Selasa, 13 Agustus 2019

Masih Legenda Rurukan




Terung tempo dulu.






Pendeta Nicolaas Philip Wilken (10 Mei 1813-22 Februari 1878), adalah zendeling kedua Tomohon, sangat berjasa dalam mengkristenkan penduduk Tomohon. Ia bekerja sejak 1 Februari 1843 hingga meninggal, dan dikuburkan di Talete Tomohon.

Pandita Wilken, orang masa itu memanggilnya, berhasil menghancurkan paganisme di Tomohon, Kakaskasen serta Sarongsong. Bahkan karyanya menjangkau sampai di Tombariri hingga Sonder.

Tidak itu saja, jasa-jasanya adalah meninggalkan banyak catatan berkaitan budaya lama orang Tomohon, bahasa, legenda, cerita binatang dan banyak lagi.

Legenda Rurukan umpama, telah ditulis Pandita Wilken di Mededeelingen NZG yang terbit tahun 1863. Artinya, kisahnya sangat tua dibandingkan dengan versi cerita yang telah ditulis oleh Pendeta Jan Bodde tahun 1883.


Pandita Wilken adalah tokoh yang telah membaptis penduduknya, baik di gereja Tomohon mau pun di Rurukan, ketika ia membentuk Jemaat dan sekolah Rurukan pertama tahun 1854.


Tulisannya dalam versi Belanda terbit dalam Bijdragen tot de kennis van de zeden en gewoonten Alfoeren in de Minahassa. Sementara versi bahasa Tombulu diterbitkan khusus oleh Direksi NZG di Rotterdam tahun 1866 dengan judul Bijdragen tot de kennis der Alfoersche taal in de Minahasa, di bawah redaksi Dr.George Karel Niemann, kelak guru besar di Universitas Amsterdam.

Selain Wilken dan Pendeta Jan Bodde, Zendeling dan Direktur Kweekschool di Tanawangko Nicolaas Graafland ikut menulis legenda Rurukan dengan tokoh Makalew tahun 1881. 

Berikut versi Tombulu Wilken dari legenda Rurukan.



    Naasareng kura ung kinatuurran u mahatilalĕm


Tempo un tarem makasa woan tumalun si Makalew kariya ni atana wo ne pahayoanna walina. An sera lumeos un tĕrung witi uner un talun witun tembir un dano.

Woan siyang kumua si Makalew wiya se pahayoanna, kuanna: ‘’kamu peleng mamĕnero tikohonta, taan si ata mentomo kariyaku wiyan tĕrung wo mahalutu ung kanta.’’

Woono pira na wengi sera witu talun, woan siyan towoan ni Makalew si atana, kuanna: ‘’rinĕmuannumo um pahalĕmaangku wo um pahasĕraangku.’’

Mingkot si atana, kuanna: ‘’katautauannu aku tentumo ung kaure i maopo nikou, kawissamo wo aku rimĕmu sana sembeng witu lĕlĕmaannu kappa witu sompoimu wo witum pahasĕraannu?’’

Taan si Makalew soo ikarei, pahapaan mairangngo lengeyĕn ni atana.

Niitu kumua si Makalew, kuanna: ‘’kita tumilalĕm, taan u rurukan uman ung katilalĕmmu; sa itu ilembomu, nijaku si towo, taan sa kou ilembo u rurukan, engkou-n ulit rimĕmu witu lĕmaĕngku wo witun sĕrangku.’’

Kumua si atana, kuanna: ‘’wissa uman un ikapaarmu wen akum bitu.’’

Niyana sera lumako witi rano woan tumilalĕm si ata wo u rurukan; taan kaitilalĕmnera woan siya milek si songai tuana si Makalew, woan witu sawuttĕnna u rurukan im bitun dano ipahatuturana si songkai itii; taan ilekkĕnna sumaup em batu tuana, reikan songkai.

Niitu nimeikan ilembo ni atana si Makalew.

Kumua kasii si Makalew, kuanna: ‘’isaup! Pahapaan kuangku ya songkai ulit si niilekku, woan nitu sawuttĕngku u rurukan.’’

Kumua si atana, kuanna: ‘’wissa uman un ikapaarmu wen akum bitu.’’

Kumua si Makalew, kuanna: ‘’um bawangko uman un aeku ung katilalĕmmu.’’

Kumua si atana, kuanna: ‘’leos.’’

Woan nitun itonton ni Makalew witun dano um bawangko un aena, woan siyam munteppa  si atana; reikan ure woan nitung kupittĕnna ni kayong um bawangko ni Makalew woan nitum biwittĕnna un aena.

Niitu nimeikakan ilembo kasii ni atana si Makalew.

Niyana an siyang kumua si Makalew wiya si atana, kuanna: takar inaniya wo mange tiya tumowotowo wiya si kasuat tou, wen ituru uman ni ĕmpung si towo; niitu sa kou towoan ni kasuat tou takar inaniya, wo rei si sahiri: lumako mahatilĕm, weng karengan ituru uman ni ĕmpung si towo. Niyana nimatuurrei tempo itu se tou i mĕnilalĕm takar inaniya.

Ya pahapaan un dano itii im pinahatilalĕmman ni ata wo u rurukan, niyana nginarannannokan i sosoan u Rurukan; ya pahapaan um banua lineos witun tembir un dano itii, nijana itu nginarannan i Rurukan. ***


   ---------
    * sketsa dari Mededeelingen NZG 1883.

Senin, 12 Agustus 2019

Tamu-tamu Linow



Danau Linow tahun 1894.




Danau Linow di Kelurahan Lahendong adalah destinasi wisata andal dari Kota Tomohon. Danau seluas 1 Km2 (data lain 35 hektar), dengan titik terpanjang 860 meter dan terlebar diperkirakan 565 meter ini, adalah bekas sebuah kepundan gunung berapi yang telah meletus ribuan tahun silam.

Buktinya pula adalah kawah-kawah di kelilingnya, dengan luas keseluruhan di Lahendong 20 hektar. Belum yang berada di kepolisian Kelurahan Tondangow di dekatnya. Untung, tenaga panas buminya dengan radius mencapai hingga Kasuratan dan Tampusu telah dimanfaatkan untuk sistem pembangkit tenaga listrik.

Danau Linow mempesona karena memiliki keunikan khas yang tiada duanya. Warna airnya yang serba aneka karena aksi vulkanik. Ada tiga warna, yakni putih, biru dan kemerahan (lazuardi), seperti pendapat ahli. Namun, penduduk di Lahendong dan Tondangow, mempercayai warna airnya mencapai sampai 12 jenis.

Kemudian yang hanya ada di danau ini pula adalah jenis ikan air tawar yang tidak akan dijumpai di danau lain. Ikan komo dan sayok. Komo dulu dipanen penduduk Lahendong dan Tondangow empat kali dalam setahun. Sangat enak digoreng perkedel atau di woku. Ikan khas ini nanti bermetamorfosa menjadi capung. Sayok sendiri terdiri dua rupa, sayok potot (karena pendek) dan sayok lambot (panjang).

Selain dua jenis ikan ini, ada pula ikan-ikan khas lumolintik, sombor dan limunes yang sampai tahun 1980-an masih biasa dijala penduduk Tondangow.

Danau Linow pun menjadi habitat dari itik danau, burung belibis dan bangau putih. Pemandangan yang diamati dan dilihat oleh Dr.W.R Baron van Hoevell di tahun 1855.

Selain itu, ada ikan kabos (gabus), yang asal muasalnya di danau dikaitkan dengan legenda danaunya. Konon, danau tersebut mendapatkan namanya dari wanita cantik bernama Makalinow atau disebut pula Kalinowan, istri dari Dotu Telew, yang dalam cerita-cerita rakyat setempat dianggap penguasa Danau Linow.

Makalinow telah hilang di danau, dan menjelma menjadi ikan kabos yang apabila menampakkan diri, konon, dengan panjang dari ujung ke ujung danau. Usai penampakannya, akan muncul hama tikus, kemudian penduduk akan mendapat panen kabos berlimpah.

Hilangnya Makalinow di danau dikaitkan pula dengan ulah Dotu Telew yang suka menimbulkan angin puting-beliung, sehingga menakutkan Makalinow, menyesatkannya dan kemudian tenggelam.

Memang, danau yang uniknya memiliki suhu air normal ini, kadang-kadang memunculkan angin memusing. Dan, itu dikisah karena sang Telew lagi marah besar. 

Zendeling Nicolaas Graafland memberi versi lain, bahwa nama Danau Linow berasal dari kata leno yang berarti jernih atau terang, sesuai dengan kondisinya.

TEMPO DULU
Sampai sekarang Lahendong dengan Danau Linow serta kawah-kawah belerengnya telah menarik banyak pengunjung. Bekas Kaisar Jepang Akihito ketika masih sebagai putera mahkota pernah berkunjung di sini.

Ketika itu, Pemerintah Kabupaten Minahasa, saat Tomohon masih salah satu kecamatannya, sempat berencana membangun resor mandi uap panas yang ditujukan khusus untuk wisatawan Jepang. Tapi, tidak pernah terwujud.

Namun, bukan baru sekarang pesona danau kawah belerang ini menarik pendatang.

Dimulai oleh Graaf Carlo Vidua de Conzano 16 Agustus 1830 yang berujung kematiannya. Hampir semua penulis atau peneliti, bahkan pejabat Belanda termasuk dari bangsa Eropa lain yang datang berkunjung di Manado, selalu menyempatkan diri mendatangi danau unik dan kawahnya.

               BACA: Graaf Carlo Vidua, Korban Kawah Linow.
                            Mengenal Sejarah Lahendong.

Penulis A.F.van Spreuweenberg mengunjunginya awal Agustus 1842. Ia mencatat enam spesies ikan di danau. Kabos, getegete, sayok, lumulontik, komo dan belut. Juga bebek dan burung air lainnya. 

Datang pula Inspektur NZG Ds.L.J.van Rhijn bulan April 1847. Ds.Dr.Steven Adriaan Buddingh awal Juni 1854 dan penulis serta anggota parlemen Belanda Dr.Wolter Robert Baron van Hoevell tahun 1855.

Penulis dan wartawan Inggris William Henry Davenport Adams datang tahun 1879. Tak kalah terkenal naturalis Sarasin bersaudara (Paul dan Fritz) dari Swiss mendokumentasikannya tahun 1894.

Kebanyakan penulis ini bukan sekedar berkunjung biasa. Mereka meninggalkan catatan di saat mendatanginya.

Dari kalangan pejabat Belanda tempo dulu tidak terhitung lagi. Tercatat ada dua orang Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, penguasa tertinggi Belanda di Indonesia, pernah berkunjung. Pertama kali adalah Mr.A.J.Duijmaer van Twist tanggal 16 September 1855. Kemudian Charles Ferdinand Pahud pada 12 Januari 1861.

Tamu terkenal lain adalah Putera Mahkota Belgia bersama istrinya. Tanggal 15 Februari 1929, Pangeran Leopold dengan istrinya Putri Rethy (Putri Astrid dari Swedia) mengunjungi mata air belerang di dekatnya.

Di sini, Pangeran Leopold telah membeli sejumlah kupu-kupu dan serangga seharga 120 gulden Belanda untuk koleksi Museum di Brussel.

Pangeran Leopold telah naik tahta Belgia, dengan nama Raja Leopold III. Dua putra mereka kemudian menggantikan. Raja Baudoin dan Raja Albert II. ***


-----------

·         foto: Sarasin Bersaudara, koleksi Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin.
·         Sumber tulisan: Buku ‘’Riwayatmu Tomohon’’ 1986, buku ‘’Tomohon Kotaku’’ 2006, naskah ‘Tomohon Dulu dan Kini’’; dan Delpher Kranten.

Kamis, 08 Agustus 2019

Graaf Carlo Vidua, Korban Kawah Linow






Kolam tempat peringatan Graaf Vidua jatuh.






Graaf Carlo Vidua de Conzano atau Charles Vidua Comte de Conzano, adalah naturalis besar dunia. Ada penulis terkenal menyamakannya sebagai Alexander von Humboldt yang kedua. Lelaki yang selalu haus akan pengetahuan yang tak terungkapkan, dan untuk memenuhi hasratnya itu telah berkelana di empat benua. Hasratnya itu juga telah membawanya ke tempat yang ketika itu masih dianggap sebagai pelosok terpencil, Lahendong, di Kota Tomohon sekarang.

Di Lahendong ini, hampir seratus delapan puluh sembilan tahun silam, ia celaka. Jatuh masuk kolam mendidih yang mengantarnya ke akhir hidupnya.

Kolam tempat kejadian terletak di tepi sungai Lahendong (Zanorangdang) yang ada di pinggir Danau Linow, hanya berdiameter sekitar 30 kaki (1 kaki=30 sentimeter). Namun, itu adalah kolam belerang menggelegak. Sumber mata air mendidih, dengan asap panas membubung naik. Segala sesuatu di sekitarnya, digambarkan para saksi mata, seakan tampak seperti sedang memasak.

Derajat panas kolamnya, 140 derajat Fahrenheit.

Biografi sarjana yang sangat ingin tahu, berbakat dan memiliki semangat menggelora akan sains ini ditulis oleh penulis terkenal di atas, Ds.Leonard Johannes van Rhijn, Inspektur dari NZG tahun 1847. Juga Cesare Balbo, sahabat Graaf Vidua tahun 1843.

Graaf Carlo Vidua de (atau di) Conzano (banyak penulis Belanda menulis Consana) adalah bangsawan keturunan keluarga tertua dan terkuat di Piedmont Sardinia. Lahir di Casale de Monstseerat tanggal 28 Februari 1785.

Graaf Vidua memulai petualangan keliling dunia tahun 1818. Ia melakukan perjalanan dari Italia, Perancis, dan Inggris. Lalu berbelok ke utara. Ke tempat paling ekstrim Lapland di Finlandia. Dari sana dia pergi ke Rusia. Dari ibukotanya, masih di St.Petersburg, menuju Moskow, ke stepa dari Kalmuk. Kemudian, ke semenanjung Krimea, dan menuju Konstantinopel (sekarang Istanbul di Turki), Asia Kecil serta Mesir.

Di Mesir, ia meneliti dan mengumpulkan banyak koleksi. Museum Mesir yang kaya di kota Turin Italia adalah ciptaannya.

Dari Mesir ia mengunjungi Jerusalem, Palmira dan semua tempat menakjubkan di Tanah Suci. Kemudian pergi ke Junani.

Tahun 1821 ia kembali melintasi Perancis selatan ke tanah kelahirannya.

Namun, apa yang telah dihasilkannya tidak cukup baginya. Ia ingin melihat dan menjelajahi Amerika, sebelum mengikat diri di tanah airnya.

Tahun 1825 Graaf Vidua melakukan perjalanan ke Amerika Serikat. Mengumpulkan banyak buku, dan didorong rasa ingin tahu ia pergi ke Meksiko, dan bersiap pergi ke Peru di Amerika Selatan serta merencanakan pelayaran melintasi Samudera Selatan yang besar ke Hindia Timur.

Rencananya tertunda ketika mendapat kabar penyakit ayahnya gawat, sehingga ia bergegas kembali ke Eropa. Tapi, baru saja mendarat di Bordeaux, ketika diberitahu ayahnya telah pulih.

Segera, Graaf Vidua memutuskan pergi ke Hindia Timur. Tanggal 17 November 1827 ia tiba di Kalkuta, lalu berlayar di sungai Gangga ke kaki Himalaya. Perjalanannya berlanjut ke Singapura lalu Manila.

Bulan Januari 1829 di Kanton Tiongkok, dan 18 Juli 1829 ia melangkahkan kaki di Jakarta (masih Batavia).

Pulau Jawa yang luar biasa serta keramahan orang Belanda yang dialaminya membuatnya tinggal lebih lama dari yang ia rencanakan.

Dengan rekomendasi Letnan Gubernur Jenderal Hendrik Merkus de Kock, ia pergi dengan kapal ke Maluku pada 13 Maret 1830, mengambil bagian dalam ekspedisi ke Papua. Dari Ambon Juli ia berangkat ke Manado dengan kapal perang sekunar Iris, dan tiba di Kema Minahasa tanggal 5 Agustus.

Di Manado ia menjadi tamu terhormat dari Residen Mr.Daniel Francois Willem Pietermaat. Graaf Vidua tinggal selama tiga hari, kemudian pergi ke pedalaman Minahasa tanggal 11. Ia datang ke Tomohon, Tondano, Kakas, Langowan dan tanggal 15 di Sonder.

Terakhir, tanggal 16 Agustus 1830 dari Sonder Graaf Vidua dengan berkuda ditemani dokter Keresidenan Manado H.Straus datang ke Lahendong.

NASIHAT WAWORUNTU
Pemandangan alam danau belerang Linow telah menghipnotisnya. Menurut Prof. G.Lauts, dengan sebuah perahu kecil dari pohon yang dilubangi yang lebih banyak dinavigasikannya sendiri di danau, ia datang ke medan berbukit yang dikelilingi kesegaran menghijau. Tetapi, di tengah sumur lumpur belerang yang mendidih, dengan air di mana-mana melambung setinggi 2 hingga 3 meter, ia tenggelam di dalamnya. Membakar kaki kanannya hingga ke atas lutut.

P.C.Molhuyzen dan P.J.Blok  menggambarkan ia memberanikan diri terlalu dekat dengan tepi salah satu kawah, tenggelam dan kaki kanannya terbakar di atas lutut. Ini menjadi awal dari penderitaan yang mengantarnya ke kematian.

Ds.van Rhijn menyebut tragedi itu karena didorong oleh rasa ingin tahu, sehingga Graaf Vidua ingin mencobai ke dalamnya. Ia segera tenggelam di dalamnya, dan membakar dirinya dengan sangat.

Dr.W.R.Baron van Hoevell menambahkan, ia tidak mengindahkan lagi peringatan mendesak dari pengantarnya Majoor Kepala Distrik Sarongsong (Waworuntu, kelak tahun 1847 dibaptis Kristen bernama Herman Carl Wawo-Roentoe).

Graaf Vidua diberi pertolongan pertama oleh dokter Straus, dan diangkut ke Lahendong. 

Residen Pietermaat dalam laporannya mengisahkan ia menyertai pula Graaf Vidua dalam perjalanan itu. Pada siang hari Graaf Vidua datang ke danau, dan terlepas dari peringatan dokter Straus dan Kepala Distrik (Waworuntu), ia melangkah dan tenggelam di lumpur kolam mendidih. Graaf Vidua dibawa Pietermaat ke Manado dan dirawat dokter Straus sampai akhir bulan.  

Graaf Vidua ingin pergi ke Ternate, dan masih dengan kapal Iris berangkat ke Ternate 30 Agustus.

Di Ternate ia beristirahat 3 bulan di rumah Residen Johan Alexander Neijs. Kendati kondisinya tidak menguntungkan, ia masih bekerja keras membuat catatan.

Kemudian ia ingin ke Ambon, seakan merasa kematiannya akan tiba. Melawan nasihat dokter dan tuan rumahnya, tanggal 12 Desember dengan kapal swasta ia berlayar ke sana.

Catatan terakhirnya dibuat tanggal 24 Desember. Dan, di pagi hari tanggal 25 Desember 1830, tepat hari Natal, dengan usia hampir 45 tahun, ia meninggal di Teluk Ambon.

Graaf Vidua dikuburkan di Ambon. 

Tahun 1832 atas permintaan ayahnya, tulang-tulangnya dibawa ke Turin, dan dimakamkan ulang di kapel kastil keluarganya di St.Moritz.

Kelak, lokasi di tepi sungai kolam mata air mendidih tempat Graaf Vidua jatuh telah dibuat tempat sebagai tanda peringatannya. Ketika Dr.Wolter Robert Baron van Hoevell berkunjung di tahun 1854 dengan diantar Hukum Tua Lahendong, di lokasi itu hanya terdapat sebuah sabuah. Ia pergi ke kolam tersebut dan sangat ngeri membayangkan derita yang dialami Graaf Vidua.


Rasa ngeri Baron van Hoevell semakin jadi setelah ia melakukan eksperimen dengan mengambil kapur dan bongkahan besar belerang dari kolam tersebut menggunakan bambu. ‘’Kami tidak bisa mengendalikan panasnya, dan kami bisa membayangkan apa yang harus dideritanya ketika tenggelam ke dalam lautan api ini,’’ tulis Baron van Hoevell.  

Graaf Vidua membuat buku harian, tapi, sayangnya telah hilang dengan sebagian besar catatannya. Namun, surat-suratnya telah dikumpulkan sahabatnya Cesare Balbo dan diterbitkan di Turin, dalam 3 volume tahun 1834.  ***




----------
·         Lukisan pensil Carl Benjamin Hermann von Rosenberg 1863, koleksi Royal Institute of Linguistics and Anthropology di Leiden.
·         Sumber tulisan: Reis door den Indischen Archipel, 1849 oleh Ds.L.J.van Rhijn. Vie de Charles Vidua Comte de Conzano, 1843 oleh Cesare Balbo. Tijdschrift voor Nederlandsch Indie, 1856 oleh Dr.W.R.van Hoevell. Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, deel 5 oleh P.C.Molhuysen dan P.J.Blok; Geschiedenis der Nederlanders in Indie, 1866 oleh Prof.G.Lauts serta naskah ‘’Tomohon Dulu dan Kini’’.