Selasa, 09 Juli 2019

J.A.Scipio, Tokoh Pendidikan Teknik di Minahasa





Jan Arthur Scipio dan istri.





Tahun 1960 dan 1970-an merupakan era emas pendidikan teknik di Minahasa, bahkan Sulawesi Utara. Tomohon menjadi sentralnya, dan sosok J.A.Scipio berada di balik semuanya. Ribuan orang hasil tempaannya berkiprah di berbagai bidang pekerjaan, ketika Minahasa gencar membangun dan membutuhkan tenaga-tenaga teknisi yang trampil. Bahkan, sebaran alumninya berada di berbagai kota besar Indonesia. Tidak sedikit di antara lulusannya menjadi terkenal, termasuk duduk di pemerintahan.

Pendidikan teknik di Minahasa telah berawal dari pendirian Ambachtsschool (Sekolah Pertukangan) di Wasian Kakas oleh NZG (Nederlandsch Zendelinggenotschap). Tahun 1905 D.Ph.Notten diangkat menjadi direkturnya, dibantu guru W.Westerveld. Sekolah mana menjadi terkenal selama kepemimpinannya hingga tahun 1927.

Kejayaan sekolah di Wasian itu, menggugah Ds.A.Z.R.Wenas sebagai Ketua Sinode GMIM, untuk mendirikan sekolah sejenis di Tomohon.

Tahun 1947 bertempat di halaman Gereja Protestan Tomohon (kemudian bernama Sion di Paslaten Satu sekarang) dibuka Sekolah Pertukangan GMIM dengan dipimpin oleh Leopold Myendert E.Mathindas. Sekolah tersebut tanggal 9 September 1949 berganti nama menjadi Sekolah Teknik Pertama Kristen (STPK) bersubsidi, dengan lama pendidikan selama dua tahun.

Era baru pendidikan teknik dimulai tahun 1955, ketika J.A.Scipio diminta Wenas dan Yayasan Pendidikan Kristen Minahasa (MCSV) untuk memimpin sekolah tersebut.  Menurut Wenas, Minahasa membutuhkan ahli-ahli yang mampu untuk membangunnya semakin maju. Salah satu langkah untuk mencapainya adalah dengan pendidikan kejuruan yang bermutu.

Jan Arthur Scipio, demikian nama lengkapnya, kelahiran Banjarmasin (Kalimantan Selatan) 14 Agustus 1910, adalah lulusan sekolah teknik terkenal di Batavia (sekarang Jakarta). Ia memang keturunan orang teknik. Ayahnya yang berdarah campuran Italia dan Swiss menjadi salah seorang teknisi utama di bengkel lapangan terbang Andir Bandung (sekarang Husein Sastranegara). Ibunya sendiri asli orang Jawa.

Perubahan besar terjadi. Sekolah ditingkatkan menjadi Sekolah Teknik Kristen (STK) Bersubsidi 3 tahun. Bertambah kelas tiga. Fasilitas pendidikan yang semula menempati bekas Clubgebouw (eks Sekolah Nyong, Jongenschool) di sebelah gedung Gereja Sion, dipindah di Kaaten (Matani Satu), dengan menempati sebagian pekarangan bekas Louwerierschool (Sekolah Louwerier).

Sekolahnya masa itu menjadi terkenal di Minahasa, dengan murid yang datang dari berbagai pelosok, bahkan dari kawasan timur Indonesia. Desakan untuk menerima murid dari kalangan perempuan, sebab, sebelumnya tidak ada wanita bersekolah teknik, dijawab Scipio sebagai direktur dengan penerimaan pelajar wanita di tahun ajaran 1957. Hal yang ketika itu dianggap loncatan besar ke depan bagi kaum wanita Minahasa.

STK Tomohon mencatatkan namanya dalam sejarah pendidikan sebagai sekolah teknik pertama di kawasan Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah (Sulutteng) yang melakukannya.

Animo dan minat siswa yang besar akan ketrampilan dan teknologi mendorong Scipio mendirikan Sekolah Kerajinan pada bulan Oktober 1957 di Kaaten. Ia merangkap sebagai kepala sekolahnya.

Usai pergolakan daerah Permesta, pendidikan teknik di STK Tomohon dan Sekolah Kerajinan benar-benar mencapai masa keemasan, dengan tumbuh semakin besar minat orang tua murid dan para siswa untuk menjadi pelajarnya.

Tidak kalah hebatnya, adalah dari berbagai tempat di Minahasa (Minahasa masih satu, termasuk Bitung) muncul banyak permintaan dari para calon orang tua murid bahkan jemaat setempat untuk membuka sekolah sejenis di tempatnya. Bagi banyak orang tua, di masa susah demikian, mengirim anak untuk bersekolah di Tomohon, sangat memberatkan, karena harus mengasramakan. Di lain pihak, para pelajar dari negeri-negeri di seputaran Tomohon, umpama, dari Kakaskasen, Sarongsong atau Woloan, harus berjalan pulang-pergi setiap harinya.

MCSV (kemudian jadi Dinas Pendidikan Persekolahan GMIM) sebagai penyelenggara, menerima desakan orang tua murid dari Kakaskasen dan Jemaat Wilayah Kakaskasen. Bulan Agustus 1962 Sekolah Kerajinan dari Kaaten dipindahkan ke Kakaskasen (sekarang Kakaskasen Dua). Pimpinan sekolah di sini diserahkan Scipio karena kesibukan tugasnya kepada L.M.E.Mathindas yang pernah memimpin Sekolah Pertukangan.

Meneer Scipio, para murid biasa memanggilnya, menumpahkan perhatiannya untuk makin membesarkan STK di Kaaten. Tahun sebelumnya, 1961, bersama dinas dan Ds.Wenas, ia berhasil mendapatkan bantuan internasional untuk pengembangan dan mutu pendidikan STK Tomohon. Ford Foundation dari Amerika Serikat memberi bantuan mesin-mesin dan alat praktek.

‘’Sekolah kami terbilang sangat hebat di masa itu, justru ketika baru selesai Permesta,’’ tuturnya di rumahnya di Kamasi tahun 1988.


LIMA SEKOLAH
Tahun 1964 menjadi puncak karya dan pengabdian Scipio. Ia berhasil mengubah STK di Kaaten menjadi sekolah induk dengan membuka filial. Ini menjawab desakan pengadaan sekolah sejenis dari berbagai tempat di Minahasa.

Tanggal 1 Agustus 1964 Sekolah Teknik Kristen berubah nama menjadi Sekolah Teknik Kristen I bersubsidi sekolah induk.

Sekolah Teknik yang dibuka Scipio di Aertembaga Bitung dinamai Sekolah Teknik Kristen II. Sekolah Kerajinan di Kakaskasen berubah nama menjadi Sekolah Teknik Kristen III.

Ketiga sekolah sama-sama berstatus bersubsidi dalam pengasuhan Dinas Pendidikan dan Persekolahan GMIM. 

Kesibukannya jadi berlipat ganda. Selain memimpin langsung STK I induk di Tomohon, ia pun  mesti bolak-balik ke Bitung, karena bertindak pula sebagai Kepala STK II di Aertembaga. Di Bitung ini, ia dibantu E.Rambing selaku wakil kepala sekolah.

STK III di Kakaskasen tetap dipimpin L.M.E.Mathindas.

Tahun-tahun kemudian, pekerjaannya makin bertambah. Orang tua murid dan Jemaat GMIM di Tondano dan Airmadidi berkali meminta pembukaan sekolah teknik di tempatnya.

Dengan tekad besar, tanpa pamrih dan tidak kenal lelah. Semuanya, katanya ketika itu, demi majunya orang Minahasa, Scipio yang didukung dinas pengasuh berhasil mendirikan dua sekolah teknik baru di tempat tersebut. Sekolah pertama di Tondano bertempat di Tataaran bernama STK IV, dan satu lainnya di Tonsea Lama (masih Airmadidi) bernama STK V.

Scipio pun memimpin langsung kedua sekolah sebagai kepalanya. 

Di Tataaran, ia dibantu wakil kepala sekolah P.Karamoy, sementara di STK V ia dibantu wakil kepala sekolah C.Anes.

''Pokoknya, begitu sibuk, sehingga jarang bersama keluarga. Apalagi, setelah ada STM,'' kisah Nyora [1] Ina Palit, istrinya.
 
STM KRISTEN
Sekolah Teknik Kristen ternyata tidak mencukupi untuk tuntutan zaman. Demi lebih memantapkan pembekalan ilmu pengetahuan, teknologi dan praktek siswa, semakin dirasakan oleh Scipio, perlu adanya sekolah lanjutan bagi lulusan STK.

Scipio menggagas pendiriannya. Tanggal 14 September 1965 bertempat di pekarangan STK Kaaten, dibuka Sekolah Teknologi Menengah (STM) Kristen, yang dipimpinnya selaku kepala sekolah.

Masa itu, ia memimpin bersamaan empat sekolah. Selain STM, tetap memegang STK I, STK II, STK IV dan STK V. 

Untuk sarana dan fasilitas alat belajar-mengajar sekolah baru ini, bersama pimpinan Sinode GMIM dan Dinas Pendidikan, Scipio mengupayakan donasi dari pihak luar.  Bantuan tersebut berhasil datang dari tanah leluhurnya Swiss. Badan gereja terkenal Swiss HEKS Basel memberikan bantuan hibah untuk pembangunan gedung serta pengadaan mesin dan alat-alat praktek.

HEKS Basel ikut mengirim utusannya Ir.Eduard E.Mahler sebagai tenaga ahli. Mahler kemudian dipercayakan menjadi wakil kepala sekolah mendampingi Scipio.

Scipio dan Mahler berhasil mengantar sekolah tersebut menjadi sekolah bergengsi, karena kualitas lulusannya.

Namun, STK yang dibentuknya mengalami berbagai perubahan kebijakan. Dua sekolah di Tataaran (STK IV) dan Tonsea Lama (STK V) paling awal ditutup, karena kekurangan biaya.

Tahun 1977 turun peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) yang mengatur sekolah-sekolah kejuruan. Tanggal 10 September 1977, STK III diintegrasikan menjadi SMP Kristen Kakaskasen. STK II Aertembaga diintegrasikan menjadi SMP Kristen Aertembaga. STK 1 Kaaten masih tetap bertahan hingga kemudian dihapus tahun 1986.

STM Kristen Tomohon tetap berkibar, sekarang bernama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kristen I Tomohon.

Scipio sendiri pensiun sebagai Kepala STK Tomohon tahun 1971. Ia digantikan Albert M.Pandeirot (ayah Toar Pandeirot SPd, MM), kemudian Herling A.J.Wungow tahun 1982.

Terakhir, tanggal 14 Agustus 1979, ayah mantu Pdt.Tonny Daud Kaunang STh, MM ini menyerahterimakan jabatannya sebagai Kepala STM Kristen Tomohon kepada penggantinya Adolf Apeles Masengi BSc, salah satu murid andalnya dari Kinilow .

Tokoh pendidikan teknik di Minahasa ini meninggal di Kamasi Tomohon tanggal 11 September 1990. ***

--------


[1]. Panggilan hormat istri seorang guru.

  • Sumber foto: koleksi Esmeralda Lourency Scipio.
  • Sumber tulisan:  Buku ‘’Riwayatmu Tomohon’’ 1986,  buku ‘’Tomohon Kotaku’’ 2006, dan naskah ‘’Tomohon Dulu dan Kini.’’

Jumat, 05 Juli 2019

Guru dan Hukum Tua Kayawu



Sekolah Genootschap, sekarang SD GMIM Kayawu.



Di masa kolonial Belanda, semua orang Minahasa mesti bekerja Heerendienst yang bermakna kerja wajib, tapi lebih tepat disebut kerja paksa. Setiap laki-laki berumur delapan belas tahun ke atas harus bekerja tanpa dibayar selama 36 hari dalam setahun. Meski dalam praktek di lapangan ada yang mesti bekerja lebih 90 hari. Mereka harus bekerja di berbagai fasilitas umum (publieke werken), membangun jalan, jembatan dan juga memeliharanya, termasuk pengerjaan saluran irigasi.

Selain tenaga cuma-cuma tanpa batas usia dalam Heerendienst ini, untuk Hukum Tua, mereka harus melakukan pekerjaan negeri yakni pinontol dan sawang yang bervariasi antara 50 sampai 60 hari dalam setahun. Bahkan, di negeri besar dapat mencapai 90 hari. [1]

Masih ada. Tiap rumah tangga wajib membayar pajak (pajak hasil atau hasilbelasting) sebesar satu gulden (rupiah). Tapi, boleh ditukar dengan hasil kebun, seperti beras, kopi dan lain sebagainya.

Dari pengumpulan pajak begini Hukum Tua termasuk Hukum Besar memperoleh insentif.

Tidak ada yang boleh membangkang atau menolak. Yang mendapat pengecualian apabila orang tersebut duduk di pemerintahan atau karena sakit tua atau cacat berat yang kadang harus ditebus atau membayar ganti rugi beberapa pon beras atau beberapa ayam. Sanksi keras bagi yang tidak melaksanakan Heerendienst adalah dibui dan melaksanakan kerja paksa dengan atau tidak dirantai yang terkenal masa itu dengan sebutan pekerjaan hina atau dwangarbeid.

             BACA: Kisah Terbunuhnya Kontrolir Haga (1,2 dan 3).

Demikian kondisi penduduk di Kayawu (sekarang kelurahan di Kecamatan Tomohon Utara) di tahun 1882, masa kepemimpinan Hukum Tua Jesayas Rompis. Ketika itu negerinya masih sebagai bagian dari Distrik Kakaskasen beribukotakan Lotta dengan dipimpin Hukum Besar Paul Frederik Parengkuan.

Kayawu digambarkan cantik dan elok dilihat, sementara penduduknya banyak telah berpendidikan, bahkan terbilang kritis. Padahal, agama Kristen dan pendidikan di Kayawu baru masuk duapuluh satu tahun silam. 

Zendeling Tomohon Pendeta Nicolaas Philip Wilken baru membentuk Jemaat Kayawu (sekarang Pniel) dan sebuah sekolah Genootschap (sekarang SD GMIM) di tahun 1861. Untuk mempercepat penduduk melek huruf dan pintar membaca, Wilken sengaja melatih beberapa pemuda dan pemudi Kayawu untuk menjadi ‘guru’ belajar bagi penduduk lainnya.

INTELEKTUAL AWAL

Awal tahun 1882 itu yang menjadi guru (meester) Sekolah Genootschap Kayawu adalah Jan Turambi yang menggantikan 1879 guru Karel Palar yang pindah ke Tomohon. Otomatis, ia pun memimpin Jemaat Protestan Kayawu di bawah penilikan Pendeta Tomohon Jan Louwerier yang hanya datang di hari dan waktu tertentu, seperti untuk melakukan pembaptisan, perjamuan kudus atau meneguhkan perkawinan penduduk.

Guru Turambi oleh koran masa itu telah digolongkan sebagai seorang intelektual Minahasa. Sangat pintar dan jago menulis. Baru berusia tiga puluhan ia merupakan Kweekeling (guru belajar) dari Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers (Sekolah Guru Pribumi) Tanawangko di bawah pimpinan Zendeling Nicolaas Graafland. [2]

Di Tanawangko ini Graafland telah mendirikan media pertama di Sulawesi Utara bernama Tjahaja Sijang, dimana ia bertindak langsung sebagai editornya selang tahun 1869 hingga 1879. Setelah diangkat menjadi Adjunct Inspektur Pendidikan Wilayah Lima, pekerjaannya dilanjutkan oleh beberapa pendeta, seperti Jan ten Hove, Jan Louwerier, Hessel Rooker, Cornelis Johannes van de Liefde dan Johann Albert Traugott Schwarz.

Terasah oleh Graafland, di media yang ketika itu terbit dua kali sebulan, Turambi menulis di tahun 1882 tulisan terkenalnya ‘’over de Heerendiensten in’t dorp’ (tentang pekerjaan Heerendienst di negeri) yang menimbulkan polemik berkepanjangan. [3]

Masalahnya, karena dalam pekerjaan Heerendienst di Kayawu, sang kepala negeri (Hukum Tua) memaksakan anak-anak sekolah berusia 9 tahun serta para gadis di bawah umur 18 tahun untuk ikut bekerja di jalan. Masa itu, oleh para guru murid diwajibkan harus beristirahat tidur siang setelah pulang sekolah.

Meski aturan kerja rodi keras, tapi menjadi aturan pula tidak ada anak atau gadis kecil yang diizinkan untuk bekerja di jalan. Para Hukum Tua tidak memiliki kekuatan untuk menyuruh apalagi memaksakan pekerjaan demikian selain kepada orang-orang wajib Heerendienst.

Dalam awal beberapa tulisannya di Tjahaja Sijang, dimulai dengan Weg werken in het dorp (bekerja jalan di negeri) bulan Maret 1882, Guru Turambi menggambarkan Kayawu sebagai negeri sangat netjes (rapi). ‘’Jika seseorang berjalan dari Timur ke Barat atau sebaliknya Barat ke Timur akan melihat kerapiannya. Dari rumah-rumahnya, orang dapat melihat penghuninya beragama Kristen atau bukan. Orang pun dapat melihat apakah kepala dapat memerintah atau tidak, atau penduduk patuh dalam kerja Heerendienst atau tidak.’’

Ia menyebut kehidupan keagamaan menjadi umum di setiap rumah. ‘’Jika ada yang melewati negeri kami, dia pasti akan memuji kepala negeri dan penduduk. Tetapi, jika seseorang menyelidiki bagaimana pekerjaan itu terjadi, maka itu tidak akan indah lagi.’’

Menurut Turambi, pada tanggal 8 Februari 1882, atas perintah Hukum Tua, penduduk bekerja rodi memperbaiki jalan yang hanyut. Ruas jalan yang perlu dinaikkan itu sepanjang 24 rantai (alat ukur yang digunakan saat itu).

Tiga penjaga yang memandori Heerendienst membagi penduduk Kayawu sebagai berikut. Untuk orang-orang muda di bawah usia 18 tahun, yakni para gadis muda mesti menyelesaikan lima rantai di sisi timur, lalu anak-anak sekolah berusia 9 tahun mengerjakan empat rantai di sisi barat. Lima belas rantai sisa di bagian tengah menjadi jatah dari penduduk yang memang terkena wajib Heerendienst.

Guru Turambi sebagai saksi mata kejadian tersebut melukiskan kaum pria, anak perempuan dan anak-anak sekolah berjalan membawa keranjang pasir. ‘’Sepanjang hari itu aku banyak mendengar, anak-anak mengeluh mereka lelah. Orang tua mengeluh karena anak perempuan mereka bekerja di jalan. Orang tua lain yang tidak memiliki anak perempuan berkata jika aku punya anak perempuan, ingin melihat siapakah yang akan memaksa bekerja Heerendienst. Juga para gadis mengeluh kelelahan, karena mereka harus mengangkut pasir hampir setengah paal (lebih setengah kilometer) dan jauh,’’ tulisnya.

Kepala Negeri Kayawu J.Rompis dalam surat balasannya tanggal 6 Juni 1882 kepada J.Turambi membantah adanya pemaksaan para gadis muda. Ia tidak merekomendasikan, tapi mereka yang memilihnya sendiri untuk ikut bekerja.

Menurut Hukum Tua Jesayas (demikian nama lengkapnya), kaum pria wajib Heerendienst yang tengah bekerja Mapalus menyiangi sawah menerima pesan untuk membersihkan jalan di negeri. Para gadis yang ikut Mapalus telah bersepakat sendiri untuk membantu kaum pria ikut bekerja agar Heerendienst cepat selesai dan melanjutkan kerja Mapalus mereka.

Sementara pelibatan anak-anak sekolah, katanya, karena diminta para orang tua agar pekerjaannya dilakukan sore hari.

‘’Semua mereka sudah bekerja dengan sukacita, sehingga orang bisa mendengar di sana-sini teriakan Hip, hip, hura!  Sebuah tanda sukacita. Lainnya menyanyikan lagu-lagu: Tiang bendera ada di halamannya kepala negeri. Biarkan bendera berkibar di tiang. Mari kita buat ini dengan baik. Jalan ini milik kita semua.’’ 

Menurutnya, itu menunjukkan bahwa mereka berada dalam komunitas bekerja, satu hati dan satu kalimat.

Ia kemudian menyindir bahwa di Kayawu ada yang kejam dan bohong, guru yang menyukai hal-hal yang tidak betul. Ia menyalahkan, kalau kasusnya benar, kenapa tidak dibicarakan di gereja sebagai seorang pengkotbah injil. ‘’Apakah itu seorang gembala yang damai?’’ tanyanya.

Namun, Guru Turambi dalam balasannya tanggal 31 Juli 1882 justru membeber rinci kasusnya, sehingga karena diketahui umum dan bukan rahasia lagi, tidak perlu dikotbahkannya lagi.

Menurutnya, jalan menuju Kayawu biasa dikerjakan dua kali setahun. Pertama pada bulan Februari yang harus dikerjakan oleh semua penduduk. Kedua bulan Juni hanya oleh wajib Heerendienst.

Pada bulan Februari itu, pekerjaan akan siap dalam sehari, karena yang bekerja berjumlah banyak. Kecil dan besar, tua dan muda hingga anak-anak. Semuanya atas perintah Kepala Negeri, dan tidak dilakukan oleh kehendak bebas mereka. Hukum Tua membagi pekerjaan seperti di atas. Padahal, dalam kasus anak-anak, kepada Hukum Tua, Turambi dan guru bantunya telah memesan bahwa tidur siang bagi anak-anak sekolah perlu dilakukan.

Soal para anak gadis, ia mengungkap mereka bersama para pemuda sebanyak 28 orang dengan dipimpin kepala kecil (kepala jaga) bernama Soleman Manoppo tengah bekerja Mapalus menyiangi padi di sawah. Seminggu sebelumnya Hukum Tua mengirim pesan bahwa mereka harus pergi minggu berikutnya untuk bekerja Heerendienst.

Ketika itu terjadi dialog antara Soleman Manoppo dengan 26 anggota Mapalusnya. ‘’Apa yang kalian suka, mengangkut pasir atau kerja Mapalus?’’ Semua menjawab kerja Mapalus. Masa itu, Kayawu mengalami kekurangan bahan makanan.

Kepala kecil tersebut memutuskan memberi pedatinya serta empat dari kaum pria muda untuk memuat dan membongkar pasir, agar yang lain bisa tetap melanjutkan dengan pekerjaan Mapalus mereka. Hal mana disepakati semua. Mereka juga mengusul diusahakan lebih banyak pedati. Tapi, menurut Soleman perlu ditanya lebih dulu kepada Hukum Tua.

Sore sebelum hari kerja itu, dua anak muda bernama Erasmus dan Hermanus bertemu Hukum Tua. Mendengar rencana pedati demikian, spontan ia menolak. ‘’Orang-orang harus mematuhi saya. Meski pun para wanita juga membawa anak-anak kecil. Mereka harus melakukan itu, karena saya kepala mereka.’’

Pada hari kerja Heerendienst, para pemuda dan gadis muda telah mulai bekerja pukul setengah enam, ketika Hukum Tua melewati mereka. Dia ingin ke Kakaskasen. Ia bertanya apakah mereka semua ada di situ, yang dijawab semua.

Dari pagi hingga jam 12 siang hujan turun berjam-jam. Karena jam makan, mereka semua makan. Guru Turambi datang kepada mereka dan bertanya, siapa yang memerintahkan para gadis membawa pasir. Semua menjawabnya Hukum Tua.

Sedang dia berbicara dengan mereka, Hukum Tua kembali dari Kakaskasen. Tapi, dia langsung pergi ke rumahnya. Lima menit kemudian putra sulungnya bernama Johan mendatangi Kepala Jaga, memanggil Soleman datang menghadap Hukum Tua.

Soleman pergi menemui Hukum Tua. Lima menit kemudian kedua kepala tersebut di hadapan seluruh penduduk bertengkar sengit. Hukum Tua memarahi kepala kecil sambil memukul meja. Ketika kepala kecil pergi menghindar ke timur, Hukum Tua bahkan mengejarnya, terus marah-marah.

TERSEBAR LUAS

Tulisan Jan Turambi bulan Februari 1882 itu serta lanjutannya pada 31 Juli 1882 selain ditanggapi Jesayas Rompis, dikomentari penulis bernama inisial X yang mendukung Turambi. Namun, direspon dengan kontra tanggapan oleh 3 warga Kayawu yang mungkin menjadi tokoh-tokoh masyarakat mendukung kebijakan Hukum Tua. Ketiganya bernama Kountul Ambei, Impal Ambei dan Elfianus Singal, ditambah I.Gigir yang bertindak sebagai penulis.

Berikutnya, kasus Heerendienst di Kayawu meluas, dengan ragam tanggapan dari penulis lain yang juga digolongkan Tjahaja Sijang sebagai kalangan intelektual awal Minahasa. Antaranya A.Muaja, S.Rotti serta dari J.E.J (Johannes Enos Jacob), seorang Kepala Gudang Kopi di Motoling berusia 45 tahun.

Polemik yang berkepanjangan akan pekerjaan Heerendienst Kayawu yang masih berlangsung tahun 1883 ini telah menarik minat harian besar di Surabaya, yakni Soerabaijasch Handelsblad. Koran tersebut menurunkan lengkap --bahkan di halaman utamanya-- tulisan yang telah dimuat Tjahaja Sijang tahun 1882 serta 1883 itu.

Koran di bawah pemimpin redaksi J.A.Uitkens ini menerbitkannya utuh berbahasa Belanda tanggal 29 Januari 1885, 31 Januari 1885, dan 18 Februari 1885. 

Penutup kisah, konflik guru dan Hukum Tua Kayawu ini dimenangkan Hukum Tua. Awal tahun 1883 Guru Turambi ditarik peniliknya Pendeta Tomohon Jan Louwerier. Menurut koran Tjahaja Sijang, kekritisannya mendatangkan banyak musuh bagi dirinya. 

Guru Turambi telah masuk dinas Gubernemen Hindia-Belanda. Ia ditempatkan sebagai guru Sekolah Gouvernement Lahendong (sekarang kelurahan di Kecamatan Tomohon Selatan) menggantikan J.Lantang. 

Baru beberapa tahun kemudian Hukum Tua Jesayas Rompis digantikan oleh Habel Wongkar, bekas guru bantu --lalu guru utama-- di Sekolah Genootschap Kayawu. ***  


-------
·         [1]. Masa Residen Manado Eeltje Jelles Jellesma (berkuasa 29 September 1892-Mei 1903) aturan Heerendienst yang baru diberlakukan tahun 1895. Kerja selama tiga puluh dua hari, untuk setiap pria berumur dua puluh tahun hingga umur lima puluh satu tahun. Sedangkan pajak hasil menjadi dua gulden lima puluh sen.
·         [2]. Tanggal 1 Februari 1886 sekolahnya dipindahkan di Kuranga Tomohon (Talete Dua) dengan Direktur Hendrik Cornelis Kruijt. Kelak menjadi Normaalschool, SGA dan hingga dihapus tahun 1991 dikenal sebagai SPG Kristen Tomohon.
·         [3]. Publikasi asli di Tjahaja Sijang dalam bahasa Melayu. Karena edisinya sulit diperoleh (hanya ada di Museum Pers Solo, serta di perpustakaan Belanda dan ANU di Australia), tulisan lebih banyak bersumber dari publikasi koran berbahasa Belanda Soerabaijasch Handelsblad.


Sumber foto: Jootje Umboh 2007.
Sumber tulisan: Buku ‘’Riwayatmu Tomohon’’ 1986, buku ‘’Tomohon Kotaku’’ 2006, naskah ‘’Tomohon Dulu dan Kini’’ serta Delpher Kranten.

Kamis, 04 Juli 2019

Legenda Rurukan




Lukisan J.Sumanti, dengan pal bertera 1850.





Asal mula tercetusnya nama Rurukan, sekarang dua kelurahan di Kecamatan Tomohon Timur (Rurukan dan Rurukan Satu) banyak versi.

Bahkan, legendanya dari waktu ke waktu terus berkembang. Meski intinya sama tentang uji bertahan dalam air.

Konon, di masa lalu, menjadi adat dan tradisi dari penduduk Tomohon dan umumnya orang Minahasa adalah menguji apakah seseorang berbohong atau jujur dengan harus menyelam dan bertahan di dalam air.

Legenda ini menjadi cerita rakyat turun-temurun sejak Rurukan menjadi satu negeri di Distrik Tomohon bulan April 1848. [1]

Legenda Rurukan tampil dalam versi-versi berbeda, sebab bukan sekedar tuturan baru. Dua kisah diantaranya sudah sangat tua. Telah dicatatkan, bahkan dipublikasikan secara meluas di abad ke-19, melalui dua koran harian besar yang terbit di Pulau Jawa.

Menjelang akhir abad tersebut, Rurukan telah menjadi objek rekreasi penting
dari kalangan Belanda, setelah Alfred Russel Wallace tinggal di Rurukan 23 Juni-3 Juli 1859 dan publikasi buku terkenalnya‘’Malay Archipelago’’ tahun 1869.

Ketika itu negeri di lereng Gunung Mahawu ini masih menjadi negeri paling tinggi di seluruh Minahasa (Kentur Temboannya 962 meter dpl). Selain berudara segar, memiliki pemandangan indah pelabuhan Kema, Pulau Lembeh, Gunung Klabat dan Dua Sudara.

Penulis pertama adalah seorang pendeta (Hulpprediker) terkenal Minahasa utusan Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), yakni Jan Bodde, yang berkarya injil di Kumelembuai Minahasa Selatan sejak 18 Mei 1881 hingga 1888.

Ia mengunjungi Rurukan tahun 1883. Dari wawancaranya dengan penduduk Rurukan ketika itu terbit tulisan berkaitan legenda Rurukan di harian De Locomotief Semarang tanggal 5 September 1883.

Ini berarti kisahnya telah berumur hampir 136 tahun.

Asal nama Rurukan, menurut Jan Bodde, adalah mirip dengan negeri lain di Minahasa. Dari sungai kecil yang mengalir di situ, yang memperoleh namanya dari kisah seorang pemburu trampil dengan budaknya.

Meski tidak menyebut nama sang pemburu, tapi ia mencatatnya sebagai seorang Tonaas dari Tomohon. Keduanya pergi berburu. Seperti kebiasaan pada saat itu, mereka tinggal selama beberapa hari dan bermalam di hutan. Karenanya mereka membangun satu pondok terletak pada satu sungai kecil yang belum diketahui namanya.

Setiap berburu, sang Tonaas akan mengambil yang terbaik yakni hati dan jantung buruannya, dipisahkan dan disimpan dalam bambu. Dia hanya memakan ini dan sesuai adat kebiasaan tidak membagikan pada budaknya. Tidak perduli berapa banyak pun hasil yang diperoleh.

Suatu hari sang pemburu kembali menangkap babi hutan yang kemudian disembelih. Ia meninggalkan buruan dijaga budaknya karena masih mengawasi binatang buruan lain. Tapi, ketika kembali jantung babinya telah dicuri. Entah oleh budak atau oleh anjing, dia tidak tahu. Dia berpikir tidak ada orang lain lagi yang melakukannya, selain budaknya.  

Tetapi budak itu membantah dan berkata: ‘’Aku berani sumpah, karena aku tidak mencurinya.’’

Tidak puas, Tonaas berkata kepada hambanya. ‘’Mari kita bersumpah, pergi ke sungai dan bertahan bersembunyi di dalam air (tamilalem). JIka kau pertama kali keluar, maka kau benar-benar pencuri. Dan, jika saya lebih dulu keluar, maka kau tentu tidak mencuri.’’

Tapi, ia kemudian melanjutkan kalimatnya, ’’Sebagai pengganti saya, di sini saya akan masukkan tombak (rurukan) ke dalam air.’’

Hal itu segera dilakukannya. Tonaas memegang tombak di satu ujung, sementara yang lain sudah di dalam air.

Budak itu menjawab: ‘’Tuan, bagaimana saya bisa bertahan dengan tombak di dalam air ? Itu tidak mungkin, karena meski pun tombak itu tetap ada seratus tahun di dalam air, dia akan tetap di sana, kecuali seseorang menariknya.’’

Tetapi pemburu itu mendesaknya untuk tetap melakukan syaratnya, dan sang budak mengikutnya sebagai seorang hamba yang taat.

Maka, pada hitungan ketiga, manusia dan tombak telah berada di dalam air.

Tiba-tiba, pemburu melihat seekor babi hutan (songkei) yang besar. Cepat dia mengambil tombaknya dari air dan memburu binatang itu. Tidak jauh dari situ babi tersebut tertikam olehnya.

Budak tersebut keluar dari air. Ikut tuannya dan berteriak: ‘’Tuan, tombakmu keluar dari air lebih cepat dari saya,’’

Sang budak membantunya menyembelih babi hutan. Tapi, tanpa henti dia terus berkata, ‘’Bagaimana sekarang, tuan. Tombakmu keluar dari air lebih cepat dari saya.’’

Pemburu itu diam sejenak, kemudian mulai tersenyum dan berkata, ‘’Itu benar. Kamu tidak bersalah. Engkau adalah pelayan yang jujur.’’

Ketulusan budak itu mengantarnya menjadi manusia bebas di masa berikut.

Dikatakan orang-orang Rurukan, menurut Jan Bodde, setelah kejadian itu, si pemburu memutuskan bahwa sungai tempat terjadinya peristiwa itu, untuk selanjutnya dinamai sungai Rurukan.

 

MAKALEN

Tulisan kedua terbit hampir 7 tahun setelah tulisan Jan Bodde. Penulisnya hanya menginisialkan namanya sebagai A, dan tulisan berjudul  ‘’De waterproof’’ (Uji atau tes air) darinya dimuat harian Java Bode di Batavia (Jakarta) tanggal 26 April 1890. 

Kalau dihitung dari sekarang berarti kisah Rurukan ini berusia lebih 119 tahun.

Penulis memberi pengantar bahwa di antara orang Kristen, tapi terutama di kalangan orang kafir (heidenen) masa itu masih ada kebiasaan lama, yakni semacam tes air untuk mengungkap kebenaran dalam kasus yang meragukan. Kisah ini, menurutnya merupakan asal-usul dari kebiasaan tersebut.

Alkisah, ada seorang pria tua bernama Makalen. Tempat tinggalnya tidak diketahui. Makalen ini memiliki sejumlah burung elang dan budak yang menemaninya ketika dia dengan senjata tombaknya pergi ke hutan dari waktu ke waktu untuk berburu. Di tengah hutan, di tepi sebuah sungai ia biasa mendirikan sabuah kecil (terung) untuk tempat berteduh selama musim berburu.

Suatu hari, ketika berada di terungnya Makalen memerintahkan budaknya menyiapkan makanan untuk persiapan berburu. Sementara di terung itu, ia menuduh budaknya mencuri pinang dari saku (sompoi) pakaiannya.

Bahkan, Makalen yang sedang bersuasana hati buruk menambah tuduhannya kalau sang budak telah mengambil pula sebagian daging santapannya.

Budak itu berkata: ‘’Tuanku tahu bahwa aku telah melayanimu dengan setia selama bertahun-tahun dan tidak pernah mencuri sedikit pun, bahkan sepotong pinang atau sepotong daging. Mengapa tuanku berbicara demikian kepada hambanya?’’

Makalen merasa bahwa budak itu mengatakan yang sebenarnya, tetapi dia tidak ingin kehilangan muka oleh seorang budak. Karena itu ia menjawab dengan cara kasar, ‘’Diam. Kita akan menyelam bersama. Ketika tombak diangkat pertama, kebohonganmu akan terungkap.’’

‘’Bagus, tuan, aku akan memenuhi perintahmu,’’ jawab budak itu.

Keduanya kemudian melompat dengan tombak masing-masing ke sungai, menyelam dalam air.

Tiba-tiba Makalen melihat babi hutan, dan dia dengan cepat mengangkat tombaknya untuk membunuhnya. Tapi, ketika dia melihat dengan baik, dia menyadari bahwa babi tersebut hanya khayalannya.

Budak itu mengangkat kepalanya dan bertanya apa yang sedang terjadi. 

Makalen memberitahunya tentang kesalahannya, tetapi menambahkan bahwa mereka akan mengulangi tes sekali lagi. Tetapi kali ini tanpa tombak. Hanya dengan sekedar memegang jempol kaki di bawah air.

Mereka hanya melakukan ini untuk waktu yang singkat ketika Makalen dengan jerit kesakitan menarik kakinya keluar dari air. Seekor udang besar menggigitnya di jempol kaki.

Terhadap pertanyaan budak mengapa dia menarik kakinya, dia menjawab: ‘’Budak, yang menang kau. Saya salah. Mulai saat ini, mari kita serahkan perkara begini kepada para dewa yang pasti akan menunjuk siapa yang berbicara benar atau berbohong. Jika ada orang lain yang menuduhmu salah dan tidak ada saksi yang bisa mengungkap kebenaran, untuk mengetahui kebenaran harus menyelam bersama di dalam air dengan cara sama seperti yang baru kita lakukan. Jadi, para dewa akan menunjukkan siapa pembohong.’’

Maka, dari kejadian tersebut, menyelam dalam keadaan untuk mengetes kejujuran menjadi populer di Minahasa.

Sungai tempat Makalen dan budaknya memakai nama Rurukan, dan di tempat terungnya berdiri sekarang adalah negeri dengan nama yang sama.

Pendeta Nicolaas Philip Wilken sendiri menyebut tokoh dalam kisah Makalen ini bernama Makalew.

PANGKEY POSUMAH

Hampir sama dengan kejadian yang dituturkan penduduk Rurukan kepada Pendeta Jan Bodde tahun 1883 dan kepada penulis A tahun 1890, adalah kisah ketiga yang saya dengar di awal tahun 1980-an. 

Namun tokoh tonaasnya bernama Pangkey Posumah dari Talete Tomohon.




------------
  • [1]. Menurut Wallace berdiri tahun 1849. Tapi ada pula berpendapat berdiri tahun 1850.

Sumber lukisan: koleksi Het Geheugen van Nederland.
Sumber tulisan: buku ‘’Riwayatmu Tomohon’’ 1986, buku ‘’Tomohon Kotaku’’ 2006, naskah ‘’Tomohon Dulu dan Kini’’, serta Delpher Kranten.