September 2019

Alexander Wajong, Guru Tua Sarongsong



Pusara Alexander Wajong dan istri.




Para guru awal di Tomohon sangat berjasa, karena menjadi tonggak kemajuan yang dicapai Tomohon sekarang ini. Bukan sekedar menjadi perintis pendidikan ketika penduduknya semua masih buta huruf, tapi juga menjadi tokoh-tokoh agama yang berhasil menggerakkan hati bukan hanya para murid tapi juga orang tua, bahkan kalangan masyarakat lain untuk meninggalkan agama tradisional dan menjadi Kristen.

Salah seorang diantaranya yang dianggap sebagai perintis pendidikan dan agama Kristen di Sarongsong adalah Alexander Wajong.

Ia lahir tahun 1818 di Tomohon, sebagai putera dari Wajongkere. 

Ketika Zendeling pertama Tomohon Johan Adam Mattern menetap di Tomohon bulan Juli 1838, Alexander Wajong bekerja sebagai pembantu di percetakan NZG yang dibawa dan dipercayakan penanganannya kepada Mattern. Percetakan tersebut mencetak buku-buku pelajaran dan agama dalam bahasa Melayu (kelak dipakai Zendeling Nicolaas Graafland mencetak koran Tjahaja Sijang di Tanawangko). 

Sebagai tukang cetak, ia memperoleh uang saku sebesar 4 gulden tiap bulannya. Jumlah yang tidak sedikit ketika itu.


Tapi, bukan hanya kepentingan duniawi yang mempengaruhinya. Ia terdorong oleh Mattern dan menjadi muridnya, sangat giat mengikuti pendidikan agama. Bersama dengan Cornelis Wohon, ia termasuk yang terbaik, paling setia, dan paling rajin dari antara murid Mattern. 1]

Tanggal 9 Februari 1840, bersama Cornelis Wohon, ia dibaptis Adam Mattern di gereja Tomohon menjadi Kristen.

Hanya beberapa hari setelah pembaptisannya, Sekolah Genootschap Sarongsong membutuhkan pemimpin. Dan, Mattern tidak ragu untuk menunjuk anak muda ini.

Tanggal 28 Februari 1840, Alexander Wajong resmi menjadi guru (meester atau onderwijzer) sekaligus sebagai Guru Jemaat (voorganger). Ia tanpa henti bekerja dalam kedua jabatan itu selama 37 tahun, hingga dipensiun tanggal 8 Februari 1874.

Hasilnya membuktikan bahwa Mattern tidak melakukan kesalahan ketika menunjuknya. Ia dipuji sebagai pekerja yang layak, selalu setia dalam jabatannya, bekerja tanpa lelah untuk kebaikan banyak orang.

Menurut Hulpprediker Tomohon Jan Louwerier, Alexander Wajong berkotbah sederhana, tetapi ceria dan dibuktikan dengan teladannya.

Jemaat di Sarongsong menjadi antusias dengan kerjanya, dan kemajuan yang dicapai, adalah kesaksian semangatnya itu. Gedung gereja yang indah setiap hari Minggu penuh dengan pendengar yang penuh perhatian. Kerjanya mengantar pada kehancuran paganisme di Sarongsong.

Selama pengabdiannya di Sarongsong, ia berhasil membawa banyak orang Sarongsong menjadi Kristen. Dibaptis, sidi dan dikawinkan oleh Zendeling Nicolaas Philip Wilken, pengganti Adam Mattern.

Louwerier mencatat orang Sarongsong yang berhasil dibaptis melalui pekerjaan Alexander Wajong total sebanyak 1.453 orang. Orang dewasa terdiri 265 pria, 373 wanita dan 815 anak-anak. Yang menjadi anggota sidi 215 orang, pria sebanyak 71 dan 144 wanita. Sementara yang dikawinkan 303 pasangan.

Murid-murid yang ditanganinya saban tahun, rata-rata di atas 100 orang. Semisal tahun 1854 jumlah muridnya 128 anak. Tahun 1857 163. Tahun 1859 154. Tahun 1861 142. Tahun 1869 140. Tahun 1870 115.  Tahun 1871 103. Tahun 1872  90 anak. Tahun 1873 95 dan di masa pensiunnya awal 1874 107 siswa.                                                  

Alexander Wajong dipuji Louwerier selalu rapi dan lembut. Sebagai memiliki bakat khusus untuk berurusan dengan anak-anak. Hingga hari-hari terakhir aktivitasnya sebagai guru ia selalu senang bersama anak-anak kecil.

Meski sumber daya pendidikan kurang (sekolah menumpang di gereja), ia terus bekerja dengan sarana seadanya. Dan bukan tanpa hasil. Kontrolir Tondano Jhr.F.G.Boreel yang menginspeksi sekolah Sarongsong berulangkali menghabiskan beberapa jam dan selalu menyatakan kepuasannya dengan kemajuan siswanya.

Para muridnya terbilang banyak yang berhasil. Delapan orang diantaranya menjadi Hukum Tua, dua orang menjadi Assistant de Kultures, tiga orang menjadi penulis (schrijver) di kantor Kontrolir dan kantor Distrik, dan satu orang menjadi Opziener di Banyuwangi. Semuanya adalah posisi-posisi yang terbilang sangat tinggi dan bergengsi ketika itu. Penggantinya Seth Lantang yang sebelumnya menjadi guru di Tataaran adalah muridnya pula. 

KELUARGA
Alexander Wajong kawin tahun 1847 dengan putri Kepala Distrik Sarongsong Majoor Herman Carl Wawo-Roentoe yang bernama Kekewulan yang setelah masuk Kristen bernama Maria Magdalena Waworoentoe. Istrinya kelahiran tahun 1820.

Masuk Kristennya Majoor Herman Carl (dibaptis Inspektur NZG Ds.L.J.van Rhijn di gereja Tomohon 11 April 1847) banyak dipengaruhi pekerjaan injil dari guru Alexander Wajong.

Ia mempunyai 3 anak. Yang tertua Pietersina diperistri J.Mandagi Hukum Tua Koror (bekas negeri di Distrik Sarongsong). Salah seorang cucunya adalah Paul Lodewijk Mandagi, Inlandsch leeraar lulus dari STOVIL, dan menjadi guru STOVIL. Cucu lain Maria Mandagi diperistri Soleman Rotti, sejak 1881 kepala Sekolah Genootschap Sarongsong.

Putri lain Alexander Wajong adalah Wendelin. Sementara putra satu-satunya Herrit Carl Wajong. 

Putranya ini adalah salah satu muridnya yang memulai karir sebagai assistant kultures di Sonder tahun 1879. Herrit kemudian naik menjadi Hukum Kedua Distrik Tomohon-Sarongsong berkedududukan di Sarongsong 1889, Jaksa Landraad Manado 1890, Hukum Kedua Maumbi di Kokoleh Likupang dan Hukum Kedua Manado. Ia empat kali kawin. Salah seorang istrinya adalah Leentje Paulina Dotulong, anak Majoor Tololiu Dotulong dari Sonder.

Cucu Alexander Wajong dari Herrit adalah Alexander Exaverius Dotulong Wajong, seorang yang memperoleh gelar insinyur praktek. Cucunya ini dikenal sebagai teekenaar (juru gambar) dari sejumlah gereja di Minahasa, antaranya bangunan gereja GMIM Sion sekarang.


Alexander Wajong berusia cukup panjang. Ia baru wafat tahun 1891. Dikuburkan bersama istrinya yang mendahului meninggal 1858, di pekuburan keluarga Waworuntu di Tumatangtang. ***

-------
1]. Cornelis Wohon pertama ditempatkan sebagai guru Genootschapschool Tataaran, lalu guru Sekolah Genootschap Tomohon. Kemudian diangkat menjadi Huplzendeling (Penulong) membantu Zendeling N.Ph.Wilken. Terakhir sebelum meninggal menangani Jemaat Kristen di Rurukan dan Kumelembuai. Cornelis Wohon mengawini Elisabeth Wenas, putri Kepala Distrik Tomohon Lukas Wenas. Salah seorang keturunannya adalah Jefferson Rumajar, mantan Walikota Tomohon.

·         Foto: Didi Defdi Sigar.
·         Sumber tulisan: Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap Mei 1874, naskah ‘Tomohon Dulu dan Kini’ dan ‘Ensiklopedia Tou Manado’.

Selasa, 03 September 2019

Nona Bertha dan Epidemi Kolera




Kubur Nona Bertha di Talete.






Dekat dengan makam penginjil besar Tomohon Pendeta Nicolaas Philip Wilken, di lokasi pekuburan umum Kelurahan Talete, terdapat sebuah kubur sederhana dari nona ini. Masih terbaca tulisan di nisannya meski sudah sangat usang, Gysbertha C.Krook, lahir 30 November 1850, meninggal 16 Maret 1886.

Nona ini baru berusia 26 tahun ketika meninggal. Gara-gara kolera yang mewabah di seluruh Minahasa.

Nona Bertha, panggilannya, bukan sembarang nona. Karena dia adalah direktris pertama dari Meisjesschool atau Sekolah Nona. Sekolah yang mencatatkan sejarah, sebagai sekolah pertama untuk jenis demikian di seluruh Indonesia (masih Hindia-Belanda).

Sekolah ini dibuka dengan sangat meriah di Tomohon tanggal 1 November 1881.

Bangunan sekolah dan asrama masih memanfaatkan bekas rumah Pendeta Wilken di Talete serta bekas gedung Sekolah Penolong Injil. Murid pertamanya hanya 15 putri, berasal dari berbagai tempat di Minahasa. Mereka adalah putri para kepala. Mereka akan menerima pendidikan Eropa, sementara lainnya sekedar sebagai pengunjung sekolah.

Sekolah yang ditangani satu lembaga khusus dari NZG di Rotterdam Belanda ini bertujuan menjadikan para nona calon ibu rumah tangga yang layak. Sebagai perempuan terpelajar, sehingga tidak kalah dengan laki-laki. Masa itu, ada kesenjangan di antara mereka. Dengan pendidikan, laki-laki dan perempuan diharapkan akan saling memahami dan menghargai. Menurut Louwerier dan Jan Nannes Wiersma Hulpprediker Ratahan, itu satu-satunya cara menuju kebahagiaan pernikahan sejati dan kehidupan rumah tangga.

Karena muridnya putri para kepala dan tinggal berasrama, sekolahnya bernama De Meisjes-, kost-en dagschool atau Kost-en Dagschool voor Dochters van Hoofden en Aaanzienlijken in de Minahasa.

Salah satu murid awal adalah Raumanen Wenas, putri dari Kepala Distrik Tomohon Majoor Herman Wenas. Namun, gadis berusia 15 tahun ini meninggal 1 Januari 1885.

Nona Bertha yang bernama lengkap Gijsbertha (Gysbertha) Catharina Krook lahir di ‘s Gravenhage Belanda. Sebelumnya sebagai guru Normaalschool di Zetten. Ketika masih banyak kekhawatiran dengan kondisi di Minahasa, ia dengan suka cita mengajukan diri menerima pekerjaan tersebut. Ia tiba di Manado pertengahan September 1881 bersama Nona W.C.de Ligt yang ditunjuk menjadi guru mendampinginya. Beberapa hari kemudian mereka sampai di Tomohon, sebelum pembukaan sekolah. Keduanya segera mempelajari bahasa Melayu.

Pengaruhnya terhadap para murid sangat bagus. Ia dicintai mereka yang selalu menghadiahinya bunga yang digemarinya. Louwerier selalu melihatnya dikerumuni di waktu senggang

Metode pendidikan yang diajarkannya di Sekolah Nona dipuji sangat baik. 

Pujian tertinggi untuk pendidikan di sekolah ini disampaikan Inspektur Pendidikan di Wilayah Tiga Meyl yang berkunjung bulan September 1885. Kemudian pula pujian dari Ds.Wieland (Predikant Manado Petrus Thomas Wieland) yang membezuk sekolah 3 November 1885. Wieland memiliki kesan baik dan menyenangkan melihat hasil dan pekerjaan bagus dari Nona Bertha dan rekan gurunya Nona de Ligt. 

Nicolaas Graafland, bekas Direktur Kweekschool Tanawangko dan menjabat Ajun Inspektur Pendidikan Wilayah Lima yang melihat bersama Louwerier gaya pembelajaran Nona Bertha sangat kagum, karena sangat jelas dan mudah dipahami.

Nona Bertha dianggap menjadi berkah bagi banyak gadis di Minahasa selama hampir lima tahun memimpin sekolah tersebut. Masa depan kaum wanita Minahasa sangat menjanjikan.

Namun, wabah kolera telah mengakhiri pekerjaannya.

Penilik sekolah, Hulpprediker Tomohon Jan Louwerier, yang telah mencita-citakan sekolah ini sejak Oktober 1876 mengaku wabah tersebut tidak dicurigainya terjadi di Tomohon. Kendati sejak beberapa bulan sebelumnya, epideminya telah melanda Tondano.

Louwerier tidak bercuriga, ketika dalam satu malam di bulan November 1885, di salah satu wijk (kampung) di Tomohon sebanyak 97 orang terkena penyakit perut. Ia tidak melihat ada kasus kolera, karena obat-obatan yang dikirimnya, memulihkan mereka semua.

Tomohon tetap aman, ketika di tempat lain kematian banyak dilaporkan.

Namun, tanggal 2 Maret 1886 Kepala Kampung (Hukum Tua) Talete meninggal. Padahal, sang kepala tetap beraktivitas biasa, hadir dalam pertemuan yang dipimpin Louwerier. Bahkan pada Minggu 28 Februari ia masih menunggang kuda di kebun kopi. Tapi, pada jam 2 malam ia meninggal. Jam 5 sore tanggal  5 Maret ia dikuburkan dengan penghormatan Kabasaran.

Sejak hari itu, ada kematian setiap hari. Kematian akibat penyakit ini hanya butuh beberapa jam.

Tapi, Louwerier belum berani memastikan bahwa kolera terjadi di Tomohon.

Tanggal 9 Maret jam setengah dua pagi, ia dipanggil menemui janda dari Efraim Lasut, Guru Genootschapschool Tomohon yang telah meninggal pada Oktober 1884. Nyora guru ini adalah saudara dari kepala tadi. Memiliki 8 anak, yang termuda berusia 5 tahun. Ia meninggal sore harinya. Louwerier mengambil salahsatu dari anaknya, sementara Nona Bertha mengambil tiga anak untuk dididik.

Kini Louwerier tidak meragukan kasus sporadis itu disebabkan kolera. Ia bertindak cepat, mengambil tindakan pencegahan, memberi tahu orangtua murid Sekolah Nona yang segera menjemput putri mereka. Tidak ada di antara murid Nona Bertha yang sakit.

Minggu 14 Maret Nona Bertha masih menghadiri kebaktian di gereja yang dipimpin Pendeta Louwerier.

Senin pagi 15 Maret Nona Bertha beraktivitas biasa pula. Jam satu ia masih melihat api di dekat sekolah. Sore jam enam, ia menemani percakapan bersama Louwerier dan Kruijt (Zendeling Hendrik Cornelis Kruijt, Direktur Kweekschool voor Inlandsche onderwijzers di Tanawangko, kelak bertugas di Deli).

Di malam hari jam 7, ia membicarakan bersama Nona de Ligt surat yang diterimanya dari awal Januari. Ketika Nona Bertha pergi tidur, ia mengambil pekerjaan tangan, yakni gaun untuk Nyonya van de Liefde (istri Hulpprediker Amurang Cornelis Johannes van de Liefde), yang telah dikerjakannya selama beberapa waktu.

Nona Bertha selalu berkata adalah memalukan untuk tidur lebih awal. Lebih dari sekali Louwerier harus menegurnya karena tidak cukup beristirahat.

Dari pengakuan Nona Bertha kepada Nona de Ligt, dia merasa sakit selama tiga jam, tapi tidak memanggil siapa pun. Ia datang ke kamar Nona de Ligt untuk membangunkannya, tapi memintanya tidak memberitahu Louwerier, karena menurutnya terlalu dini.

Ternyata sebelum memanggil Nona de Ligt, ia menulis surat kepada ibunya di Belanda. Louwerier kemudian menemukannya. Agaknya Nona Bertha sudah merasakan akhirnya. Tapi di surat itu ia juga berbicara dengan pasti harapan penuh kebahagian yang memenuhi dirinya.

Meski pun Nona Bertha melarang, Louwerier langsung dipanggil, dan Louwerier segera merasakan ketakutan akan hal terburuk. 

Awalnya Nona Bertha sedikit gugup, namun segera tenang seperti sifatnya. Nona de Ligt merawatnya dengan telaten. Kruijt ikut menjaga si sakit. Begitu pun istri Louwerier yang anak laki-lakinya sedang sakit.

Jam 8 pagi, ia meminta Louwerier berdoa bersama, dan Nona Bertha tampak lebih tenang. Namun, tiba-tiba keluar keluhan kecilnya mengingati ibu tercintanya. Setelah berdoa lagi, Louwerier bertanya kalau ingin mendengar mereka bernyanyi, yang diangguknya. Louwerier dan Kruijt menyanyi bersama.

Ketika rasa sakitnya meningkat, Nona Bertha berusaha menahan keluhannya. Ia bersikeras agar mereka harus makan. Louwerier yang beranjak terakhir. Namun, belum tiba di rumahnya, ia dipanggil. Nona Bertha tidak sadar berkali. Ketika sadar terakhir kali, ia mengenali beberapa orang yang datang menemuinya.

Sekitar setengah tiga tanggal 16 Maret, ia meninggal dengan tenang. 

Sore hari tanggal 17 Maret Nona Bertha dimakamkan di dekat makam Pendeta Wilken dengan diantar banyak pelayat, antaranya para muridnya. Hulpprediker Sonder Johann Albert Traugott Schwarz memimpin ibadah penguburannya. 

Nona de Ligt (kelak kawin dengan Kruijt) ditunjuk menggantikannya sebagai Direktris.***

                  -----
Foto: Defdy Didi Sigar.
Sumber tulisan: Maandberigt  van het Nederlandsche Zendelinggenootschap No.7 tahun 1886 dan Januari 1890.